Oleh: Caca, Tenaga Ahli Anggota DPD RI
KABARPAS.COM – LEBARAN selalu identik dengan berbagai hal baru: pakaian baru, hidangan khas, tradisi mudik, serta kebersamaan dengan keluarga dan kerabat. Namun, di balik semarak perayaan ini, ada nilai yang lebih mendalam dan penting untuk terus dipupuk, yaitu sikap toleransi dalam kehidupan bermasyarakat.
Sebagai negara yang kaya akan keberagaman suku, agama, dan budaya, Indonesia menjadikan Lebaran bukan hanya perayaan umat Islam, tetapi juga momentum kebersamaan bagi seluruh masyarakat. Kita sering melihat bagaimana teman-teman non-Muslim turut berbagi kebahagiaan dengan mengucapkan selamat Idulfitri atau bahkan ikut serta dalam tradisi halal bihalal. Hal ini menunjukkan bahwa Lebaran bukan sekadar ritual keagamaan, melainkan juga sarana memperkuat harmoni sosial.
Tahun ini, perayaan Lebaran yang berdekatan dengan Hari Raya Nyepi menjadi contoh nyata bagaimana toleransi dapat diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari. Di Bali, misalnya, umat Muslim yang merayakan Idulfitri tetap menghormati tradisi Nyepi dengan menjaga ketenangan dan tidak mengganggu umat Hindu dalam menjalankan ibadah mereka. Sebaliknya, umat Hindu juga menunjukkan sikap saling menghargai dengan memberikan ruang bagi umat Islam untuk melaksanakan ibadah dan tradisi Lebaran. Momen ini menjadi bukti bahwa perbedaan keyakinan tidak menghalangi rasa persaudaraan dan saling menghormati.
Sebagai seseorang yang pernah menyaksikan berbagai bentuk keberagaman dalam masyarakat, saya meyakini bahwa toleransi bukan sekadar slogan, tetapi harus menjadi bagian dari praktik sehari-hari. Momentum Lebaran mengajarkan kita bahwa kebersamaan tidak hanya dibangun dalam lingkup keluarga, tetapi juga dalam interaksi sosial yang lebih luas. Kita tidak perlu menunggu momen-momen besar untuk menumbuhkan sikap saling menghormati dan menghargai, karena toleransi seharusnya menjadi nilai yang terus kita bawa dalam kehidupan bermasyarakat.
Toleransi dalam konteks Lebaran juga tidak hanya terbatas pada hubungan antaragama, tetapi mencakup sikap saling menghargai dalam keberagaman pemikiran dan latar belakang sosial. Di era digital yang penuh dengan perbedaan pendapat, Lebaran seharusnya menjadi waktu untuk merajut kembali kebersamaan dan mengedepankan sikap saling memaafkan.
Selain itu, semangat berbagi yang selalu hadir saat Lebaran juga merupakan wujud nyata dari toleransi sosial. Tradisi berbagi dengan sesama, seperti memberikan zakat, sedekah, atau membantu tetangga yang kurang mampu, adalah bentuk kepedulian terhadap sesama tanpa memandang latar belakang mereka. Ini membuktikan bahwa semangat Lebaran mengajarkan kita untuk saling menopang dan tidak hanya fokus pada kebahagiaan pribadi.
Di tengah tantangan sosial yang terus berkembang, momentum Lebaran menjadi pengingat bahwa perbedaan bukan alasan untuk terpecah belah, melainkan kekuatan dalam membangun bangsa yang harmonis.
Selamat Hari Raya Idulfitri. Mari kita jaga semangat kebersamaan dan toleransi demi Indonesia yang lebih damai dan harmonis. (***).