Menu ✖

Mode Gelap
Wujudkan Mimpi Pebasket Muda Jatim, MPM Honda Jatim Gelar Honda DBL 2023 East Java Series Dukungan Mas Dion Maju Cabup Pasuruan 2024 Kian Masif

Peristiwa · 25 Sep 2026

Menara Air Pasar Tanjung, Saksi Krisis Air yang Kini Jadi Cagar Budaya Jember


Menara Air Pasar Tanjung, Saksi Krisis Air yang Kini Jadi Cagar Budaya Jember Perbesar

Jember, Kabarpas.com – Menara Air Pasar Tanjung tak banyak berubah. Ia masih berdiri di Kelurahan Jember Kidul, Kecamatan Kaliwates, seperti menyimpan cerita yang tak selesai diceritakan.

 

Hampir seabad lalu, menara itu dibangun bukan sekadar untuk menjadi penanda kawasan. Ia lahir dari persoalan yang cukup sederhana, tetapi penting: air.

 

Kini, bangunan peninggalan era kolonial Belanda itu resmi menjadi bagian dari Cagar Budaya Kabupaten Jember. Pemerintah Kabupaten Jember menetapkannya melalui Surat Keputusan Bupati Jember Nomor 100.3.3.2/403/1.12/2026 tentang Penetapan Cagar Budaya Kabupaten Jember, yang ditandatangani pada 3 September 2026.

 

Menara Air Pasar Tanjung menjadi satu dari lima objek bersejarah yang memperoleh status tersebut.

 

Bagi Jember, menara ini bukan sekadar bangunan lama yang kebetulan masih bertahan. Ia adalah bagian dari cerita tentang bagaimana sebuah kota tumbuh.

 

Menara Air Pasar Tanjung mulai dibangun pada 1930 dan selesai setahun kemudian.

 

Pada masa itu, kawasan Telengsarie (kini bernama Talangsari) menghadapi persoalan ketersediaan air. Kawasan tersebut menjadi salah satu tempat bermukim masyarakat Eropa dan Tionghoa di Jember.

 

Gagasan membangun menara air bahkan sudah muncul sebelum pembangunannya dimulai.

 

Surat kabar De Indische Courant edisi 17 September 1929 pernah memberitakan gagasan pembangunan menara air yang disampaikan Van Der Elst, seorang warga Eropa di Jember.

 

Beberapa bulan kemudian, Soerabaiasch Handelsblad edisi 7 April 1930 memberitakan persoalan krisis air di wilayah tersebut.

 

Dari persoalan itulah sebuah bangunan kemudian lahir.

 

Menara tersebut menjadi bagian dari sistem penyediaan air bagi kawasan yang sedang berkembang. Pada saat yang sama, keberadaannya berkelindan dengan Pasar Tanjung yang telah menjadi salah satu pusat perdagangan dan aktivitas masyarakat Jember.

 

Maka, menara air dan pasar tidak hanya berdekatan secara geografis. Keduanya menjadi bagian dari lanskap kota yang tumbuh pada zamannya.

 

Waktu kemudian berjalan jauh meninggalkan masa ketika menara itu dibangun.

 

Jember berubah. Jalan-jalan berkembang, pusat aktivitas bergeser, bangunan baru bermunculan. Tetapi Menara Air Pasar Tanjung tetap berada di tempatnya.

 

Usianya yang panjang membuat bangunan itu menyimpan lebih dari sekadar konstruksi fisik.

 

Ia menyimpan cerita tentang kebutuhan dasar sebuah kota, tentang perkembangan perdagangan, tentang masyarakat yang pernah tinggal di sekitarnya, dan tentang bagaimana Jember mulai membentuk wajah perkotaannya.

 

Karena itu, penetapan sebagai cagar budaya membuat cara pandang terhadap menara tersebut ikut berubah.

 

Ia bukan lagi semata-mata bangunan tua yang kebetulan masih berdiri. Ada nilai sejarah yang melekat dan perlu dilindungi.

 

Kepala Dinas Kepemudaan dan Olahraga, Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Jember, Regar Jeane Dealen Nangka mengatakan penetapan tersebut menjadi bagian dari upaya memastikan warisan sejarah Jember tetap dikenali generasi berikutnya.

 

“Penetapan Menara Air Pasar Tanjung sebagai Cagar Budaya merupakan langkah penting untuk memastikan warisan sejarah ini tetap terlindungi dan dapat dikenali oleh generasi sekarang maupun generasi yang akan datang,” ucapnya, Jumat (25/9/2026).

 

Kata Regar, masyarakat perlu melihat menara tersebut lebih dari sekadar bangunan lama.

 

“Kita ingin masyarakat tidak hanya melihatnya sebagai bangunan lama, tetapi memahami cerita, nilai, dan perjalanan sejarah yang melekat di dalamnya,” kata dia.

 

Ada bangunan yang bertahan karena memang terus digunakan. Ada pula yang bertahan karena memiliki cerita.

 

Menara Air Pasar Tanjung termasuk yang kedua.

Bangunan itu telah melewati pergantian zaman, dari masa kolonial hingga Jember menjadi daerah otonom dengan wajah perkotaan seperti sekarang.

Kini, status cagar budaya memberi dasar pelindungan yang lebih kuat terhadap keberadaannya. (dan/ian).

Artikel ini telah dibaca 1 kali

Baca Lainnya

Lima Objek di Jember Ditetapkan sebagai Cagar Budaya, Pelestarian Jadi Tantangan

25 September 2026 - 20:28

SMPN 10 Jember Resmi Jadi Bangunan Cagar Budaya

25 September 2026 - 20:26

Pedagang Pasar Tanjung Jember Berdamai di Pendopo, Skema Usulan Gus Fawait Disetujui

22 September 2026 - 16:52

POCARI SWEAT Run Bandung 2026: Birukan Bandung di Hari Jadi ke-216

20 September 2026 - 13:52

Dua Wakil Pasuruan Raih Jamsostek Award 2026 Tingkat Jawa Timur

17 September 2026 - 16:21

Podcast JAWARA Kabarpas bersama Adinda Denisa Kupas Tuntas Regulasi dan Strategi Pemda Dorong UMKM Naik Kelas

16 September 2026 - 09:04

Trending di Peristiwa