Jember, Kabarpas.com – Program Bupati Ngantor di Desa/Kelurahan atau Bunga Desaku kembali dijadwalkan bergulir setelah sempat terhenti. Selain menjadi ruang bagi warga untuk menyampaikan aspirasi secara langsung, kegiatan ini juga diarahkan untuk mendekatkan pelayanan pemerintah sekaligus membantu pengendalian inflasi.
Program yang mempertemukan Bupati Jember Muhammad Fawait dengan masyarakat tersebut dijadwalkan dimulai di Kecamatan Umbulsari pada 31 Oktober 2026. Sejumlah kecamatan lain juga masuk dalam agenda kunjungan, termasuk Sumbersari.
Camat Sumbersari Deni Hadiatullah menilai Bunga Desaku bukan sekadar forum sosialisasi pemerintahan. Menurut dia, kegiatan tersebut membuka kesempatan bagi masyarakat untuk menyampaikan persoalan yang mereka hadapi tanpa harus bergantung pada saluran komunikasi digital.
“Ini murni bagian dari aspirasi dan keinginan besar Gus Bupati untuk lebih dekat dengan masyarakat,” ungkapnya.
Dia juga menepis anggapan bahwa kegiatan sosialisasi dan serap aspirasi di sejumlah kecamatan merupakan kampanye terselubung. Deni menegaskan, kegiatan tersebut merupakan bagian dari upaya mempertemukan pemerintah daerah dengan masyarakat secara langsung.
Salah satu hal yang disorot Deni ialah rencana penyediaan 5.000 paket sembako untuk kegiatan di Kecamatan Sumbersari. Jumlah tersebut sama dengan paket yang direncanakan untuk kegiatan serupa di Kecamatan Umbulsari.
Berdasarkan informasi pengadaan melalui e-purchasing untuk kegiatan di Umbulsari, anggaran yang dicantumkan mencapai Rp 1,25 miliar untuk 5.000 paket sembako.
Setiap paket disebut menggunakan tas berbahan spunbond yang dilengkapi identitas visual program Home Care dan Wadul Gus’e, foto bupati, serta slogan “Jember Baru Jember Maju”.
Besarnya jumlah paket sembako itu menjadi salah satu hal yang dibandingkan Deni dengan kegiatan pasar murah maupun operasi pasar yang biasanya menyediakan paket dalam jumlah lebih terbatas.
“Kalau pasar murah hanya 100 sampai 200 paket, operasi pasar pun kisaran 150 sampai 200 paket. Ini 5.000 paket,” ujarnya.
Deni mengaitkan penyediaan sembako tersebut dengan upaya pengendalian inflasi. Namun, ia juga menekankan bahwa manfaat Bunga Desaku tidak berhenti pada pembagian bantuan kepada masyarakat.
Dalam kegiatan itu, warga direncanakan dapat mengakses berbagai layanan pemerintah, mulai dari administrasi kependudukan hingga pelayanan kesehatan. Pertemuan langsung juga diharapkan membantu pemerintah memahami kebutuhan warga yang selama ini belum tersampaikan.
Menurut Deni, pendekatan tatap muka masih relevan karena tidak semua masyarakat memiliki telepon seluler atau aktif menggunakan media sosial. Melalui pertemuan langsung, pemerintah dapat mendengar keluhan sekaligus memperoleh gambaran yang lebih utuh mengenai persoalan di tingkat masyarakat.
Adapun pemberian sembako disebut sebagai bentuk tali asih bagi warga yang hadir. Deni menilai, kehadiran masyarakat dalam kegiatan pemerintah juga perlu dihargai, bukan sekadar dipandang sebagai partisipasi dalam agenda sosialisasi.
“Bagi kami, tidaklah mungkin hanya sebatas mengundang atau menghadirkan masyarakat tanpa adanya tali asih. Meskipun jangan dilihat dari nilai yang diberikan, tetapi dari sisi take and give, dalam arti nilai dengan bingkaian saling menghargai,” jelasnya.
Di tingkat kecamatan, Deni mengatakan, camat berperan menjembatani komunikasi antara kepala daerah dan masyarakat. Dengan begitu, aspirasi yang muncul dalam pertemuan tidak berhenti sebagai keluhan, tetapi dapat diteruskan kepada pemerintah daerah untuk ditindaklanjuti.
“Kami sebagai camat menjadi katalisator atau penyambung untuk merekatkan hubungan Gus Bupati dengan masyarakat,” tandasnya. (dan/ian).

















