Reporter : Ajo
Editor : Agus Harianto
___________________________________
Pasuruan (Kabarpas.com) – Untuk mewujudkan Pembangunan Pasuruan yang berkelanjutan, berbagai elemen masyarakat menyepakati bahwa Daerah Aliran Sungai (DAS) Rejoso membutuhkan pengelolaan secara terpadu. Hal tersebut mengemuka dalam pertemuan para pihak yang digelar oleh Yayasan Social Investment Indonesia (SII) di Hotel Dalwa Syariah Pasuruan.
Hadir dalam acara tersebut Asisten II Bidang Perekonomian dan Pembangunan Kabupaten Pasuruan, HM Soeharto, SH., MSi mendampingi Kepala Dinas Penanaman Modal & PTSP Provinsi Jawa Timur Ir. Lili Soleh Wartadipraja, MM. Selain dari OPD Pemkab Pasuruan dan Provinsi, penggiat lingkungan, sektor swasta, Universitas Brawijaya dan Universitas Gajah Mada juga turut dalam diskusi yang melibatkan para kepala Desa dan Camat di DAS Rejoso.
Pertemuan ini digelar untuk menyebarluaskan Gerakan RejosoKita ke beragam pemangku kepentingan khususnya di Pasuruan.
Ir. Kadarisman M.Eng dari Collaborative Knowledge Network (CK-Net) Indonesia sebagai pembicara pertama memaparkan fakta dan data bahwa pengeboran sejumlah lebih dari 600 sumur artesis yang dilakukan masyarakat di DAS Rejoso telah menjadi ancaman yang nyata saat ini.
Data menunjukkan bahwa dalam kurun waktu 26 tahun, terhitung sejak 1990 sampai 2016, telah terjadi penurunan debit Mata Air Umbulan, dari sekitar 6000 liter/detik menjadi sekitar 3600 liter/detik. Sementara itu, peneliti dari Universitas Gadjah Mada, M. Haris Miftakhul Fajar, M.Eng, menegaskan bahwa dalam siklus air, secara kuantitas tetap sama, namun yang perlu diperhatikan adalah kualitasnya yang harus dijaga.
“Kami telah memasang alat dan sensor di beberapa titik sebagai bekal dasar guna menganalisa bagaimana karakteristik air di DAS Rejoso”, ujar Haris.
Dilanjutkan dengan pembicara dari Universitas Brawijaya, Prof. Kurniatun Hairiah dan Ir. Didik Suprayogo, M.Sc, Ph.D, menyampaikan bahwa pentingnya menjaga tutupan lahan dan meningkatkan tingkat presipitasi air ke dalam tanah dengan menjaga kelestarian organisme dan mikroorganisme dalam tanah.
Berikutnya narasumber dari World Agroforestry Centre (ICRAF) memaparkan bagaimana ragam kegiatan pertanian dan perkebunan yang sesuai dengan karakteristik kawasan setempat dapat membantu kelestarian DAS Rejoso. Termasuk kemungkinan untuk menerapkan Skema Pembayaran Jasa Lingkungan (PJL) dalam upaya pelestarian DAS Rejoso.
Fungsi strategis dari DAS Rejoso terus mengalami penurunan. Hal ini tercermin dari meningkatnya intensitas banjir, erosi, dan tanah longsor pada beberapa tahun terakhir ini. Beragam faktor ditengarai menjadi penyebab, diantaranya aktivitas pertanian dan pertambangan yang tidak ramah lingkungan serta bertambahnya jumlah sumur artesis yang tidak terkendali. Padahal jika dikelola secara berkelanjutan, DAS Rejoso dapat memberikan manfaat yang besar tidak hanya bagi masyarakat setempat tetapi bagi masyarakat Jawa Timur secara umum.
Gerakan RejosoKita mengajak seluruh pihak untuk terlibat dan senantiasa berupaya mencari solusi terbaik dalam melestarikan DAS Rejoso.
“Gerakan RejosoKita tidak akan menjadi penghambat proyek strategis nasional yang ada di Jawa Timur. Gerakan ini justru merupakan sebuah kolaborasi dengan pemerintah/pemangku kepentingan untuk pemanfaatan dan pengelolaan lingkungan yang berkelanjutan,” ungkap Lili yang hadir dalam kegiatan tersebut.
DAS Rejoso yang merupakan bagian dari DAS Welang-Rejoso memiliki fungsi yang strategis bagi masyarakat khususnya yang tinggal di 16 kecamatan, baik di bagian hulu, tengah, dan hilir.
“Pengelolaan sumberdaya alam, khususnya sumberdaya air, merupakan tanggung jawab bersama. Kompleksnya tantangan yang dihadapi dan terlibatnya banyak pihak disini, mengukuhkan bahwa sumberdaya alam ini adalah tanggung jawab bersama. Dan kita harus mengelolanya secara bijak untuk masa depan, ” tutup Lili.
Untuk sekadar diketahui, RejosoKita merupakan Kolaborasi strategis antara pemangku kepentingan untuk pengelolaan DAS Rejoso secara berkelanjutan yang dipelopori oleh Yayasan Social Investment Indonesia (SII), The World Agroforestry Centre (ICRAF), Collaborative Knowledge Network (CK-Net), The Nature Conservancy (TNC) dan pemangku kepentingan terkait lainnya berupaya menerapkan pendekatan pengembangan yang cerdas untuk menciptakan pengelolaan sumber daya air terpadu.
Dengan menggabungkan keahlian dan pengalaman yang dimiliki setiap pemangku kepentingan, kerjasama ini diharapkan dapat membantu merumuskan rencana, strategi, dan rekomendasi untuk menerapkan pengelolaan sumber daya air dan pemanfaatan air yang berkelanjutan yang menguntungkan manusia, alam, dan kegiatan usaha.
Kolaborasi ini mendukung RejosoKita sebagai sebuah gerakan yang dikembangkan untuk meningkatkan kesadaran akan pentingnya pengelolaan sumber daya air di Rejoso bagi masyarakat di Pasuruan, Gresik, dan Surabaya. (ajo/gus).

















