Oleh: Abdurrohman Wahid,
Kader Muda NU
KABARPAS.COM – ADA sosok yang ketika berbicara, tidak perlu meninggikan suara untuk membuat orang lain mendengarkan. Tidak perlu banyak gestur untuk tampak berpengaruh. Tidak pula harus membanjiri percakapan dengan istilah-istilah besar agar terlihat cerdas. Namun dari ketenangan cara bicaranya, dari kejernihan kalimat-kalimatnya, kita bisa merasakan bahwa ada kedalaman pikiran yang bekerja jauh di balik tutur katanya.
Bagi saya, Gus Hery Haryanto Azumi adalah salah satu sosok semacam itu.
Ia hadir sebagai intelektual muda Nahdlatul Ulama yang tidak hanya kuat dalam tradisi, tetapi juga lentur membaca perubahan zaman. Cara berpikirnya tajam, namun tidak kering.
Gagasannya luas, namun tidak tercerabut dari akar pesantren. Ia mampu berbicara tentang NU, pesantren, bangsa, geopolitik, ekonomi global, hingga arah peradaban dunia dengan satu nada yang khas: tenang, teduh, dan tidak menggurui.
Dalam beberapa perjumpaan dengannya, saya merasakan satu hal yang cukup jarang ditemukan hari ini: keluasan wawasan yang disertai kerendahan hati. Banyak orang memiliki pengetahuan, tetapi kehilangan adab dalam menyampaikannya. Banyak orang memiliki jaringan, tetapi menjadikannya alat untuk meninggikan diri. Gus Hery justru berbeda. Ia memiliki daya pikir yang kuat, jejaring yang luas, namun tetap menjaga sikap sebagai seorang santri.
Itulah yang membuat percakapan dengannya selalu meninggalkan kesan. Ia tidak hanya bicara tentang keadaan hari ini, tetapi seolah sedang membaca peta panjang masa depan. Baginya, NU tidak cukup hanya menjadi penjaga tradisi. NU harus naik kelas menjadi kekuatan moral, intelektual, dan peradaban yang mampu berbicara di tingkat dunia.
Gagasan itu tentu bukan gagasan kecil. Namun dari Gus Hery, gagasan besar tersebut tidak terdengar sebagai ambisi personal. Ia lebih terasa sebagai kegelisahan seorang santri yang mencintai umatnya, bangsanya, dan peradaban manusia secara lebih luas. Ada keresahan yang jernih di sana: bahwa dunia modern semakin maju secara teknologi, tetapi sering kali kehilangan arah secara moral.
Di tengah zaman yang dipenuhi kecerdasan buatan, kecepatan informasi, dan kompetisi global, manusia justru sering kehilangan keheningan batin. Hubungan sosial semakin ramai, tetapi kedalaman makna semakin menipis. Dalam konteks itulah, Gus Hery melihat pesantren bukan sekadar warisan masa lalu, melainkan sumber etika masa depan.
Pesantren, dalam pandangannya, bukan hanya tempat mengaji kitab. Ia adalah ruang pembentukan adab, kesederhanaan, kesabaran, dan kebijaksanaan. Dari pesantren, dunia bisa belajar kembali tentang keseimbangan antara ilmu dan akhlak, antara kemajuan dan nurani, antara kecerdasan dan kemanusiaan.
Kekuatan Gus Hery terletak pada kemampuannya menjembatani banyak dunia. Ia bisa diterima di ruang aktivis, dihormati di kalangan santri, dipahami oleh intelektual, dan tetap cair dalam jejaring lintas sektor. Ia menembus lintas jejaring bukan dengan kegaduhan, melainkan dengan kepercayaan. Bukan dengan tekanan, melainkan dengan keteduhan.
Inilah kualitas yang menurut saya penting dalam kepemimpinan NU ke depan. NU membutuhkan sosok-sosok yang tidak hanya paham organisasi, tetapi juga mampu membaca zaman. Tidak hanya pandai merawat tradisi, tetapi juga berani membawa tradisi itu berdialog dengan masa depan. Tidak hanya fasih bicara tentang umat, tetapi juga memiliki kejernihan batin untuk menempatkan umat sebagai pusat perjuangan, bukan sekadar panggung politik.
Gus Hery memperlihatkan bahwa intelektualitas santri tidak harus kaku. Bahwa tradisi pesantren tidak bertentangan dengan wawasan global. Bahwa menjadi bagian dari NU tidak berarti berhenti pada romantisme sejarah, melainkan harus bergerak menjadi subjek perubahan.
Pada dirinya, saya melihat perpaduan yang menarik: keteguhan akar dan keluasan cakrawala. Ia tetap santri, tetapi pikirannya melampaui batas-batas sempit identitas. Ia teduh, tetapi tidak lemah. Ia rendah hati, tetapi tidak kehilangan keberanian untuk menyampaikan gagasan besar.
NU kini memasuki abad kedua. Tantangannya semakin kompleks. Pertarungan tidak lagi hanya berlangsung di ruang politik formal, tetapi juga di medan ekonomi, budaya, teknologi, algoritma, dan narasi global. Karena itu, NU membutuhkan kader-kader yang mampu berpikir jauh, bergerak halus, dan menjaga ruh perjuangan tetap menyala.
Dalam konteks itulah, kehadiran sosok seperti Gus Hery menjadi penting. Ia mengingatkan kita bahwa masa depan NU tidak cukup dibangun dengan suara keras. Masa depan NU membutuhkan pikiran yang dalam, hati yang jernih, jejaring yang luas, dan laku yang tetap berpijak pada akhlak santri.
Saya percaya, sejarah sering kali tidak bergerak dari orang-orang yang paling gaduh. Kadang ia bergerak dari sosok yang tampak sederhana, berbicara pelan, tetapi pikirannya sedang menyiapkan jalan panjang bagi peradaban.
Dan dalam banyak hal, saya melihat Gus Hery berada di jalur itu: seorang intelektual muda NU yang teduh dalam tutur, tajam dalam pikir, luas dalam jejaring, dan kuat dalam keyakinan bahwa NU harus hadir bukan hanya untuk Indonesia, tetapi juga untuk masa depan peradaban dunia. (***).

















