Reporter : Izul
Editor : Agus Hariyanto
___________________________________
Pasuruan (Kabarpas.com) – Era sosial media dengan derasnya informasi yang membanjiri masyarakat mensyaratkan kecerdasan dan kekritisan dalam menerima setiap berita yang beredar.
Isu tentang mata uang rupiah baru yang dikeluarkan pemerintah di penghujung tahun 2016 di sosial media telah diframing oleh sekelompok orang untuk tujuan agar masyarakat tidak percaya kepada mata uang baru yang diterbitkan Bank Indonesia.
Berangkat dari keprihatinan tersebut, Senin (18/09/2017) bertempat di Hallroom Hotel Transit Kota Pasuruan, Pengurus Cabang Muslimat NU Kota Pasuruan menggelar Sarasehan bertajuk “Sosialisasi Mata Uang Baru Rupiah Emisi 2016: Cinta Rupiah-Cinta Indonesia”.
Acara dihadiri oleh 260 peserta yang terdiri dari Pimpinan Ranting, Anak Cabang Dan Pengurus Cabang Muslimat NU Kota Pasuruan dengan dibuka secara Langsung oleh Bapak Walikota Pasuruan Drs. H. Setyono, M. Si.
Dalam sambutannya, ketua PC Muslimat NU Kota Pasuruan Hj. Shofiyah Kusaeri menyampaikan bahwa dalam prakteknya dilapangan masih banyak masyarakat yang belum sepenuhnya mengerti tentang mata uang baru rupiah emisi 2016. Terlebih isu di sosial media yang merambah masyarakat membuat banyak pihak bertanya kepada Muslimat tentang bagaimana uang rupiah baru ini.
“Perlu sosialisasi kepada masyarakat tentang desain baru rupiah ini serta pelurusan atas isu-isu tidak benar yang meresahkan masyarakat,” imbuh Bu Shof ketua Muslimat yang masih semangat di usia 72 tahun tersebut.
Dalam sarasehan tersebut hadir Narasumber Anggota Komisi XI DPR RI H.M. Misbakhun yang menyampaikan tentang peran vital Muslimat NU sebagai Katalisator atas isu-isu hoax tentang rupiah yang meresahkan masyarakat.
“Muslimat memiliki peran penting dalam memberikan informasi yang benar kepada masyarakat, karena isu tentang rupiah yang katanya berlogo palu arit atau mirip uang china adalah isu yang didesain untuk melemahkan rupiah dan pemerintah, terlebih dalam mata uang emisi baru tersebut juga ada Tokoh NU Al Maghfurlah KH. Idham Kholid,” ucap politisi Nahdliyin kelahiran Kota Pasuruan tersebut.
Sementara itu acara sarasehan ini juga dihadiri oleh Kepala BI Provinsi Jawa Timur Difi Johansyah dan Kepala BI Malang Dudi Herawadi. Dalam materinya Dudi Herawadi menyampaikan tentang bagaimana mengenali mata uang rupiah emisi terbaru dan sejumlah program pengembangan UKM yang dilaksanakan oleh Bank Indonesia.
“Muslimat harus bisa membedakan mana rupiah asli dan mana yang palsu, karena kerawanan akan peredaran uang palsu di jawa timur cukup tinggi” ucap Dudi panggilan akrabnya.
Acara ditutup dengan kuis berhadiah dari Bank Indonesia dengan hadiah souvenir termasuk hadiah utama senilai Satu Juta Lima Ratus ribu Rupiah yang dimenangkan oleh Bu Afifah dari Ranting Bukwedi Kota Pasuruan. (zul/gus).

















