Malang, Kabarpas.com – Tim dosen dan mahasiswa Universitas Negeri Malang (UM) menggagas program pemberdayaan masyarakat bertajuk Marine Circular Innovation untuk membantu Kelompok Pengolahan dan Pemasaran Hasil Perikanan (Poklahsar) Mina Sentosa di Desa Patuguran, Kecamatan Rejoso, Kabupaten Pasuruan, bangkit dari penurunan omzet penjualan produk olahan laut. Dalam enam tahun terakhir, omzet Poklahsar tercatat mengalami penurunan hingga lebih dari 50%, mulai sekitar Rp21,7 juta pada 2019 menjadi Rp9,3 juta pada 2025, seiring lesunya kunjungan wisata mangrove sejak pandemi COVID-19.
Tim pengabdian masyarakat UM yang terlibat dalam program ini terdiri dari dosen-dosen berpengalaman, yaitu Alif Faruqi Febri Yanto, Dudung Ma’ruf Nuris, dan Lulu Nurul Istianti, serta mahasiswa Bilqis Rizqia Zulfida, Fifi Maulida, Dyah Ayu Pramesti, dan Mohammad Nazril Ilham. Selama proses pendampingan, tim menemukan bahwa Poklahsar Mina Sentosa masih mengandalkan penjualan konvensional dengan jangkauan pasar terbatas, pencatatan keuangan usaha yang masih manual dan belum sistematis, serta kemampuan pemasaran digital masyarakat yang perlu diperkuat. Berangkat dari temuan tersebut, tim merancang tiga inovasi sekaligus, yaitu E-MINSA, Blue Expo, dan Patuguran Exploration, yang seluruhnya berpusat pada penguatan blue economy Poklahsar Mina Sentosa.
Inovasi pertama, E-MINSA (E-Mina Sentosa), dikembangkan oleh tim DPPM UM sebagai platform e-commerce sekaligus pencatatan keuangan terpadu. Melalui platform ini, katalog produk, transaksi penjualan, stok, hingga pembukuan dapat dikelola secara digital dan tercatat otomatis, sehingga Poklahsar memiliki data yang terstruktur dan sistematis untuk memantau kinerja usaha real-time dan mengambil keputusan operasional. E-MINSA juga dirancang terintegrasi dengan berbagai marketplace, dengan harapan penjualan Poklahsar Mina Sentosa terus meluas di kancah nasional.
Sumber: Tim Pengabdian
Inovasi kedua, Blue Expo, dirancang tim sebagai program aktivasi ekonomi pesisir yang menggabungkan bazar, live shopping, edukasi kuliner, dan paket wisata terpadu. Kegiatan ini digelar berkala, menyesuaikan siklus panen dan momentum hari besar kelautan serta lingkungan. Melalui Blue Expo, anggota Poklahsar tak sekadar berjualan langsung, tetapi juga belajar praktik pemasaran digital dari membuat konten, menjalankan live shopping, dan lain sebagainya. Konsep wisata dalam Blue Expo juga menghadirkan pengalaman berbeda bagi pengunjung, yang bisa menikmati kawasan mangrove sekaligus mengenal proses pengolahan hasil laut melalui edukasi kuliner terbuka yang dikemas dalam paket-paket wisata yang telah tersedia. Dengan begitu, kunjungan wisata tak hanya jadi ajang rekreasi, tetapi juga ruang edukasi dan promosi produk lokal.
Adapun inovasi ketiga, Patuguran Exploration, hadir sebagai website gerbang digital tunggal yang mengintegrasikan E-MINSA dan Blue Expo dalam satu pintu. Website ini memuat informasi produk laut, agenda promosi dan wisata, paket edukasi, hingga dashboard data aktivitas ekonomi dan ekowisata. Data penjualan dan kunjungan wisata yang terintegrasi melalui platform menjadi dasar untuk menyesuaikan jumlah produksi, mengelola stok, menyusun strategi pemasaran, hingga mengembangkan paket wisata kuliner dan ekowisata mangrove.
Sumber: Tim Pengabdian
Marine Circular Innovation dijalankan tim DPPM UM secara bertahap, berawal dari tahap observasi dan pemetaan kondisi awal, sosialisasi, penerapan teknologi, penguatan literasi digital, pendampingan operasional, evaluasi berkala, hingga penyusunan model bisnis pesisir terintegrasi untuk keberlanjutan program. Sebagai bentuk keberlanjutan, program diarahkan tim melalui penguatan kapasitas pengelola, pelatihan operator baru, penetapan Blue Expo sebagai agenda rutin desa, optimalisasi Patuguran Exploration sebagai pusat data, serta penguatan kemitraan dengan berbagai pemangku kepentingan. Tim pengabdian UM juga menyiapkan modul pelatihan berisi SOP bazar, alur layanan wisata, tata kelola data, dan standar transparansi produksi, agar inovasi ini tetap bisa dijalankan warga secara mandiri setelah periode pengabdian berakhir.
Sumber: Tim Pengabdian
Melalui integrasi E-MINSA, Blue Expo, dan Patuguran Exploration, tim dosen dan mahasiswa DPPM UM berharap agar Desa Patuguran mampu memperkuat kemandirian ekonomi masyarakat pesisir dengan memanfaatkan teknologi digital, sekaligus menjaga keterhubungan antara aktivitas ekonomi dan kelestarian lingkungan mangrove, sebuah langkah menuju model blue economy yang produktif, adaptif, inklusif, dan berkelanjutan. (***).
Kontak:
Untuk informasi lebih lanjut, hubungi Tim Pengabdian Masyarakat Universitas Negeri Malang di email aliffaruqi.feb@um.ac.id.

















