Menu

Mode Gelap
Wujudkan Mimpi Pebasket Muda Jatim, MPM Honda Jatim Gelar Honda DBL 2023 East Java Series Dukungan Mas Dion Maju Cabup Pasuruan 2024 Kian Masif

Kabar Terkini · 28 Agu 2026

Ternyata NU Rame di Luar, Solid di Dalam


Ternyata NU Rame di Luar, Solid di Dalam Perbesar

Oleh: H. Muzammil Syafi’i

 

KABARPAS.COM – SERATUS tahun yang lalu, Hadratussyekh KH Hasyim Asy’ari menulis Muqaddimah Qanun Asasi sebagai fondasi ideologis bagi jam’iyah yang baru lahir bernama Nahdlatul Ulama. Di dalamnya beliau menegaskan pentingnya persatuan (al-ittihad), bahaya perpecahan (al-tafarruq), dan kewajiban umat untuk saling mengenal, berkumpul, dan bersatu padu. Seratus tahun kemudian, tepatnya dalam pembukaan Muktamar ke-35 NU di Pesantren Tambakberas, Jombang, ajaran itu seolah kembali diuji dan sekaligus dibuktikan kebenarannya di hadapan mata.

Pembukaan yang Sarat Makna

Upacara pembukaan Muktamar yang semula dijadwalkan pukul 19.00 dimajukan menjadi pukul 15.00. Sembari menanti kedatangan Presiden, disi dengan penampilan grup nasid dan Simponi pesantren Tambakberas, diikuti tahlil untuk mendoakan para muassis serta seluruh warga jama’ah dan jam’iyyah. Beberapa kiai sepuh menutup rangkaian ini dengan doa, KH Nurul Huda Jazuli, KH Aqil Siroj, KH Ma;ruf Amin sesepuh NU

Kehadiran Presiden Prabowo Subianto disambut dengan tolaal baru Alaina oleh Nasyid Tambakberas Acara resmi dibuka dengan lagu Indonesia Raya, dilanjutkan mars Syubbanul Wathan (Ya Lal-Wathan) — mars gubahan KH A. Wahab Hasbullah, Sohibul bait, KH Hasib Wahab diminta untuk membaca doa namun berkelekar dengan bermain angka 35 sebagai simbol 3+5=8, yang mengisyaratkan Presiden ke-8 Republik Indonesia. Ketua Panitia dan Ketua Umum PBNU dalam sambutannya juga bermain angka yang merupakan kegemaran Presiden Prabowo. semua yang memberikan sambutan selalu menekan arti pentingnya persatuan NU ke depan, Rais Aam menyampaikan khutbah iftitah dalam bahasa Arab yang Panjang dengan banyak mengutip ayat ayat suci alquranul karim dan hadits Nabi memuat banyak nilai dan ajaran Aswaja bagi warga NU.

Presiden Prabowo kemudian tampil berpidato dengan teks tapi tidak dibaca. Ia menyebut, jika Bung Karno mengingatkan “Jas Merah” (jangan melupakan sejarah), maka dirinya menyerukan “Jas Hijau”: jangan melupakan jasa NU. Ia mengingatkan bahwa jauh sebelum kemerdekaan, dari kalangan NU telah lahir Syubbanul Wathan yang menyatukan keimanan dengan kecintaan pada tanah air. “Indonesia tidak akan ada tanpa NU,”

Dinamika di Bawah, Islah di Atas

Namun di balik seremoni yang khidmat itu, dinamika menjelang Muktamar sesungguhnya berlangsung sangat keras. Persaingan antar-kandidat, dengan dukungan akar rumput yang kuat, telah bergeser dari kritik yang wajar menjadi upaya saling menjatuhkan lewat berbagai isu. Pola ini persis seperti yang diperingatkan Kiai Hasyim seabad silam: perpecahan, egoisme golongan, dan sikap saling mendengki hanya akan melemahkan umat dan membuka celah bagi pihak luar untuk memecah belah.

Tetapi NU rupanya memiliki caranya sendiri dalam merawat diri. Pembukaan Muktamar kemarin seakan menepis anggapan bahwa NU akan pecah. Panitia mengumpulkan tokoh-tokoh sentral NU untuk berfoto bersama sembari menyerukan ukhuwah nahdliyah. Ini bukan sekadar seremoni kosong, melainkan bentuk konkret dari islah — mekanisme penyelesaian konflik internal yang telah lama menjadi tradisi NU, dan sejalan dengan pesan Kiai Hasyim tentang tanggung jawab ulama untuk menuntun umat dan meluruskan penyimpangan. Yang menarik, islah ini dilakukan secara preventif, sebelum forum resmi bahkan dimulai, sebagai sinyal bahwa apa pun hasil kompetisi nanti, ukhuwah nahdliyah tidak boleh menjadi korban.

Rame di Luar, Solid di Dalam

Fakta paling telanjang yang membuktikan kelekatan jama’ah dengan jam’iyahnya justru terlihat dari kehadiran fisik warga NU. Aula pembukaan yang menampung sekitar 5.000 undangan penuh sesak, sementara di luar arena tidak kurang dari 50.000 orang hadir hingga menimbulkan kemacetan total selama lima jam. Kerumunan sebesar ini adalah wujud paling nyata dari apa yang disebut Kiai Hasyim sebagai al-ijtima’ (perkumpulan) dan at-ta’alluf (kekompakan) — bukan lagi sekadar konsep dalam kitab, melainkan fenomena sosial yang terukur dan dapat disaksikan langsung.

Di sinilah letak paradoks yang menarik untuk direnungkan: persoalan internal ramai diperbincangkan di media, namun di lapangan, jama’ah tetap solid dan berbondong-bondong hadir. Jika NU benar-benar terancam pecah sebagaimana dikhawatirkan sejumlah pihak, mustahil puluhan ribu orang rela berdesakan dan terjebak macet berjam-jam demi sekadar hadir. Kehadiran massal ini menunjukkan bahwa loyalitas nahdliyin kepada jam’iyah jauh lebih dalam dan tidak mudah tergoyahkan oleh riuhnya kontestasi di tingkat elite.

Kontestasi kepemimpinan pada dasarnya adalah soal siapa yang akan memegang kemudi organisasi, sedangkan kehadiran jama’ah adalah soal ideologi dan identitas — ruh dari jam’iyah itu sendiri. Warga nahdliyin di akar rumput boleh saja memiliki preferensi berbeda soal siapa yang layak memimpin, tetapi hal itu tidak pernah menggoyahkan keyakinan mereka bahwa NU adalah rumah bersama. Inilah barangkali makna paling dalam dari ajaran Kiai Hasyim tentang ruh dan jasad dalam berorganisasi: jasad — struktur, kepengurusan, dan kandidasi — boleh berdinamika dan berkompetisi, tetapi ruh — ukhuwah nahdliyah, kecintaan kepada jam’iyah — tetap utuh, bahkan menguat justru ketika sedang diuji.

Belajar dari Relasi Islam dan Negara

Kehadiran Presiden dalam pembukaan Muktamar, sebagaimana kedekatan NU dan Muhammadiyah dengan pemerintah selama ini, kerap menuai suara kritis dari sebagian kalangan. Namun hal ini sesungguhnya adalah muara wajar dari dinamika relasi Islam dan negara yang senantiasa berubah: mendekat, merapat, renggang, menjauh, bahkan pernah berkonfrontasi. Sulit menentukan pola mana yang paling tepat, karena sikap umat Islam dalam relasi ini tidak pernah tunggal, dan ukuran ketepatannya pun berbeda-beda — apakah demi keuntungan kelompok, kepentingan bangsa secara keseluruhan, keadilan bagi semua warga, atau kecepatan menangani persoalan rakyat.

Yang pasti, keamanan dan ketenteraman adalah syarat penting bagi tercapainya kemakmuran dan kemajuan, dan peran NU bersama Muhammadiyah dalam menjaga hal ini melalui kerja sama dengan pemerintah tidak dapat diingkari. Namun bergandengan tangan tidak berarti menutup mata terhadap hal-hal yang perlu diperbaiki. Itulah makna sesungguhnya dari persahabatan: tolonglah saudaramu, baik ketika ia berbuat zalim maupun ketika ia diperlakukan tidak adil. Ketika ditanya bagaimana menolong orang yang berbuat zalim, Nabi Muhammad menjawab, dengan memegang tangannya agar ia berhenti melakukan kezaliman.

Penutup: Warisan yang Tetap Hidup

Pembukaan Muktamar ke-35 NU di Jombang menjadi cermin yang jernih bagi keseluruhan ajaran Muqaddimah Qanun Asasi. Persatuan yang ditekankan Kiai Hasyim bukanlah keseragaman sikap politik atau padamnya kompetisi internal, melainkan kesatuan tujuan dan ruh yang tetap terjaga di tengah dinamika yang wajar terjadi dalam sebuah organisasi besar. Islah yang dilakukan para sesepuh, serta kehadiran puluhan ribu jama’ah yang rela berdesakan demi hadir, adalah bukti bahwa fondasi yang diletakkan seratus tahun lalu itu masih kokoh berdiri hingga hari ini.

Kepercayaan sebesar ini adalah amanah yang berat bagi siapa pun yang kelak terpilih memimpin NU. Islah yang telah dicontohkan para sesepuh di panggung pembukaan semestinya diteruskan hingga ke akar rumput, karena massa yang datang bukan untuk menyaksikan siapa yang menang dalam kontestasi, melainkan untuk merayakan dan menjaga rumah bersama mereka. Pada akhirnya, benarlah kesan yang muncul dari peristiwa ini: NU boleh saja ramai diperbincangkan di luar, tetapi di dalam, ia tetap solid — sebagaimana ruh persatuan yang diwariskan Hadratussyekh KH Hasyim Asy’ari, yang terus hidup dan teruji dari generasi ke generasi.

Jombang 27 Agustus 2026. (***).

Artikel ini telah dibaca 1 kali

Baca Lainnya

Blogger dan Vlogger Nasional Intip Pendidikan Vokasi Honda di SMK Muhammadiyah 2 Genteng

28 Agustus 2026 - 06:39

Dari Tambak Beras untuk NU dan Indonesia: Para Hafidz Gelar Semaan 30 Juz Selama Muktamar NU ke-35

28 Agustus 2026 - 06:18

Diduga Korsleting Listrik, Rumah Warga di Rejoso Pasuruan Terbakar

27 Agustus 2026 - 20:13

Karhutla Bromo Terbakar Lagi, Polres Probolinggo dan Tim Gabungan Terus Jinakan Api

27 Agustus 2026 - 19:58

Menilik Riezda Indo Dairy, Peternakan Sapi Perah yang Buka Lapangan Kerja di Jember

27 Agustus 2026 - 19:51

SKB Kraksaan Buka Akses Pendidikan Kesetaraan Warga Binaan Rutan Kraksaan

27 Agustus 2026 - 11:04

Trending di Kabar Probolinggo