Menu ✖

Mode Gelap
Wujudkan Mimpi Pebasket Muda Jatim, MPM Honda Jatim Gelar Honda DBL 2023 East Java Series Dukungan Mas Dion Maju Cabup Pasuruan 2024 Kian Masif

Kabar Terkini · 23 Okt 2026

Ini Alasan Mengapa Kamu Sering Lelah dengan Pikiranmu Sendiri


					Ini Alasan Mengapa Kamu Sering Lelah dengan Pikiranmu Sendiri Perbesar

Oleh: Wardah Firdausy Ahla Mahasiswa Universitas Negeri Surabaya Fakultas Psikologi Semester 1.

____________________________________________

KABARPAS.COM – PERNAH nggak kamu rebahan di kasur setelah seharian kuliah, badan nggak ngapa-ngapain, tapi kepala rasanya capek banget? Pikiranmu memutar ulang kejadian memalukan waktu SMA. Atau kalimat guru yang dulu pernah meremehkanmu tiba-tiba muncul lagi. Padahal kejadiannya sudah bertahun-tahun lalu.

Sebagai mahasiswa semester 1, aku merasa fase ini penuh perubahan. Kita masuk lingkungan baru, bertemu orang-orang baru, dan dituntut mandiri. Di tengah semua itu, ada “ransel” tak kasatmata yang ikut kita bawa dari masa lalu. Isinya pengalaman, luka, kegagalan, dan kata-kata orang yang masih menempel. Kalau ransel itu terlalu berat dan tidak pernah dibuka, “bayangannya” akan terus mengikuti dan membuat pikiran kita lelah.

Artikel ini mengajak kita memahami kenapa hal itu terjadi dan bagaimana cara berdamai dengannya.

## Apa Maksud “Ransel Masa Lalu”?

Ransel masa lalu adalah kumpulan pengalaman yang kita bawa ke masa sekarang. Isinya tidak selalu buruk. Ada juga kenangan manis, pelajaran, dan kebiasaan baik. Masalahnya muncul ketika yang paling banyak mengisi ransel adalah hal-hal yang belum selesai kita proses, misalnya rasa malu, penyesalan, ditolak, dibandingkan dengan orang lain, atau gagal mencapai sesuatu.

Sigmund Freud, tokoh psikologi yang terkenal dengan teori psikoanalisis, menyebut bahwa tidak semua yang kita alami tersimpan di kesadaran. Ada bagian pikiran yang disebut alam bawah sadar, tempat pengalaman yang tidak nyaman bisa “disimpan” tanpa kita sadari (Freud, 1915). Jadi walaupun kita merasa sudah melupakan sesuatu, pengaruhnya bisa tetap muncul lewat perasaan dan perilaku kita sehari-hari.

## “Bayangan” dalam Diri Kita

Istilah “bayangan” di judul artikel ini sebenarnya punya kaitan dengan konsep yang dikemukakan Carl Gustav Jung, psikolog asal Swiss. Jung menyebutnya *shadow* atau bayangan, yaitu sisi diri yang kurang kita sukai atau tidak ingin kita akui, sehingga kita tekan atau sembunyikan (Jung, 1969).

Contohnya, seseorang yang dulu sering ditertawakan karena gugup berbicara di depan kelas mungkin merasa malu terhadap sisi dirinya yang pemalu itu. Ia berusaha menolak sisi itu, tetapi sisi itu tidak benar-benar hilang. Setiap kali harus presentasi di kampus, perasaan lama muncul lagi. Menurut Jung, semakin kita menolak bayangan, semakin kuat ia memengaruhi kita dari belakang. Sebaliknya, ketika kita mau mengenali dan menerimanya, bayangan itu tidak lagi terasa menakutkan.

## Kenapa Pikiran Kita Bisa Selelah Itu?

Ada beberapa alasan kenapa masa lalu bisa membuat pikiran kita kelelahan.

**1. Rumination atau terus memikirkan hal yang sama.**
Susan Nolen-Hoeksema, psikolog yang banyak meneliti emosi dan depresi, menjelaskan bahwa *rumination* adalah kebiasaan memikirkan masalah, penyebab, dan perasaan negatif secara berulang tanpa menghasilkan solusi (Nolen-Hoeksema, 1991). Hasil penelitiannya menunjukkan bahwa orang yang cenderung berpikir berulang-ulang justru lebih lama terjebak dalam perasaan sedih. Kita merasa sedang “berpikir keras untuk menyelesaikan masalah”, padahal kita hanya berputar di tempat yang sama. Wajar kalau akhirnya capek.

**2. Pola pikir yang terdistorsi.**
Aaron T. Beck, pelopor terapi kognitif, menemukan bahwa banyak orang yang tertekan memiliki pola pikir yang cenderung negatif dan tidak akurat terhadap diri sendiri, dunia, dan masa depan (Beck, 1976). Contohnya, “Aku pernah gagal sekali, berarti aku memang tidak mampu.” Pikiran seperti ini terdengar meyakinkan, padahal belum tentu benar. Pengalaman di ransel masa lalu sering menjadi bahan bakar utama pikiran semacam ini.

**3. Pola kelekatan yang terbentuk sejak kecil.**
John Bowlby, penggagas teori kelekatan (*attachment theory*), menjelaskan bahwa hubungan awal kita dengan pengasuh membentuk cara kita memandang diri sendiri dan hubungan dengan orang lain (Bowlby, 1969). Kalau dulu kita sering merasa tidak dihargai atau tidak didengar, bisa jadi sekarang kita mudah cemas ditinggalkan, takut mengecewakan, atau sulit percaya pada orang baru. Hal-hal ini sering muncul saat kita beradaptasi di lingkungan kuliah.

**4. Terlalu keras pada diri sendiri.**
Kristin Neff, peneliti psikologi, menyebut bahwa banyak orang lebih mudah bersikap baik kepada teman daripada kepada dirinya sendiri. Ia mengenalkan konsep *self-compassion* atau welas asih pada diri sendiri (Neff, 2003). Tanpa itu, setiap kesalahan masa lalu terasa seperti bukti bahwa kita tidak cukup baik.

## Ketika Mahasiswa Baru Membawa Ransel yang Berat

Masa transisi ke dunia perkuliahan membuat kita lebih rentan. Kita jauh dari rumah atau lingkungan lama, bertemu teman yang tampak lebih pintar dan percaya diri, dan harus mengatur waktu sendiri. Saat tekanan datang, ransel masa lalu terasa makin berat.

Misalnya, kita mendapat nilai tugas yang kurang bagus lalu langsung teringat masa SMA saat sering dibandingkan dengan teman. Padahal ini hanya satu tugas di semester pertama, bukan penentu seluruh masa depan. Di sinilah pentingnya menyadari bahwa perasaan yang muncul sering kali bukan hanya tentang kejadian hari ini, tetapi juga tentang luka lama yang terpicu.

## Cara Berdamai dengan Bayangan Masa Lalu

Berdamai bukan berarti melupakan atau menyangkal bahwa kita pernah terluka. Berdamai berarti kita tidak lagi dikendalikan oleh masa lalu. Berikut beberapa langkah sederhana yang bisa dicoba.

**1. Kenali dan akui perasaanmu.**
Seperti yang disarankan Jung, langkah pertama adalah menyadari bahwa bayangan itu ada. Kita bisa mulai dengan bertanya pada diri sendiri, “Aku sebenarnya sedang merasa apa? Kenapa hal ini terasa begitu mengganggu?” Menulis jurnal harian bisa membantu mengenali pola perasaan kita.

**2. Pisahkan pikiran dari fakta.**
Terinspirasi dari pendekatan Beck, kita bisa melatih diri menguji pikiran sendiri. Tanyakan, “Apa buktinya pikiran ini benar? Apakah ada sudut pandang lain?” Pikiran “aku pasti gagal lagi” belum tentu fakta. Itu bisa saja hanya kebiasaan lama otak kita.

**3. Terima, bukan lawan.**
Dalam *Acceptance and Commitment Therapy* (ACT), Steven Hayes dan rekan-rekannya mengajarkan bahwa mencoba melawan atau menghilangkan pikiran yang tidak nyaman sering kali malah membuatnya lebih kuat (Hayes, Strosahl, & Wilson, 1999). Kita diajak menerima kehadiran pikiran itu, mengamatinya, lalu tetap melangkah melakukan hal yang penting bagi kita. Pikiran boleh datang, tetapi tidak harus kita turuti.

**4. Perlakukan dirimu seperti sahabat.**
Latih *self-compassion* ala Neff. Saat melakukan kesalahan, coba bayangkan sahabatmu yang mengalaminya. Kita pasti akan berkata, “Nggak apa-apa, kamu sudah berusaha.” Nah, kalimat yang sama pantas kita berikan kepada diri sendiri.

**5. Bercerita dan cari dukungan.**
Kita tidak harus menanggung semuanya sendirian. Berbicara dengan teman dekat, keluarga, atau dosen pembimbing akademik bisa meringankan beban. Jika perasaan lelah itu terasa berlebihan atau mengganggu aktivitas sehari-hari, jangan ragu menghubungi konselor atau psikolog di kampus. Meminta bantuan bukan tanda lemah, justru tanda bahwa kita peduli pada diri sendiri.

**6. Pilih isi ransel dengan sadar.**
Coba “bongkar” ransel secara perlahan. Mana yang masih berguna, misalnya pelajaran dari kegagalan, dan mana yang sudah saatnya diletakkan, misalnya anggapan bahwa kita tidak cukup baik. Kita tidak bisa mengganti ransel, tetapi kita bisa memilih apa yang masih kita bawa.

## Penutup

Rasa lelah dengan pikiran sendiri bukan tanda bahwa kita lemah atau aneh. Itu tanda bahwa ada hal dalam diri kita yang butuh diperhatikan. Dari para tokoh psikologi, kita belajar bahwa bayangan masa lalu bisa dikenali (Jung), pikiran yang berputar bisa dikurangi (Nolen-Hoeksema, Beck), perasaan bisa diterima (Hayes), dan diri sendiri pantas diperlakukan dengan lembut (Neff).

Sebagai mahasiswa semester 1, kita sedang memulai babak baru. Tidak apa-apa kalau ransel kita masih terasa berat. Pelan-pelan saja. Yang penting, kita berhenti berlari dari bayangan itu dan mulai berjalan berdampingan dengannya. Karena pada akhirnya, berdamai dengan masa lalu bukan tentang menghapusnya, tetapi tentang memilih untuk tetap melangkah ke depan.

———————————————————-

## Daftar Pustaka

Beck, A. T. (1976). *Cognitive therapy and the emotional disorders*. International Universities Press.

Bowlby, J. (1969). *Attachment and loss: Vol. 1. Attachment*. Basic Books.

Freud, S. (1915). The unconscious. Dalam J. Strachey (Ed.), *The standard edition of the complete psychological works of Sigmund Freud* (Vol. 14). Hogarth Press.

Hayes, S. C., Strosahl, K. D., & Wilson, K. G. (1999). *Acceptance and commitment therapy: An experiential approach to behavior change*. Guilford Press.

Jung, C. G. (1969). *Aion: Researches into the phenomenology of the self* (Collected Works, Vol. 9, Part 2). Princeton University Press.

Neff, K. D. (2003). Self-compassion: An alternative conceptualization of a healthy attitude toward oneself. *Self and Identity, 2*(2), 85–101.

Nolen-Hoeksema, S. (1991). Responses to depression and their effects on the duration of depressive episodes. *Journal of Abnormal Psychology, 100*(4), 569–582. (***).

Artikel ini telah dibaca 6 kali

Baca Lainnya

Sambut Andrea Bocelli, Pemuda Ekonomi Syariah Dorong Sinergi Musik, Pendidikan, dan Ekonomi Kemanusiaan

23 Oktober 2026 - 18:07

Pelantikan Pengurus DPC dan DPRt Jadi Langkah PAN Jember Perkuat Basis Pemilih

23 Oktober 2026 - 09:52

Siswa SMK Binaan MPM Honda Jatim Raih Tiga Prestasi di Cari Aman Academy 2026

23 Oktober 2026 - 09:49

Bawa Semangat Persaudaraan ke Ambarawa, MPM Honda Jatim Lepas Perwakilan Bikers Menuju Honda Bikers Day 2026

23 Oktober 2026 - 09:46

MPM Honda Jatim Kembali Lulus Audit Renewal ISO 9001:2015, Perkuat Standar Mutu Pengelolaan Gudang

23 Oktober 2026 - 09:23

BREAKING NEWS! Gedung Belajar Ponpes Al Hidayah II Sukorejo Ambruk

23 Oktober 2026 - 09:19

Trending di Berita Pasuruan