Menu

Mode Gelap
Wujudkan Mimpi Pebasket Muda Jatim, MPM Honda Jatim Gelar Honda DBL 2023 East Java Series Dukungan Mas Dion Maju Cabup Pasuruan 2024 Kian Masif

Pojokan · 25 Des 2017

Ini Dia 3 Alasan Mengapa Para Konlomerat Menguasai 80% Kekayaan di Indonesia


Ini Dia 3 Alasan Mengapa Para Konlomerat Menguasai 80% Kekayaan di Indonesia Perbesar

Oleh : Dimas Kalimasyada, Konsultan Kautsar Management

KABARPAS.COM – ANDA tentu pernah mendengar istilah Hukum Pareto atau Pareto Principle, bukan? Ya, fenomena hukum pareto ini ternyata terjadi di Indonesia. Hampir selalu hanya 20 % populasi menguasai 80% aset kekayaan dan sebaliknya 80% populasi hanya menguasai 20% aset kekayaan di Indonesia.

Yang menjadi pertanyaan besar adalah : kenapa ini bisa terjadi? Apa alasan pupulasi yang minimum itu justru menguasai aset yang maximum? Mengapa aset mereka terus tumbuh secara pesat , eskponansial, dan akhirnya menjadi?
Dikutip dari tulisan tulisan seorang guru besar ilmu strategi manajemen Yodhia Antariksa.MSc, beliau mengatakan bahwa ada 3 jawaban yang patut anda ketahui untuk menjawab fenomena mengejutkan tersebut.

Pareto sendiri berasal dari nama Wilfredo Pareto, Ekonom asal Italia yang hidup di tahun 1800-an. Dia menemukan fenomena misterius itu : 20 % populasi menguasi 80% sumber daya.
Contoh : 20% penduduk sebuah negara, kekayaanya sebanding dengan total kekayaan 80% penduduk negara tersebut. Contoh lain : Nilai tabungan 20% nasabah Bank BCA menguasai 80% jumlah tabungan yang disimpan di bank tersebut. Contoh lain lagi : biasanya 20% merk tertentu seperti Apple dan Samsung menguasai 80% market share dari industri perangkat telpon genggam.

Ada 3 faktor yang menjelaskan mengapa Pareto Effect muncul :
Pareto Effect #1 : Accumulative Advantage
Anda mungkin pernah mendengar istilah snowball effect? Ya, begitulah yang terjadi pada kekayaan para konglomerat Di Indonesia. Ketika kekayaan anda sudah banyak, maka kelipatannya pun akan tumbuh secara cepat dan eksponensial.

Simpelnya, kekayaan orang kaya akan lebih cepat bertambah dibanding kekayaan orang yang pengashilannya pas-pasan.
Contoh : Chairul Tanjung atau James Riyadi misalnya, karena aset kekayaan mereka sangat berlimpah, maka akumulasi aset dari yang dimilikinya dengan mudah melakukan ekspansi ke berbagai bisnis di beragam bidang. Ini juga disebut konglomerasi yang identik dengan diversifikasi bisnis. Inilah yang disebut Accumulative Advantage. Dimana orang yang memiliki tabungan 10 Milliar rupiah akan lebih mudah berinvestasi diberbagi jenis bisnis dibanding orang yang hanya memilki tabungan 10 Juta rupiah.

Itulah alasan utama mengapa para konglomerat bisa menguasai 80% kekayaan di Indonesia, Sedangkan orang yang penghasilannya pas-pasan hidupnya akan terus stagnan.

Pereto Effect #2 : Faktor Kali
Anda ingin tau apa rumus sederhana untuk menjadi konglomerat? Jawabannya : Faktor kali.
Faktor kali ini adalah frekuensi dari bisnis yang anda punya dikalikan revenue per bulannya. Bayangkan jika anda memilki 50 cabang rumah makan, 80 cabang bimbingan belajar, atau 1000 agen/ distributor dikalikan revenue ( penghasilan) dalam sebulan. Yang tejadi adalah anda akan cepat kaya. Faktor kali inilah yang membuat kekayaan kita bisa terlipat gandakan secara cepat.
Contoh : jika anda adalah produsen sepatu kulit yang bisa meraup Rp 1 M / bulan kemudian anda memiliki 50 distributor, maka omset anda dalam satu bulan bisa mencapai setidaknya Rp 50 M. Wajar jika para konglomerat bisa semakin cepat kaya karena faktor kali ini.

Pareto Effect #3 : Orang Yang Penghasilannya Pas Pas-an Sulit Mengembangkan Cara Berpikir Untuk Menjadi Orang Kaya
Menyambung dari pertanyaan diawal, mengapa 80% penduduk mayoritas hanya menguasai 20% kekayaan? Jawabannya karena orang yang penghasilanya pas pas-an cenderung tidak mau mengembangkan cara berpikir untuk menjadi orang kaya raya. Terjebak di dalam zona nyaman dan tidak ingin keluar dari rutinitas sehari-hari.
Contoh : Seorang PNS/ASN yang gaji nya 10 juta perbulan, mereka cenderung nyaman dengan gaji yang diterima dan tidak ingin neko-neko dengan membuka berpuluh-puluh cabang restoran.

Hasil dari tim riset Harvard University dan Yale University mengatakan bahwa daya kognisi orang yang penghasilannya pas pas-an sulit untuk berpikir tentang inovasi, perubahan, dan pembaruan. Bahkan terkadang bukannya mengembangkan cara berpikir bagaimana bisa menjadai kaya raya, justru semakin frustasi dengan cicilan yang belum dibayar, kebutuhan yang diluar dugaan dll.

Sehingga, inilah faktor yang kemudian menjadi alasan mengapa 80% penduduk memliki penghasilan yang stagnan dan kekayaannya tidak berkembang. Sebaliknya dengan para konglomerat yang setiap harinya dihadapkan dengan masalah-masalah baru, ditantang untuk berpikir keras, hidup dizona tidak nyaman, ditambah lagi dengan 2 faktor diatas : accumulative advantge dan faktor kali, maka wajar saja para konglomerat memiliki daya pikir yang cemerlang untuk mengembangkan kekayaannya.

3 faktor diatas adalah penyebab-penyebab Konglomerat menguasai 80% kekayaan yang ada di Indonesia. Apakah anda ingin termasuk dari bagian 20 % penduduk yang menguasai 80% kekayaan? Maka ikuti cara-cara para konglomerat memperoleh kekayaannya.

_____________________________________________________________

*Rubrik Inspirasi dan Motivasi hidup ini adalah kerjasama antara Kabarpas.com (PT. Media Masyah Publika) dengan kautsarmanagement.id (Kautsar Management) yang berkantor di Jakarta.

Artikel ini telah dibaca 40 kali

Baca Lainnya

Tarekat Sang Musnid Dunia

17 Mei 2026 - 10:08

Jaminan Stabilitas Kepemimpinan Prabowo di Tengah Turbulensi Politik

2 Mei 2026 - 18:25

Belajar Persahabatan Sejati dari Rais Aam PBNU

24 Maret 2026 - 09:18

Antara Asmara, Semangat Kuliah, dan IPK Mahasiswa

6 Februari 2026 - 11:13

Wajah Perempuan NU Abad ke-2

31 Januari 2026 - 06:19

Kepala Daerah, Waktunya Berbenah dan Menambah BUMD

9 Januari 2026 - 18:45

Trending di Kabar Terkini