Menu

Mode Gelap
Wujudkan Mimpi Pebasket Muda Jatim, MPM Honda Jatim Gelar Honda DBL 2023 East Java Series Dukungan Mas Dion Maju Cabup Pasuruan 2024 Kian Masif

Kabar Terkini · 23 Jul 2026

HARI ANAK NASIONAL 2026: Anak Hebat Tidak Lahir dari Gadget, tetapi dari Rumah yang Penuh Teladan


HARI ANAK NASIONAL 2026: Anak Hebat Tidak Lahir dari Gadget, tetapi dari Rumah yang Penuh Teladan Perbesar

Oleh: Gus Dr. A. M. Najich S., M.H., M.Pd., (Majelis Pengasuh PP. Terpadu Al-Yasini Pasuruan & PP. BANYAK PUTIH Pasuruan).

 

KABARPAS.COM – SETIAP tanggal 23 Juli, Indonesia memperingati Hari Anak Nasional sebagai momentum untuk merefleksikan sejauh mana negara, masyarakat, dan terutama keluarga telah memenuhi hak-hak anak. Di tengah pesatnya perkembangan teknologi digital, tantangan terbesar dalam mendidik anak bukan lagi sekadar menyediakan fasilitas pendidikan atau perangkat teknologi yang canggih, melainkan menghadirkan keteladanan dalam keluarga. Sebab, anak yang hebat bukanlah anak yang paling cepat menguasai teknologi, tetapi anak yang tumbuh dengan karakter, akhlak, dan nilai-nilai luhur yang dibangun melalui contoh nyata dari orang tuanya.

 

Perserikatan Bangsa-Bangsa melalui Convention on the Rights of the Child (CRC) menegaskan bahwa setiap anak memiliki hak untuk hidup, tumbuh dan berkembang, memperoleh perlindungan, serta berpartisipasi dalam kehidupan sosial. Indonesia sendiri telah lebih dahulu menunjukkan komitmennya melalui Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1979 tentang Kesejahteraan Anak yang menegaskan hak anak atas pengasuhan, pendidikan, perlindungan, dan kesejahteraan. Dengan demikian, pemenuhan hak anak bukan hanya menjadi tanggung jawab negara, tetapi juga menjadi amanah utama keluarga (Pemda DIY, 1998).

 

Ironisnya, di era digital saat ini banyak orang tua yang menganggap pemberian gadget sebagai bentuk kasih sayang. Ketika anak menangis, gadget diberikan. Ketika orang tua sibuk bekerja, gadget menjadi “pengasuh” yang paling praktis. Padahal, berbagai penelitian menunjukkan bahwa penggunaan gadget secara berlebihan justru lebih banyak menghadirkan dampak negatif dibandingkan manfaatnya apabila tanpa pendampingan orang tua. Anak cenderung mengalami penurunan kemampuan berinteraksi sosial, mudah marah, kurang disiplin, menurunnya empati, hingga muncul perilaku individualistis (Peshum, 2025).

 

Harus diakui bahwa gadget bukanlah musuh. Teknologi merupakan hasil peradaban manusia yang dapat menjadi sarana belajar, meningkatkan kreativitas, memperluas wawasan, bahkan melatih kemampuan berpikir kritis apabila digunakan secara proporsional. Persoalannya bukan terletak pada gadget, melainkan pada hilangnya fungsi keluarga sebagai sekolah pertama bagi anak. Ketika komunikasi di rumah digantikan oleh layar, ketika nasihat orang tua kalah menarik dibandingkan media sosial, dan ketika waktu berkumpul tergeser oleh dunia digital, maka proses pembentukan karakter anak mulai kehilangan fondasi utamanya (Peran Digital Parenting, 2026).

 

Dalam perspektif Islam, pendidikan anak sesungguhnya dimulai jauh sebelum anak mengenal dunia luar. Al-Qur’an menggambarkan anak sebagai qurrata a’yun (penyejuk hati) sekaligus amanah yang harus dijaga (QS. Al-Furqan [25]: 74). Bahkan Nabi Zakaria berdoa agar dikaruniai keturunan yang mampu melanjutkan perjuangan dakwahnya, bukan sekadar menjadi pewaris harta (QS. Maryam [19]: 4–6). Hal ini menunjukkan bahwa orientasi pendidikan dalam Islam bukan menghasilkan anak yang sekadar cerdas secara intelektual, tetapi mampu meneruskan nilai-nilai kebaikan kepada generasi berikutnya.

 

Islam juga memberikan perhatian yang sangat besar terhadap hak-hak anak. Anak berhak memperoleh kehidupan yang layak, pendidikan, kasih sayang, perlindungan, keadilan, nafkah, hingga hak untuk bermain. Seluruh hak tersebut pada hakikatnya merupakan kewajiban yang harus dipenuhi oleh orang tua. Rasulullah SAW bersabda:

 

“Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap pemimpin akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya.” (HR. Bukhari dan Muslim).

 

Hadis ini menegaskan bahwa keberhasilan pendidikan anak tidak hanya diukur dari prestasi akademiknya, tetapi juga dari sejauh mana orang tua menjalankan amanah kepemimpinannya di dalam keluarga.

 

Karena itu, keteladanan menjadi metode pendidikan paling efektif. Anak belajar bukan terutama dari apa yang didengar, tetapi dari apa yang dilihat setiap hari. Orang tua yang membiasakan salat berjamaah, membaca Al-Qur’an, bersikap jujur, menghormati sesama, dan menggunakan gadget secara bijak sedang memberikan pelajaran karakter yang jauh lebih kuat daripada ribuan nasihat. Sebaliknya, orang tua yang sibuk menasihati anak agar tidak bermain telepon genggam, tetapi dirinya sendiri terus-menerus terpaku pada layar, sedang memberikan contoh yang bertolak belakang.

 

Penelitian tentang perkembangan karakter peserta didik menunjukkan bahwa keluarga merupakan lingkungan pertama dan paling menentukan dalam pembentukan kepribadian anak. Sekolah memang berfungsi memperkuat karakter, tetapi fondasi utamanya dibangun di rumah. Pola asuh demokratis yang mengedepankan dialog, kasih sayang, kedisiplinan, dan keteladanan terbukti lebih efektif dibandingkan pola asuh otoriter maupun permisif dalam membentuk karakter anak yang mandiri, bertanggung jawab, dan berakhlak baik (Pengaruh Penggunaan Gadget terhadap Perkembangan Karakter Peserta Didik, 2025).

 

Momentum Hari Anak Nasional 2026 hendaknya menjadi pengingat bahwa investasi terbesar orang tua bukanlah membeli gawai terbaru, melainkan menyediakan waktu untuk membersamai anak. Anak lebih membutuhkan pelukan daripada notifikasi, lebih membutuhkan percakapan daripada permainan digital, dan lebih membutuhkan teladan daripada sekadar aturan. Sebab, rumah yang dipenuhi kasih sayang akan melahirkan anak yang kuat menghadapi perubahan zaman tanpa kehilangan nilai-nilai kemanusiaan dan keislamannya.

 

Pada akhirnya, kemajuan teknologi tidak dapat dihentikan, tetapi karakter anak tetap dapat diselamatkan. Gadget hanyalah alat, sedangkan keluarga adalah fondasi. Teknologi dapat membantu anak menjadi cerdas, tetapi hanya keteladanan yang mampu menjadikan mereka berakhlak mulia. Maka, makna sejati Hari Anak Nasional bukanlah berlomba memberikan fasilitas yang paling mahal, melainkan menghadirkan rumah yang penuh cinta, pendidikan, dan teladan. Dari rumah seperti itulah lahir generasi yang bukan hanya cakap menghadapi masa depan, tetapi juga mampu menjaga agama, bangsa, dan peradaban. (***).

Artikel ini telah dibaca 43 kali

Baca Lainnya

Hadiri Harlah ke-28 PKB, Presiden Prabowo Tegaskan Arah Baru Ekonomi Berpijak pada Amanat Konstitusi

24 Juli 2026 - 10:25

Kota Mojokerto Berkomitmen Dalam Mendukung Transformasi Digitalisasi

24 Juli 2026 - 10:17

Warga Blokade Jalur Pantura Dipicu Peluru Nyasar

23 Juli 2026 - 21:03

Rp2,57 Triliun Investasi Masuk ke Jember: Tumbuh 70,2 Persen dan Ribuan Lapangan Kerja Tercipta

23 Juli 2026 - 14:59

Empat Jam Lebih Warga Blokade Jalur Pantura Pasuruan

23 Juli 2026 - 14:29

Hari Anak Nasional, MPM Honda Jatim Ajak Siswa Budayakan #Cari_Aman Sejak Dini

23 Juli 2026 - 06:22

Trending di Kabar Otomotif