Menu

Mode Gelap
Wujudkan Mimpi Pebasket Muda Jatim, MPM Honda Jatim Gelar Honda DBL 2023 East Java Series Dukungan Mas Dion Maju Cabup Pasuruan 2024 Kian Masif

Pojokan · 7 Jun 2019

Minal Aidin, Mohon Maaf Saya Pernah Selingkuh dengan Istri Sampeyan


Minal Aidin, Mohon Maaf Saya Pernah Selingkuh dengan Istri Sampeyan Perbesar

Oleh : Abdur Rozaq, Manager Konten Kabarpas.com

———————————————————–

KABARPAS.COM – BERAKHIR sudah bulan seribu berkah bernama Ramadhan. Bagi umat Islam yang kemarin berpuasa dengan kualitas super dan berbuka dengan bukan hasil korupsi, bertarawih full, bertadarrus dengan niat lillahi ta’ala, bukan karena pamer kelihaian ilmu tajwid, bersedekah bukan untuk pencitraan atau curi start persiapan nyaleg, insya Allah sudah kembali seperti bayi. Diampuni seluruh dosanya yang berkaitan dengan pelanggaran hukum-hukum Gusti Allah. Hanya saja, dosa sosial yang berhubungan dengan hak sesama manusia, belum tuntas.

“Makanya halal bihalal mesti diadakan, agar kita bisa saling memaafkan, sehingga saldo dosa kita benar-benar nol,” ujar Gus Hasyim di hadapan para tamu.
“Lho, katanya bid’ah, gus? Ndak pernah ada pada masa Nabi?” celetuk Mas Bambang.
“Benar, tapi ini kan bid’ah yang baik. Dan kalau kita membaca Al Qur’an disertai tafsir dan mendalami hadits bukan hanya tiga potong, dalilnya ada. Minimal qiyas.” Jelas Gus Hasyim.
“Katanya Islam ini sudah sempurna, kenapa harus kita tambah-tambah?” Mas Bambang masih mengejar. Gus Hasyim hanya tersenyum, malah Firman Murtado yang menjawab.
“Islam yang dari kanjeng Nabi itu Islam baku, lha budaya bid’ah seperti halal bihalal itu ibarat ornamen, dan hanya ada di Indonesia,” katanya ketus.
“Silaturrahmi kan baik, saling memaafkan juga baik, halal bihalal sebagai sarana apa salah?” Tanya Wak Takrip. Mas Bambang mati kutu.
“Dosa kepada sesama manusia itu gawat. Jangankan ngentit alias nyolong uang negara yang menyebabkan rakyat belum sejahtera, kita mlerok sama tetangga saja urusannya bisa panjang di ahirat nanti. Solusinya hanya meminta maaf kepada yang bersangkutan, dengan menyebutkan kesalahan kita.”
“Maksudnya?” Tanya Firman Murtado was-was.
“ Ya kalau sampeyan nyukur rambut pelanggan kualitasnya dikurangi karena yang antri banyak, sampeyan mesti minta maaf dengan menyebut kesalahan tersebut.” Jelas Gus Hasyim.
“Ya ribet gus.”
“Makanya ndak gampang meminta maaf kepada manusia. Kalau kepada Tuhan sih lebih mudah karena Gusti Allah sabar dan pemaafnya super. Kita mau ndak sembahyang atau mokel sekalian, Allah ndak tegaan. Kadang kita belum memohon ampun sudah diampuni.”
“Lha kalau meminta maaf atas dosa maling uang negara atau mudik pakai kendaraan dinas, bagaimana, gus, sama siapa?”
“Ya harus meminta maaf kepada semua rakyat Indonesia karena kita berdosa kepada mereka semua.”
“Lha terus kalau meminta maaf sama suami selingkuhan kita, bagaimana caranya?’
“Ya sama. Harus meminta maaf dengan menyebutkan kalau kita pernah melakukan video call, mengajak istrinya menginap di hotel dan menyebutkan apa saja yang kita lakukan dengan istrinya di hotel.” Mas Bambang pucat pasi mendengar jawaban Gus Hasyim. Ketika tamu lain menjamah kue lebaran suguhan Gus Hasyim, Mas Bambang hanya sedal-sedul menghisap rokoknya. (***).

Artikel ini telah dibaca 382 kali

Baca Lainnya

Tarekat Sang Musnid Dunia

17 Mei 2026 - 10:08

Jaminan Stabilitas Kepemimpinan Prabowo di Tengah Turbulensi Politik

2 Mei 2026 - 18:25

Belajar Persahabatan Sejati dari Rais Aam PBNU

24 Maret 2026 - 09:18

Antara Asmara, Semangat Kuliah, dan IPK Mahasiswa

6 Februari 2026 - 11:13

Wajah Perempuan NU Abad ke-2

31 Januari 2026 - 06:19

Kepala Daerah, Waktunya Berbenah dan Menambah BUMD

9 Januari 2026 - 18:45

Trending di Kabar Terkini