Menu

Mode Gelap
Wujudkan Mimpi Pebasket Muda Jatim, MPM Honda Jatim Gelar Honda DBL 2023 East Java Series Dukungan Mas Dion Maju Cabup Pasuruan 2024 Kian Masif

Pojokan · 15 Jun 2019

Self-Harm Sudah Menjadi Momok yang Ditakuti Oleh Masyarakat


Self-Harm Sudah Menjadi Momok yang Ditakuti Oleh Masyarakat Perbesar

Oleh : Ulinnuha ‘Aqilah Ramadhani, Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang Fakultas Psikologi 

 

KABARPAS.COM – MENYAKITI diri sendiri (self-harm) saat ini bukan lagi menjadi hal yang tabu di kalangan masyarakat, apalagi hal yang telah dilakukan yaitu hingga menyayat salah satu bagian tubuhnya demi mendapatkan kepuasan semata agar rasa sakit yang dialaminya dapat tersalurkan dengan baik.

Hal seperti ini biasanya dialami oleh kaum remaja yang tengah mengalami tekanan pada psikologisnya sehingga membuat remaja tersebut mengalami depresi dan berujung melukai atau menyakiti dirinya sendiri dengan menyayat salah satu bagian tubuhnya, menelan sesuatu yang berbahaya, ataupun overdosis zat tertentu seperti obat-obatan.

Seperti kasus yang baru-baru ini tejadi yaitu pada siswi sekolah menengah pertama (SMP) di Surabaya, mereka memiliki kebiasaan yang cukup unik tetapi membuat masyarakat awam bergidik ngeri.

Kebiasaan itu berupa menyilet atau melukai pergelangan tangannya sendiri. Mereka melakukan hal tersebut dikarenakan untuk meluapkan emosi yang belum bisa tersalurkan dengan baik.

Selain itu, remaja yang memiliki insomnia akut cenderung suka menyiksa dirinya sendiri karena kurangnya istirahat yang cukup ataupun memiliki durasi tidur yang pendek.

Hal yang mempengaruhi seorang remaja untuk menyakiti dirinya sendiri pun berbagai macam, tergantung pengalaman apa yang membuat psikologisnya terganggu ataupun merasa tertekan.

Persoalan-persoalan tersebut bisa terjadi akibat pengaruh masa kecilnya yang tidak diperbolehkan untuk merasakan emosi negatif seperti kecewa, sedih, dan sakit, persoalan selanjutnya yaitu seorang remaja tersebut sulit untuk mengekspresikan emosinya, sehingga ketika tiba di dalam suatu kondisi yang sangat sulit dan berat untuk dilewati, melukai diri sendiri menjadi salah satu cara untuk mengekspresikan emosi yang sedang dirasakan atau dialaminya.

Seorang remaja lebih memilih menyakiti dirinya sendiri karena terasa sulit untuk mengungkapkan beban yang tengah dirasakan melalui kata-kata, sehingga dengan menyakiti diri sendiri bisa menunjukkan betapa buruk kondisi yang tengah dirasakannya.

Sebagian remaja yang melakukan hal ini guna memiliki maksud untuk menghukum dirinya sendiri karena tidak mampu untuk menyelesaikan masalah yang tengah dihadapinya, selain itu remaja tersebut merasa rendah diri (self-esteem rendah) sehingga membenci dirinya dan meyakiti dirinya sebagai pengalihan atas emosi yang tengah dirasakan, seperti marah, jijik, benci dan tertekan.

Ketika melakukan hal tersebut, maka muncullah rasa lega karena emosi-emosi tersebut telah tersalurkan pada sakit fisik yang dirasakan.

Peneliti pun berpendapat bahwa orang yang sering menyakiti dirinya sendiri seperti sedang memasuki fase mekanisme pain offset relief, pain offset relief sendiri menjelaskan bahwa pada umumnya setiap orang memberikan respons yang tidak menyenangkan terhadap rangsangan yang menyakitkan, namun setelah menerima rangsangan yang menyakitkan tersebut dapat membuat seseorang merasa senang atau bahagia dalam waktu singkat.

Hal ini seperti ketika menyakiti diri pertama kali seseorang tersebut akan merasakan sakit yang tidak menyenangkan, akan tetapi ketika terus menyakiti diri dan merasa lega setelahnya hingga membuatnya merasa senang atau bahagia hal tersebut akan tetap dilakukan terus-menerus walau rasa senang atau bahagia tersebut datang hanya sesaat.

Akan tetapi, hal ini tidak melulu berkaitan dengan fisik seseorang, melainkan juga bisa dari kebiasan sehari-hari yang apabila dibiarkan secara terus-menerus akan menyakiti mental, yaitu dengan cara mengisolasi diri sendiri seperti menghabiskan waktu sendiri, menghabsikan waktu sendiri (me time) itu tidak masalah akan tetapi hal ini dapat membahayakan apabila sudah sampai kedalam tahap menjauhkan diri dari keluarga bahkan kehidupan sosial. Hal ini apabila dilakukan terus-menerus dapat berujung ke dalam depresi yang terkadang bisa berujung pada keinginan untuk bunuh diri.

Kemudian membiarkan toxic people berada di sekitar kita, teman yang hanya datang jika membutuhkan sesuatu dan apabila tujuannya telah terpenuhi akan meninggalkan kita, teman yang selalu berpandangan negatif akan berbagai hal dan selalu berkomentar yang negatif tentang orang lain, teman yang selalu menomor satukan dirinya agar kita mengesampingkan perihal lain untuk dirinya, dan teman yang selalu memaksa kita melakukan hal-hal buruk sebaiknya harus dihindari.

Dengan mempunyai ciri-ciri teman seperti itu, membuat hidup lebih banyak mendapatkan kerugian hingga bisa membuat diri sendiri tersiksa. Karena kita tidak dapat meluangkan waktu untuk diri sendiri maupun hal-hal yang kita sukai.

Tindakan-tindakan untuk menyakiti diri sendiri (self-harm) ternyata amat sangat dekat dengan kehidupan kita, dan kita perlu memberikan fokus yang lebih pada hal ini.

Tidak banyak orang yang tahu bahwa orang tersebut telah menyakiti dirinya sendiri, karena orang yang telah menyakiti dirinya sendiri akan lebih memilih bungkam daripada bercerita ke orang lain, karena mereka berpikir apabila menceritakan hal ini kepada orang lain, orang lain tersebut akan mencaci mereka ataupun mengira sedang mencari sebuah perhatian, dan kebanyakan dari mereka juga tidak mempunyai keberanian lebih untuk mengungkapkannya kepada orang-orang terdekat.

Solusi yang dapat dilakukan apabila orang terdekat sedang mengalami hal ini yaitu dengan menawarkan cara lain selain menyakiti diri sendiri seperti mengajaknya berolahraga, menulis puisi atau lagu, kemudian jangan membiarkan ia memendam masalahnya sendiri, perintahlah ia untuk bercerita kepada orang terdekat ataupun orang yang telah dipercayainya tentang beban yang sedang dialami.

Apabila kedua hal tersebut tidak dapat dilakukan, kita dapat membantunya dengan mencari bantuan medis untuknya, seperti mengajaknya ke psikolog ataupun psikiater yang lebih tau hal-hal tersebut sehingga ia akan mendapatkan terapi yang harus diikuti, selain itu tetaplah menjadi sumber dukungan dengan meluangkan waktu untuk melakukan aktivitas yang berguna bersama-sama, memberi semangat dan motivasi agar tidak melakukan hal tersebut lagi, mengajaknya untuk tetap bersosialisasi dengan lingkungannya dan menjadi pendengar ceritanya dengan baik. (***).

Artikel ini telah dibaca 164 kali

Baca Lainnya

Tarekat Sang Musnid Dunia

17 Mei 2026 - 10:08

Jaminan Stabilitas Kepemimpinan Prabowo di Tengah Turbulensi Politik

2 Mei 2026 - 18:25

Belajar Persahabatan Sejati dari Rais Aam PBNU

24 Maret 2026 - 09:18

Antara Asmara, Semangat Kuliah, dan IPK Mahasiswa

6 Februari 2026 - 11:13

Wajah Perempuan NU Abad ke-2

31 Januari 2026 - 06:19

Kepala Daerah, Waktunya Berbenah dan Menambah BUMD

9 Januari 2026 - 18:45

Trending di Kabar Terkini