Menu

Mode Gelap
Wujudkan Mimpi Pebasket Muda Jatim, MPM Honda Jatim Gelar Honda DBL 2023 East Java Series Dukungan Mas Dion Maju Cabup Pasuruan 2024 Kian Masif

Pojokan · 7 Apr 2020

Antara Skema BIN, Pembatasan Mudik dan Cegah Ledakan Corona


Antara Skema BIN, Pembatasan Mudik dan Cegah Ledakan Corona Perbesar

Oleh : Raylis Sumitra (Penulis Buku Jokowi Digdaya Tanpa Aji & Buku, Politik Ngakak, Arief Poyuono)

 

 

KABARPAS.COM – UPAYA mengejar sebaran virus corona (Covid-19) terus dilakukan pemerintah. Mampukah pemerintah menekan jumlah penderita terjangkit dan meluasnya sebaran covid-19 ini? Tentu saja, ini menjadi Doa dan Harapan masyarakat, agar Bangsa Indonesia bisa terlepas dari pendemik global ini.

Ekspetasi, masyarakat terhadap pemerintah. Rupanya akan berbuah manis. Pendemik yang jadi hantu di seluruh belahan negara dunia ini, sudah menunjukkan tanda-tanda akan teratasi. Sehingga tidak terjadi ledakan jumlah penderita.

Peringatan dini (early warning) yang dikeluarkan Badan Intelejen Negara (BIN). Berupa skema grafik penyebaraan mampu dibaca pemerintah dalam hal ini Gugus Tugas Covid-19, dengan aktualisasi lapangan dan formulasi kebijakaan.

Berikut ini estimasi jumlah kasus positif virus Corona sebagaimana pemodelan BIN:

– Estimasi jumlah kasus di akhir Maret 1.577 (realita 1.528, akurasi prediksi 99 persen)- Estimasi jumlah kasus di akhir April 27.307

– Estimasi jumlah kasus di akhir Mei 95.451

– Estimasi jumlah kasus di akhir Juni 105.765
– Estimasi jumlah kasus di akhir Juli 106.287

Estimasi BIN ini, menurut Ketua Gugus Tugas Doni Monardo sangat akurat. Bulan pertama merebahnya Covid-19, BIN memprediksi lewat skemanya berjumlah 1.577. Realitanya, catatan Gugus Tugas Covid-19, adalah 1.528 positif terpapar corona.

Pemodelan BIN inilah yang akan jadi rujugkan Gugus Tugas Covid – 19 dalam menekan laju bertambahnya korban terpapar. Yang diprediksi akan terjadi peningkatan.

Upaya pemerintah dalam menekan korban dan sebaraan virus corona juga terus dilakukan. Di antaranya menerapkan social distancing yang kemudian lebih spesifik menjadi physical distancing. Bahkan, Presiden Joko Widodo juga telah menetapkan status kedaruratan kesehatan masyarakat dengan dikeluarkannya Peraturan Pemerintah (PP) tentang Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB).

Kebijakaan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB), tidak lepas dari skema yang dikeluarkan BIN. Dalam skema tersebut, terlihat bahwa penyebaraan virus terjadi dari interaksi sosial masyarakat. Perpindahaan individu yang terpapar penyakit virus ke tempat lainnya.

Seperti diketahui, berdasarkan WHO virus Corona menyebar dari invidu yang terpapar virus. Melalui cairan dari bersin atau batuk. Kemudian menempel dibenda atau langsung, dihirup atau mengenai cairan hidung, mulut dan mata orang lain.

Makanya, skema BIN tentang penyebaraan dan jumlah korban. Sebuah early warning bagi pemerintah. Dibutuhkan rodmap teknis yang tepat untuk mengatasinya. Sehingga tidak terjadi ledakan.

Dari skema BIN diatas, sebenarnya bisa terbaca. Kenapa ledakan akan terjadi pada bulan Juli. Karena di bulan ahkir Juni perayaan Idul Fitri. Tradisi mudik dalam Idul Fitri inilah kuat diprediksi terjadi mutasi dan cepatnya peredaraan virus. Sehingga, pemerintah pusat memberikan batasan ketat bagi mereka yang nekat mudik.

Dengan menetapkan mereka yang nekat mudik sebagai ODP (Orang Dalam Pengawasaan). Yang salah satu pembatasannya, ODP tidak boleh keluar rumah salama 14 hari.

Tindakan persuasif agar masyarakat tidak mudik menjadi tolak ukur menekan terjadinya ledakan virus corona. Sebaliknya, apabila tidak berhasil. Jumlah terpapar semakin banyak. Dengan sebaraan daerah meluas.

Dalam skema BIN, selain pertambahaan jumlah penderita setiap bulannya. Juga menjelaskan daerah sebaran. Yaitu, terdapat 50 kabupaten atau kota prioritas dari 100 yang memiliki risiko tinggi penyebaran Covid-19. Diprediksi, 49 persen wilayah itu berlokasi di Pulau Jawa.

Doni Monardo mengingatkan kajian BIN ini tidak terjadi jika langkah pencegahan terus dilakukan. Agar menjadi selaras, Aturan teknis PP tentang PSBB ini ditetapkan oleh Menteri Kesehatan atas saran dan pertimbangan kepala Gugus Tugas. Sehingga, daerah akan meliki acuan yang jelas.

Terutama fasilitas kesehatan yang dimiliki pemerintah daerah. Dalam menyiapkan tenaga medis dan ruang isolasi bagi masyarakat yang nekat mudik. Daerah harus segera menyiapkan itu.

Selain itu, perlunya kesiagaan aparat pemerintahaan, kepolisian dan TNI hingga ke tingkat desa. Untuk melakukan pendataan dan kontrol terhadap arus lalu lintas yang nekat mudik. Perlu penerapaan kedislipan dan ketertiban bagi mereka yang nekad mudik.

Langkah pencegahaan inilah yang diyakini Gugus Tugas Covid-19. Sehingga ledakan jumlah penderita terpapar Covid-19 dapat diantisipasi. (***).

Artikel ini telah dibaca 19 kali

Baca Lainnya

Tarekat Sang Musnid Dunia

17 Mei 2026 - 10:08

Jaminan Stabilitas Kepemimpinan Prabowo di Tengah Turbulensi Politik

2 Mei 2026 - 18:25

Belajar Persahabatan Sejati dari Rais Aam PBNU

24 Maret 2026 - 09:18

Antara Asmara, Semangat Kuliah, dan IPK Mahasiswa

6 Februari 2026 - 11:13

Wajah Perempuan NU Abad ke-2

31 Januari 2026 - 06:19

Kepala Daerah, Waktunya Berbenah dan Menambah BUMD

9 Januari 2026 - 18:45

Trending di Kabar Terkini