Reporter : Rifki Alfan Sani
Editor : Agus Hariyanto
Banyuwangi, Kabarpas.com – Ratusan sopir logistik yang hendak menyebrang ke Pulau Bali, menggelar aksi mogok di jalan raya Situbondo – Banyuwangi. Akibatnya, kemacetan panjang pun terjadi hingga lebih dari 3 KM.
Pemicu aksi yang digelar sopir truk logistik yakni adanya biaya rapid test dari mulai Rp. 300.000,- hingga Rp. 350.000,-. Padahal, sebelumnya setiap sopir yang hendak menyebrang ke Pulau Bali melalui pelabuhan ASDP Cab. Ketapang, Banyuwangi, juga mengikuti rapid test secara gratis. Namun, pada Kamis (18/06/2020), semua sopir wajib bayar biaya rapid test secara mandiri.
“Sekarang bayangkang mas, jika ongkos jasa angkut dari Surabaya ke Bali tiga juta lima ratus ribu rupiah. Jika sekarang ada tambahan biaya rapid test mencapai tiga ratus ribu lebih, kita dapat apa?,” ucap Sofyan kepada Kabarpas.com sembari membayar biaya pendaftaran Rapid Test di Terminal Sritanjung, Kecamatan Kalipuro, Banyuwangi.
Sementara itu, salah satu sopir truk yang juga mengantri pendaftaran rapid test merasa keberatan. Pasalnya, biaya Rp 300.000,- dianggap mahal dan dibebankan pada sopir tidak pada perusahaan.
“Bayangkan Pak kalau saya satu minggu nyebrang tiga kali, berapa uang yang harus saya keluarkan untuk rapid test. Padahal di Probolinggo, Surabaya, tidak ada kayak ginian. Ini cuman ada di Banyuwangi saja,“ kata Sugiarsana sopir asal Kabupaten Tabanan, Bali.
Para sopir pun meminta ada kebijakan
tersendiri, agar mereka tidak semakin tertindas dan terbebani atas kebijakan yang dianggap sangat merugikan seluruh sopir, yang akan menyebrang ke Pulau Bali itu. (riz/gus).
















