Menu

Mode Gelap
Wujudkan Mimpi Pebasket Muda Jatim, MPM Honda Jatim Gelar Honda DBL 2023 East Java Series Dukungan Mas Dion Maju Cabup Pasuruan 2024 Kian Masif

Kabar Pasuruan · 1 Jan 2021

Ahmad Tohari: Buku Hujan Gus Dur  Memperkaya Khazanah Literasi Sastra Indonesia


Ahmad Tohari: Buku Hujan Gus Dur  Memperkaya Khazanah Literasi Sastra Indonesia Perbesar

Pasuruan, Kabarpas.com – Komunitas Gitu Saja Kok Repot (KGSKR) GUSDURian Pasuruan meluncurkan buku berjudul Hujan Gus Dur: Antologi Cerpen tentang Gus Dur. Peluncuran buku Hujan Gus Dur tersebut secara simbolis dilakukan oleh Sastrawan Senior, Ahmad Tohari.

“Kehadiran kumpulan cerita pendek ini pasti memperkaya khazanah literasi sastra Indonesia. Saya sangat bangga, karena tulisan para penulis sudah sangat mengesankan. Jangan lupa, cerita pendek yang baik itu, cerita yang bisa memberikan kesan yang mendalam pada para pembacanya. Ini semuanya sudah bagus, memberikan kesan mendalam bagi para pembacanya,” ujar penulis Ronggeng Dukuh Paruk tersebut.

“Dan saya berharap, anak-anak muda yang menulis disini, teruskan berkarya. Jangan lupa bahwa kepengarangan itu adalah sebuah proses, proses dari awal dan tidak ada ujungnya. Artinya, terus lah berproses sampai kapanpun, jadi makin baik, makin baik, makin baik, seperti itu,” imbuh Sahabat Gus Dur tersebut.

Ahmad Tohari juga menceritakan bahwa dunia sastra lah yang mempertemukan dirinya pertama kali dengan Gus Dur.

“Pertama kali saya ketemu Gus Dur karena Beliau ingin membahas sebuah novel sastra (Berjudul Kubah) yang kemudian ternyata novel itu dinyatakan sebagai novel terbaik di Indonesia pada tahun 1981,” terang penulis asal banyumas tersebut.

Terakhir, sebagai senior dalam dunia sastra, Ahmad Tohari memberikan nasihat kepada para penulis muda untuk tetap dan terus membaca karya-karya penulis lain sehingga memperkaya cakrawala pengetahuan dalam menulis.

“Banyaklah membaca, walaupun sudah menjadi penulis, tapi tetap bacalah yang banyak. Untuk memperluas cakrawala pengetahuan kita, cakrawala literasi kita. Saya khawatir kalau para penulis muda tidak membaca karya orang lain, dia akan menjadi seperti katak di dalam tempurung, tidak menyadari bahwa di dunia sana ada penulis-penulis besar seperti Hermingway, semacam John Steinbeck, macem-macem, karyanya bagus-bagus,” ucapnya..

Menurutnya, dengan membaca karya-karya besar tersebut, kita akan terangkat dengan sendirinya.

“Ingin saya ulangi juga bahwa menulis adalah sebuah proses, ada awalnya tapi tidak ada akhirnya, awal menulis adalah menjadi pembaca, dan setelah menjadi penulis, teruslah menulis dan teruslah diperbaiki, sampai kapanpun diperbaiki,” pungkas pria yang pernah menerima Hadiah Sastra Asean, SEA Write Award tersebut. (mfd/tin).

Artikel ini telah dibaca 39 kali

Baca Lainnya

Launching Car Free Day, Pemkot Pasuruan Ajak Warga Hidup Sehat dan Gerakkan Ekonomi

5 Juli 2026 - 22:57

Wali Kota Pasuruan Pastikan Sekolah Rakyat Siap Beroperasi, Progres Pembangunan Sudah 87 Persen

4 Juli 2026 - 14:39

Bunda Ani Firdaus Ajak Generasi Muda Jadi Penerus Pelestari Batik Kota Pasuruan

4 Juli 2026 - 14:24

Petik Laut 2026, Mas Adi Sebut Tradisi Jadi Penggerak Ekonomi dan Wisata Bahari

28 Juni 2026 - 12:19

Pemkot Pasuruan Luncurkan Pembayaran PBB Melalui Bank BRI

25 Juni 2026 - 15:55

Mas Adi: Kota Pasuruan Harus Jadi Rumah untuk Semua, Termasuk Lansia

24 Juni 2026 - 13:14

Trending di Berita Pasuruan