Kamis, 22 Mei 2025 – 07.15 | 1001 kali dilihat
Jember, Kabarpas.com – Alun-alun merupakan cerminan sebuah kota yang memiliki peran penting dalam membentuk kesan dari kota tersebut. Sebagai pusat keramaian masyarakat, hal yang lumrah bila terdapat pedagang kaki lima yang mengadu nasib di sana.
Namun, keberadaan PKL tak jarang mendapat sorotan tajam dari publik dan menimbulkan pro dan kontra.
Satu sisi masyarakat menginginkan kawasan alun-alun bersih dari PKL, katanya agar tidak terlihat kumuh. Sebagian lain memaklumi keberadaan mereka, hanya sekadar mencari nafkah untuk keluarga.
Polemik tersebut, rupanya juga dipikirkan oleh Bupati Fawait.
Ia mengaku tidak tega jika harus menggusur PKL saat ini, sebelum adanya solusi bagaimana merelokasi mereka ke tempat yang lebih baik.
“Kami tidak bisa begitu saja menertibkan para PKL, mereka bekerja, punya keluarga. Ini urusan perut, kehidupan mereka, kalau belum ada solusi yang lain saya tidak tega, saya tidak bisa untuk menggusur mereka,” kata bupati saat ditanya mengenai keberadaan PKL alun-alun.
Dalam agenda “Pro Gus’e 100”, Rabu (22/5/2025) malam, bupati menyampaikan telah menyiapkan opsi-opsi untuk menempatkan PKL di suatu lokasi strategis yang berdekatan dan tidak kalah ramai dengan alun-alun.
Salah satunya, yakni menyiapkan lokasi di Jalan Kartini, di selatan alun-alun dengan membuat food street yang rencananya akan dimulai pada akhir tahun 2025.
“Kami akan bikin seperti ya miniaturnya Malioboro lah. Supaya alun-alun menjadi pusat pertumbuhan ekonomi dan keramaian yang baik bersih maka, kita akan kembangkan nanti ke Jalan Kartini ada food street,” ujarnya.
Dengan menempati lokasi yang berdekatan dengan alun-alun, bupati meyakini akan menjadi opsi yang bisa diterima oleh PKL bahwa ada tempat yang lebih ramai dan lebih bagus dari sebelumnya.
“Kalau sudah siap (food street) itu baru saya akan mengajak para PKL. Kalau hari ini tentu saya tidak tega kalau harus kita bersihkan (gusur PKL) begitu saja,” tandasnya.
Meski sementara tidak bisa berbuat banyak, bupati menegaskan dirinya tidak tinggal diam. Ia tetap berkomitmen berusaha membuat alun-alun senyaman mungkin untuk masyarakat. (dan/ian).

















