Jember, Kabarpas.com – Pemkab Jember berkolaborasi dengan Forum Pembauran Kebangsaan (FPK) menyelenggarakan pagelaran budaya terbesar pertama yang diadakan di Kabupaten Jember dalam bingkai Apel Kebangsaan Cinta Pluralisme.
Melalui momen ini, pelaku serta pecinta seni dan budaya benar-benar dimanjakan oleh Pemkab Jember. Pasalnya, pagelaran budaya tersebut dilaksanakan selama tiga hari mulai tanggal 20-23 Juli 2025.
Selama itu, masyarakat akan disuguhkan beragam kegiatan mulai dari Kirab Pusaka Nusantara, Sedekah Bumi, Pagelaran Wayang Kulit, Pameran Tosan Aji, dan Rangkaian Pameran.
Bupati Fawait dalam kesempatan tersebut mengatakan, bangsa yang besar adalah bangsa yang memiliki budaya dan mempertahankan budayanya. Lewat Apel Kebangsaan Cinta Pluralisme, bupati ingin memberikan pesan kepada Indonesia dan dunia bahwa Jember akan menjaga budaya nasional dengan baik.
Acara yang sangat jarang digelar seperti ini, tentu menyedot animo masyarakat luas. Melihat hal itu, bupati akan membuat agenda rutin semacam ini ke depan dengan lebih besar.
“Bisa dilihat tadi bagaimana masyarakat yang begitu banyak dari semua desa di Jember hadir untuk mengikuti pagelaran budaya hari ini. Bahkan, yang tidak disangka ada turis dari luar negeri juga yang hadir,” ujarnya.
Keberadaan wisatawan asing dalam acara itu, menunjukkan bahwa event tradisional juga bisa menarik perhatian dunia internasional.
“Ada potensi Jember memiliki pagelaran yang menginternasional selain JFC (Jember Fashion Carnival), kita ada potensi yaitu parade budaya.
Semua elemen hari ini bisa melihat budaya harus dilestarikan, dan kita ingin menjadikan Jember Miniatur of Indonesia. Salah satunya adalah dengan upaya-upaya melesatkan budaya di NKRI,” tegas bupati.
Selain itu, menurut bupati, Jember adalah kabupaten yang bisa besar karena memiliki identitas. Jati diri itu contohnya sudah memiliki peninggalan berupa senjata yang diakui oleh semua pihak merupakan aset asli Jember. Yaitu, Wedung Pace.
Melestarikan seni dan budaya tidak terlepas dari keberadaan tokoh/pelaku itu sendiri. Bupati berencana memberdayakan mereka lebih intens, tidak hanya menggandeng pelaku seni budaya lewat event musiman setahun sekali.
“Kita mau bikin foodstreet, para pelaku budaya dan seni akan kita berikan tempat untuk tampil di foodstreet dan di pagelaran Jember yang lain,” kata bupati memikirkan keberlangsungan hidup para pelaku seni budaya.
Difasilitasinya agenda besar pelaku seni dan budaya melalui Apel Kebangsaan Cinta Pluralisme oleh Pemkab Jember, seolah menegaskan kepada publik bahwa Bupati Fawait menunjukkan kepedulian serius terhadap pelestarian budaya dan memberikan dukungan penuh kepada para budayawan lokal.
Miftahul Rahman, budayawan yang populer dipanggil Cak Memet mengaku terharu atas dukungan Bupati Fawait yang mengadakan pagelaran budaya tersebut.
Cak Memet mengatakan, ia sudah lebih dari sekali mengadakan acara kebudayaan namun, diakuinya kali ini merupakan yang terbesar di Jember, bahkan di Indonesia.
“Kami sangat mengapresiasi bagaimana upaya bupati mengerahkan semua organ di pemerintahan daerah mulai dari tingkat desa, kelurahan, camat, sampai OPD. Baru kali ini ada intervensi dari pemerintah daerah, sebelumnya kami mengadakan acara secara mandiri,” tuturnya.
Keterlibatan partisipasi publik dalam kegiatan tak luput dari perhatian Cak Memet. Terdapat 248 desa/kelurahan, dan 31 kecamatan di Jember turun terlibat meramaikan acara.
Melihat itu, Cak Memet siap mendukung agenda besar Bupati Fawait yang ingin menjadikan Jember sebagai Miniatur of Indonesia.
Kepedulian Bupati Fawait kepada seni dan budaya menurut Cak Memet patut diapresiasi. Terlebih, acara yang dikemas dalam Apel Kebangsaan Cinta Pluralisme itu akan digelar selama tiga hari.
“Selain Kirab Pusaka Nusantara, nanti ada juga pagelaran wayang kulit dengan 20 dalang sekaligus, wah ini keren sekali,” ucap Cak Memet. (dan/ian).

















