Pasuruan, Kabarpas.com — Ratusan warga Pasuruan berkumpul di bawah sinar bulan purnama, untuk mengikuti Acara Rutin Purnamaan ke-9. Dengan mengenakan busana khas Jawa, sekitar 600 orang memadati area Masjid Agung Al Anwar dan Payung Madinah, dalam sebuah acara yang memadukan doa, budaya, dan semangat kebersamaan.
Acara yang diinisiasi oleh berbagai komunitas, seperti Komunitas Rahayu, Djati Bangsa, PWI LS, Matra, dan LP2BN ini, diawali dengan doa bersama di makam Kanjeng Pangeran Surga Surgi atau Niti Adiningrat, seorang tokoh leluhur Pasuruan. Setelah itu, acara dilanjutkan dengan ramah tamah di kawasan Payung Madinah.
Berbagai tokoh yang hadir menyampaikan pandangan mereka tentang pentingnya acara ini. Gus Wawan Purwanto Sidogiri dari Komunitas Rahayu berharap acara ini dapat menarik lebih banyak donatur seiring dengan bertambahnya jumlah peserta.
Senada, Romo Sulistyo dari Kasepuhan Pasuruan menyoroti acara ini sebagai wujud kesadaran kolektif terhadap jati diri bangsa. Menurutnya, pemahaman yang kuat akan identitas budaya dapat menjadi benteng untuk menghindari gejolak negatif di sektor ekonomi dan politik.
Sementara itu, Kiai Nurul Huda dari Ponpes Bugul Kidul memandang Purnamaan sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur dan sebuah teladan budaya Jawa yang harmonis dengan syariat Islam.
Gus Fadholi dari Komunitas Perjuangan Wali Songo Indonesia menambahkan, pentingnya edukasi tentang silsilah dan sejarah perjuangan tokoh-tokoh Pasuruan, khususnya Kanjeng Pangeran Surga Surgi.
Di sisi lain, Rakhmat Amaludin dari MATRA menekankan perlunya publikasi yang lebih luas agar acara Purnamaan semakin dikenal oleh masyarakat umum.
Acara ini berlangsung dengan tertib dan penuh kekhidmatan. Acara Rutin Purnamaan ke-9 ini tidak hanya menjadi ajang spiritual, tetapi juga momentum untuk memperkuat kebudayaan, spiritualitas, dan jati diri bangsa di tengah tantangan zaman. (rls/ian).

















