Pasuruan (Kabarpas.com) – Seorang bocah bernama Fery Tri Obama (6), warga Patoman, Kelurahan Kalirejo, Kecamatan Bangil, Kabupaten Pasuruan, selama bertahun-tahun harus melawan sakit infeksi otak yang saat ini dideritanya. Bahkan, anak dari pasangan Puguh Dwi Sujarwo (40) dan Nurjanah (43) ini pun sudah menjalani pengobatan di mana-mana. Namun, sayang tidak ada yang membuahkan hasil.
“Dia sudah saya bawa ke RSUD Bangil dan opname satu minggu. Akan tetapi, tidak ada hasil yang maksimal dan juga belum sembuh. Sehingga terpaksa saya bawa pulang dan pengobatannya dilakukan di rumah saja, “ujar Puguh, saat ditemui Kabarpas.com di rumahnya, Minggu, (14/08/2016).
Ia menjelaskan,Fery Tri Obama merupakan anaknya yang ketiga. Ia lahir pada 25 september 2010 lalu. Ketika usia tujuh sampai delapan bulan. Kondisinya yang masih merangkak, tiba-tiba mengalami sakit step atau kejang-kejang. Padahal suhu badannya normal. Sehingga harus dibawa ke rumah sakit terdekat.
Namun, pasca dari rumah sakit, bocah penderita ini masih mengalami kejang-kejang, meski dilakukan berbagai upaya pengobatan tradosional. Tapi, tak kunjung ada perubahan yang nampak. Bahkan, usaha lainnya agar sang buah hati sembuh terus dilakukan kedua orang tua Fery.
Sayangnya, kondisi anak yang diberi nama Presiden USA itu, ternyata masih juga mengalami hal serupa. “Waktu itu seminggu itu 60 kali step. Jadi kayak gak wajar rasanya,” imbuhnya.
Puguh mengaku, upaya untuk penyembuhan anak lelakinya tersebut terus diupayakan. Bahkan, ia pun tak putus asa. Dengan segala harapan, anak ketiganya itu dibawa ke Puskesmas setempat. Lagi-lagi harapan itu pupus, lantaran kondisi Fery masih menunjukkan ketidak sembuhan.
“Atas saran dokter di puskesmas tersebut, dan juga saat dibawa ke RSUD Bangil. Kami disarankan untuk segera membawanya ke rumah sakit Saiful Anwar. Akhirnya, kami pun minta rujukan ke malang RSSA,” ujarnya kepada Kabarpas.com.
Puguh menambahkan, pada tanggal 13 Mei 2011, anaknya tersebut sudah dibawa ke RSSA Malang. Sayangnya, juga tak membuahkan hasil yang diharapkan. Kepasrahan keluarga ini akhirnya mencapai puncaknya. Sebab selama hampir setahun kondisi Fery masih lemah tak bisa diobati. Bahkan, kondisinya sama masih terusan mengalami step-step.
“Dari hasil rekam medik, diotaknya diketahui adanya penyumbatan pembuluh darah bagian otak belakang. Terapi, obat tiga bulan dan CT Scan ulang 30 maret 2012 silam dan dinyatakan ada gejala virus diotak. Namun, karena tak ada hasil yang maksimal, disarankan rawat jalan habis opname selama setahun. Dan diberi saran untuk rawat jalan ke RSUD Bangil,”urainya.
Lebih lanjut, ia mengatakan, pada awal tahun 2016 dirinya juga sempat dikasih saran ke dr Hafid di Surabaya spesialis saraf. Pasalnya, selama ini pihaknya hanya memakai pengobatan umum.
“Kalau dulu sebagian berobat pakai BPJS kesehatan dan sebagian besar biaya sendiri. Saat ini biaya habis-habisan. Motor dijual, termasuk perabot rumah dan saat ini rumah dijaminkan ke bank Rp.20 juta, untuk biaya pengobatan, ” katanya kepada Kabarpas.com.
Akan tetapi, dirinya mengaku, untuk biaya anaknya ini, ia sudah tak ada uang lagi. Karena untuk biaya kehidupan, ia harus kerja keras di bengkel motor di kawasan Kancil Mas dengan pendapatan perhari Rp 70 ribu. Itupun hanya digunakan untuk biaya keperluan keluarga, meski terkadang dibantu orang tua. Sehingga kini ia pun hanya bisa pasrah dengan kondisi anak kesayangannya tersebut.
“Sampai sekarang dia ini terus mengalami kejang. Bahkan, setiap hari bisa dua kali. Kalau tidur teratur masih aman. Tapi, kalau tidak ya kejang-kejang. Makannya hanya bubur,” pungkasnya. (ajo/tin).

















