Jember, Kabarpas.com – Bupati Jember Muhammad Fawait menegaskan bahwa program Bunga Desaku dan Gus’e Menyapa menjadi instrumen utama pemerintah daerah untuk mendekatkan pelayanan publik sekaligus memastikan program pemerintah benar-benar dipahami masyarakat hingga pelosok desa. Hal itu disampaikan dalam pelantikan pejabat hasil restrukturisasi organisasi perangkat daerah (OPD) berdasarkan SOTK 2026.
Menurut Fawait, pembangunan tidak boleh berhenti di ruang rapat dan pusat kota. Pemerintah harus hadir langsung di tengah masyarakat, terutama mereka yang tinggal di desa, wilayah pinggir hutan, pesisir, dan kawasan terpencil.
“Jember bukan hanya kota. Ada desa, pelosok, pinggir hutan, pinggir pantai. Banyak masyarakat yang selama ini bahkan belum pernah bertemu kepala OPD,” tegas Fawait.
Melalui program Bunga Desaku dan Gus’e Menyapa, Bupati secara langsung turun ke lapangan bersama jajaran OPD untuk menyapa warga, mendengar keluhan, sekaligus menyosialisasikan program-program pemerintah. Fawait menekankan bahwa kehadiran pemerintah di tingkat bawah bukan sekadar simbolik, melainkan bagian dari upaya memastikan keadilan akses informasi dan layanan.
Ia mencontohkan pengalamannya saat bertakziah ke wilayah Kecamatan Tanggul. Di lokasi tersebut, ia mendapati masih banyak warga yang belum mengetahui keberadaan program Universal Health Coverage (UHC).
“Di sana saya temukan masyarakat belum tahu program UHC. Padahal ini program penting. Dari situ saya sadar, sosialisasi harus sampai ke pelosok,” ujarnya.
Karena itu, Fawait meminta jajaran OPD tidak ragu melakukan sosialisasi secara masif, termasuk melalui pemasangan banner di desa-desa. Ia menegaskan langkah tersebut bukan untuk kepentingan pencitraan.
“Tidak semua masyarakat pegang media sosial. Ada yang jangankan beli pulsa, untuk makan saja susah. Banner itu bagian dari ikhtiar agar masyarakat tahu haknya,” katanya.
Fawait mengklaim, melalui Bunga Desaku dan Gus’e Menyapa, pemerintah dapat mendengar aspirasi warga secara langsung. Ia menyebut, ribuan warga telah diajak berdialog dan diminta menyampaikan persoalan yang mereka hadapi sehari-hari.
“Tidak ada dalam sejarah di Jember, ribuan orang ditanya satu per satu apa masalahnya dan mereka menyampaikan dengan tulus,” ujarnya.
Dalam kesempatan yang sama, Fawait juga menegaskan bahwa pelantikan pejabat baru merupakan bagian dari implementasi SOTK 2026 yang bertujuan menciptakan organisasi pemerintahan yang lebih ramping, efisien, dan kaya fungsi. Sejumlah OPD digabung untuk memperkuat koordinasi dan efektivitas kerja.
Ia menegaskan, ke depan kinerja OPD akan diukur secara ketat berdasarkan capaian konkret, termasuk penurunan angka kemiskinan, peningkatan pendapatan daerah, serta indikator ekonomi lainnya. Evaluasi kinerja akan dilakukan secara berkala dan berpotensi diikuti perombakan jabatan.
“Yang saya lihat bukan cerita, tapi angka. Angka kemiskinan, CPI, dan capaian kinerja lainnya,” tegasnya.
Fawait juga memastikan komitmen pemerintah daerah terhadap kesejahteraan aparatur sipil negara (ASN) tetap terjaga. Meski APBD mengalami tekanan akibat berkurangnya transfer dari pemerintah pusat, ia menegaskan Tunjangan Penghasilan Pegawai (TPP) di Kabupaten Jember tidak dikurangi.
“Di saat banyak daerah mengurangi TPP, di Jember tidak saya kurangi sedikit pun. Ini bentuk penghargaan atas kerja keras ASN selama 10 bulan ini,” ujarnya.
Terkahir, Fawait meminta seluruh pejabat yang dilantik untuk menjadikan Bunga Desaku dan Gus’e Menyapa sebagai ruh pelayanan publik. Ia menegaskan bahwa kebijakan kepala daerah harus dijalankan secara konsisten, karena keberhasilan pembangunan Jember ditentukan oleh keberanian pemerintah hadir dan bekerja bersama masyarakat. (dan/ian).

















