Oleh : Abdur Rozaq
KABARPAS.COM- MENURUT kitab suci yang saya imani, orang-orang baik sebenarnya tidak wafat meski secara fisik sudah dikebumikan. Secara rohani, mereka mendapat semacam nepotisme Tuhan untuk terus hidup. Di alam nyata, keberadaan mereka juga masih bisa kita rasakan.
Gus Dur misalnya, meski sudah sewindu pulang ke kediaman asalnya, tiap saat beliau masih menjadi narasumber diskusi, sarasehan, menafkahi penulis buku biografi, menyumbang yayasan-yayasan yang mencantumkan namanya, menjewer anak-anak bangsa yang tak pernah lelah jotosan dengan sesama saudara, bahkan bisa jadi, sedang menempeleng Doald Trump melalui tangan-tangan para aktivis anti rasisme.
Jangankan manusia ndablek seperti Trump, wong Wak Takrip yang berjualan kacang godog di seputar makamnya saja, masih dinafkahi oleh Gus Dur. Maka tak heran jika kian hari kian banyak yang merindukan Gus Dur, untuk kembali diangkat sebagai presiden.
Yang paling malu dan merasa berdosa—jika masih memiliki nurani—adalah golongan barisan sakit hati yang dulu mati-matian melengserkan Gus Dur dari kursi presiden. Apalagi, ternyata mereka juga “gagal” untuk menggantikan posisi Gus Dur sebagai presiden, ketua MPR atau setidaknya sebagai pemimpin parpol yang diberhalakan kadernya.
Harapan kosong mereka malah menjadi bumerang. Alih-alih menjadi seperti Gus Dur yang memiliki ajian Rawarontek sehingga tak mati-mati, wong masih hidup saja, meski mulai tersiksa oleh kolesterol, sudah dianggap gendruwo yang saat masih hidup pun, telah diharapkan kematiannya oleh mayoritas rakyat berakal waras.
Sekarang, hampir semua orang bergumam “kangen Gus Dur.”
Mereka yang dulu ikut menjelek-jelekkan Gus Dur karena termakan fitnah di koran kuning atau statemen politisi ndablek di media, merasa berdosa ketika Gus Dur sudah tak bisa di-sowani setiap saat. Keadaan sudah terlanjur carut- marut, namun manusia sakti yang rela menjadi tumbal dan pasang badan “menghalang-halangi” takdir kehancuran telah dijemput Tuhan.
Seakan Tuhan berkata “ayo pulang saja, anak-anakmu tidak tahu terima kasih. Percuma ngurusi mereka. Kau pulang saja, biar adzab bisa kupercepat.”
Dulu, kaum penghobi demo berjilid-jilid menghujat Gus Dur karena beliau berencana menjalin hubungan diplomasi dengan Israel.
Dengan kedangkalan akal yang dilegalisasi potongan ayat suci salah pasang, mereka menuduh Gus Dur zionis militan anggota iluminati. Sekarang di alamnya sana, mungkin saja Gus Dur sedang kongkow menikmati “kacang Dua Kelinci” kesukaannya seraya bergumam “jihad kok bawa spanduk di depan kedubes AS? Mana bisa sampai aspirasimu kalau dititipkan sama Amerika? Jihad kok memboikot produk zionis, efeknya apa? Jihad itu ya mengajak petinggi Israel ngopi bareng, diajak guyon dengan anekdot-anekdot cerdas, lalu dibisiki agar ndak mencaplok Yerussalem. Orang kalau akrab kan, minta apa saja bisa? Gitu aja kok repot?”.
Dulu, Gus Dur berkali-kali bilang jika segenap jurus mabuk yang beliau gunakan untuk bermanuver sudah beliau pertimbangkan. “Biar sejarah yang membuktikan,” kata beliau. Kabar buruknya, apa yang dikatakan Gus Dur banyak benarnya. Undang-undang pembekuan PKI hendak dicabut, adalah trik jebakan Batman agar –jika memang masih ada—PKI asli akan muncul ke permukaan dan kita bisa mewaspadainya. Ajinomoto dihalalkan, biar PHK besar-besaran terhadap karyawannya tidak terjadi. Inul Daratista dibela, biar suatu kali ia memodifikasi goyangannya. Dan benar, ketiga contoh kecil dari ratusan “kesembronoan” Gus Dur ini memang lebih besar manfaatnya daripada ngamuk-ngamuk membawa pentungan.
Sedikit kabar baik, Gus Dur ternyata sedang dan akan terus “bereinkarnasi”. Terbukti, orang makin rindu sosoknya, forum-forum diskusi makin getol mengkaji pemikirannya. Anak-anak bangsa yang masih waras, meski berbeda agama, suku, pandangan serta ideologi, saling bergandengan mengaku sebagai anak-anak Gus Dur.
Pembakaran tempat-tempat ibadah berkurang meski para politisi selalu membayar preman untuk melakukannya. Bahkan saking akrabnya, anak-anak bangsa bergantian melakukan ritual ibadah di tempat ibadah umat lain, sebagaimana yang ditolak oleh Nabi Muhammad saat orang Qurays menawarkan merger ibadah. Gus Dur belum wafat, hanya kita masih saja salah tafsir memahami ajarannya. (***).

















