Jember, Kabarpas.com -Dentuman drum dan tiupan terompet memenuhi kawasan Alun-alun Jember, Sabtu (8/8/2026) malam. Barisan peserta marching band bergerak dalam irama yang sama, membawa warna dan identitas masing-masing.
Malam itu menjadi bagian dari International Jember Marching Carnival (IJMC) 2026, event yang digelar selama tiga hari, 7–9 Agustus 2026. Sebanyak 32 tim dari berbagai daerah di Indonesia ambil bagian, termasuk satu tim dari Thailand.
Ketua KORMI Jember sekaligus Ketua Panitia IJMC 2026, Tri Basuki, mengatakan IJMC tidak sekadar menjadi ajang pertunjukan atau kompetisi marching band.
“Ini adalah panggung ekspresi anak-anak bangsa di atas irama drum, tiupan terompet, dan langkah baris yang tegas,” kata Tri saat pembukaan Night Street Parade di Alun-alun Jember.
Menurutnya, setiap penampilan peserta merupakan hasil dari latihan panjang, disiplin, kerja sama, dan kecintaan terhadap seni sekaligus olahraga.
Pada hari pertama, Jumat (7/8), digelar Colour Guard Battle, Drumline Battle, dan Brass Battle. Sehari kemudian, kejuaraan Street Parade mempertandingkan divisi Junior dan Senior Non Brass yang diikuti 15 satuan drumband dan marching band.
Malam harinya, 18 satuan marching band tampil dalam International Night Street Parade, yang mempertandingkan Open Class, Military Class, dan International Class.
Secara keseluruhan, kompetisi IJMC 2026 terbagi dalam empat kelas, yakni Junior Class, Senior Class, Open Class, dan Military Class.
Yang membuat gelaran tahun ini berbeda adalah kehadiran peserta internasional. Brass Projection dari Thailand, kelompok marching band dari Samutprakan School, turut tampil di tengah peserta Indonesia.
Tri menyebut kehadiran mereka sebagai tanda bahwa Jember mulai menjadi ruang perjumpaan internasional melalui musik.
“Melalui musik dan baris-berbaris kita bicara dengan bahasa yang sama, bahasa persaudaraan,” ujarnya.
Bagi Pemerintah Kabupaten Jember, IJMC menjadi bagian dari upaya memperluas identitas kota yang selama ini lekat dengan Jember Fashion Carnaval (JFC).
Bupati Jember Muhammad Fawait mengatakan pemerintah daerah ingin Jember tidak hanya dikenal sebagai kota fashion carnival, tetapi juga sebagai salah satu pusat marching band carnival di Indonesia.
“Jember dikenal sebagai kota karnaval, fashion carnival dengan JFC-nya. Dan hari ini Jember sedang berjuang menjadi salah satu kota yang kembali menjadi pusat marching band karnival di Indonesia. Kita harus berjuang bersama,” tandas Fawait.
Ia menilai penyelenggaraan event semacam IJMC tidak hanya berkaitan dengan pertunjukan dan kompetisi. Ada pergerakan ekonomi yang mengikuti kedatangan peserta dan penonton.
Menurut Fawait, Pemkab Jember bersama DPRD berupaya melakukan efisiensi dalam APBD 2026. Namun, kegiatan yang dinilai memiliki dampak ekonomi luas tetap mendapat ruang.
Ia mencontohkan JFC yang sebelumnya disebut menghasilkan perputaran ekonomi sekitar Rp120 miliar hingga mendekati Rp200 miliar selama rangkaian tiga hari pelaksanaan.
“Saya yakin puluhan miliar juga berputar mulai dari kemarin, hari ini, besok sampai akhir dari event ini,” ujarnya.
Perputaran ekonomi itu, kata Fawait, diharapkan mengalir ke berbagai lapisan, mulai dari UMKM, pedagang kaki lima hingga sektor perhotelan.
Sementara Tri berharap IJMC dapat menjadi panggung yang mempertemukan seni, olahraga, pariwisata, sekaligus persahabatan.
“Jember tidak hanya indah dalam moda, tetapi juga kuat dalam musik, seni pertunjukan, pariwisata, dan olahraga,” katanya.
Malam itu, di bawah sorot lampu dan suara marching band, Jember mencoba menambahkan satu identitas baru pada kota yang selama ini sudah dikenal lewat parade busana. Yakni, sebagai kota marching carnival. (dan/ian).

















