Pasuruan, Kabarpas.com – Ketua Forum UMKM Jawa Timur, Nico Trisno P memiliki tips khusus untuk para wirausahawan dalam menghadapi krisis di pusaran wabah corona. Apa saja tips tersebut? Berikut yang ia bocorkan untuk pembaca setia Kabarpas.com:
Menghemat Biaya Menghemat biaya dengan hanya untuk keperluan yang penting atau primer, antara lain yaitu seperti pembelian bahan baku, bumbu-bumbu untuk produksi.
Menunda Pembelian Alat Produksi Menunda pembelian alat-alat produksi bila dianggap tidak urgent, misalnya menganti merek baru (bila dimungkinkan).
Mengurangi Promo Mengurangi promo yang besar sampai 30 persen dari biaya produksi.
Menjaga dan Meningkatkan Bisnis yang Sudah Ada Menjaga mitra yang sudah ada agar tetap terjalin dengan baik. Sehingga pasar lokal tetap stabil.
Mengurangi Hidup Boros Mengurangi hidup boros misalnya mengganti sepeda baru, handphone baru (konsumerisme).
Menenkan Pos-pos Biaya yang Dianggap Belum Urgent Lebih baik memanfaatkan barang yang sudah ada, kalau masih bisa cukup diperbaiki.
Jangan Mudah Terpancing Info Hoax Tetap semangat dan tidak terlalu khawatir dengan situasi yang ada saat ini, serta tidak mudah terpancing dengan informasi hoax.
“Itu 7 point tips dari saya yang bisa membantu menjadi solusi dalam menghadapi krisis di pusaran wabah corona. Mudah-mudahan ini semua segera terlewati dan berakhir,” ujar pria yang juga asesor kompetensi kewirausahaan di Lembaga Sertifikasi Profesi MWPM Unmer Malang tersebut.
Selain itu, alumnus Fisipol Unair Surabaya ini mengatakan bahwa UKM merupakan ekonomi kerakyatan, baik di kota maupun pedesaan. Yang kebanyakan bahan bakunya hampir 100 persen disediakan di wilayah masing-masing (baik perkebunan, pertanian, perikanan, peternakan dll. Di mana kegiatan perekonimuan tersenut berlangsung lama.
“Dan ternyata pengalaman krisis moneter pada tahun 97 sangat tidak berpengaruh ke rupiah anjlok. Nah, di era krisis corona. UKM diuji untuk kedua kalinya. Sehingga bagaimana peluang dan eksistensi keberadaan perekonomian rakyat tersebut harus dihadapi,” ungkapnya.
Menurutnya, ketahanan ekonomi rakyat tetap eksis karena tidak banyak tergantung dengan bahan impor. Sebab bahan baku tersedia di masyarakat dan tenaga kerja dari masyarakat setempat.
“Pasar atau konsumen juga masyarakat setempat jadi perputaran ekonomi tersebut masih bisa berjalan sebagaimana mestinya. Namun, demikian ada beberapa yang mengalami penurunan permintaan atau omzet. Misalkan yang memiliki konsumen tetap di bali, malang, surabaya, jakarta,” terangnya.
“Karena daerah tersebut menjadi perharian pemerintah keluar – masuknya mobilitas manusia yang sangat tinggi, baik keluar masuk dari dalam maupun luar negeri mengalami penurunan. Namun, sebagai pengusaha kecil tidak boleh mengeluh pada keadaan. Dan harua mencari peluang antara lain menggeser pasar yang belum dijamah, itu bisa kabupaten atau kota lain,” pungkasnya. (***/hib).

















