Menu

Mode Gelap
Wujudkan Mimpi Pebasket Muda Jatim, MPM Honda Jatim Gelar Honda DBL 2023 East Java Series Dukungan Mas Dion Maju Cabup Pasuruan 2024 Kian Masif

KABAR NUSANTARA · 9 Mar 2026

Jaga Defisit APBN, Anis Byarwati Sepakat Opsi Menkeu Pangkas MBG dan Tunda Belanja Infrastruktur


Jaga Defisit APBN, Anis Byarwati Sepakat Opsi Menkeu Pangkas MBG dan Tunda Belanja Infrastruktur Perbesar

Jakarta, Kabarpas.com – Anggota DPR RI Anis Byawati sepakat dengan ide Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa yang membuka opsi melakukan pemangkasan anggaran program Makan Bergizi Gratis (MBG) dan menunda sebagian belanja infrastruktur yang bersifat multi-years , apabila lonjakan harga minyak mentah dunia memicu pelebaran defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2026 lewati batas aman 3%. “Defisit APBN kita memang sudah semakin mengkuatirkan, defisit APBN 2025 sebesar 2,96% saja merupakan yang tertinggi paska era reformasi, dengan mengecualikan pandemi,” ujarnya pada sela-sela reses anggota DPR RI di Jakarta.

Anggota Badan Anggaran (Banggar) DPR RI ini juga memberikan analisa bahwa naiknya defisit anggaran bukan hanya dari potensi lonjakan harga minyak mentah imbas konflik Iran-Israel-Amerika saja. “Tetapi dari asumsi pertumbuhan penerimaan perpajakan APBN 2026 dipatok telampau tinggi sebesar 21,5%, lebih tinggi dari asumsi tingkat pertumbuhan natural sekitar 7,5%, maka ada potensi pendapatan negara akan sulit mencapai target dan defisit APBN 2026 berpotensi melebihi 3 %, karena target penerimaan pajak meleset” katanya.

Anis menyebut opsi pemangkasan program MBG cukup masuk akal, karena besarnya ukuran anggaran program tersebut sebesar Rp335 triliun, selain itu Fitch Rating juga menyoroti program MBG karena dinilai berpotensi menekan belanja negara dan memperlebar defisit fiskal. “Apalagi dengan hasil simulasi risiko (stress test) yang dilakukan pemerintah terhadap kemungkinan kenaikan harga minyak dunia menyentuh US$ 92 per barel rata-rata per tahun akibat eskalasi konflik,” ungkapnya.

Anggota Komisi XI DPR RI ini mengingatkan, kemungkian melebarnya defisit baik dari sisi internal atau eksternal perlu diantisipasi oleh pemerintah. “Sebelumnya Moody’s Investor Service menyoroti risiko fiskal dan defisit APBN, serupa dengan Fitch Rating yang menyebut defisit anggaran diproyeksikan sekitar 2,9% pada tahun 2026 diatas target APBN 2,69%,” katanya.

Legislator PKS ini mengungkapkan bahwa opsi pilihan kebijakan apapun yang diambil oleh pemerintah, harus memiliki dampak paling minimum.

“Menaikan administered price (harga yang diatur pemerintah), seperti BBM, LPG, atau listrik akan semakin menekan dan menurunkan daya beli masyarakat yang belum pulih, sehingga pilihan memangkas atau penyesuaian program diyakini lebih rasional seperti memangkas anggaran program MBG dan menunda sebagian belanja infrastruktur yang bersifat multi-years,” paparnya. (ren/ian).

Artikel ini telah dibaca 20 kali

Baca Lainnya

Bangun Ekosistem Entrepreneurship, Dinas Koperasi dan UKM Provinsi Jatim Berkolaborasi dengan KADIN dan Universitas Ciputra Surabaya

27 Juni 2026 - 08:21

Belum Bisa Naik Motor? Belajar dari Awal dengan Benar, Jadi Jago Cari_Aman Biar Happy

27 Juni 2026 - 08:10

MPM Honda Jatim Perkuat Kesiapan Karyawan Hadapi Situasi Darurat melalui Pelatihan di MPM Motor Cabang Ponorogo

27 Juni 2026 - 08:07

Webinar Internasional Hadis Indonesia–Malaysia: Ma’had Aly Hasyim Asy’ari Tebuireng dan UPSI Perkuat Kolaborasi Akademik Pembelajaran Hadis

27 Juni 2026 - 08:03

Kemenag dan BI Dorong Rohis Jadi Agen Perubahan dan Penggerak Literasi Syariah di Ruang Digital

27 Juni 2026 - 07:59

Ilmu Sosiologi di Pesantren Terpadu Al-Yasini

27 Juni 2026 - 07:51

Trending di Kabar Terkini