Oleh: Nasuri, S.Sos.I
Ketua ZISWAF Yayasan Sanggar Baca Jendela Dunia – Ciputat
KABARPAS.COM – DALAM hidup, kita semua punya sesuatu yang sangat kita cintai—seperti pelaut yang menggenggam kompas di tengah badai. Tapi, bagaimana jika kompas itu harus dilepaskan demi arah yang lebih tinggi? Nabi Ibrahim pernah berada di persimpangan itu. Anaknya, Ismail, adalah anugerah yang sudah lama dinantikan. Namun, ketika perintah Tuhan datang untuk mengorbankan sang putra, Ibrahim tidak ragu. Hatinya luluh, tapi kepercayaannya utuh.
Bayangkan seorang petani yang harus menanam benih terbaiknya ke dalam tanah gelap. Ia tidak tahu apakah benih itu akan tumbuh, tapi ia percaya. Nabi Ibrahim mengajarkan kita bahwa melepaskan bukan berarti kehilangan, tapi bentuk tertinggi dari percaya. Ia tahu, ketika Tuhan meminta sesuatu yang berharga, itu karena Dia sedang menyiapkan yang jauh lebih besar.
Kita sering kali terjebak dalam rasa takut kehilangan: pekerjaan, orang terdekat, kenyamanan. Tapi kisah ini mengajarkan, justru dengan melepaskan, kita sedang menumbuhkan ruang di hati untuk sesuatu yang lebih bermakna. Nabi Ibrahim tidak tahu akhir ceritanya, namun ia tetap melangkah. Dan di ujung ujian, Tuhan mengganti Ismail dengan seekor domba. Sebuah keajaiban lahir dari kepasrahan.
Dalam dunia yang serba cepat dan penuh ketidakpastian ini, kita bisa meneladani ketenangan hati Nabi Ibrahim. Ia tidak gelisah saat diuji, karena ia yakin pada Tuhan yang Maha Menjaga. Seperti langit yang selalu menyimpan matahari, meski sesekali tertutup awan—percaya bahwa terang pasti akan datang kembali.
Akhirnya, kisah Nabi Ibrahim bukan sekadar cerita masa lalu. Ia adalah pelita di tengah kegelapan ragu. Bahwa terkadang, untuk mendapatkan cahaya, kita harus rela melepas bayangan. Dan di situlah letak kekuatan: ketika kita belajar mencintai tanpa menggenggam terlalu erat.
Harta yang kita punya, jabatan yang kita emban, ilmu yang kita miliki. Semua itu hanyalah titipan Tuhan. Kelak semua itu akan diminta pertanggungjawabannya. Darimana harta yang kamu dapat dan kemana kamu membelanjakannya? Beruntunglah mereka yang membelanjakannya di jalan yang baik seperti berwakaf. Sebagaimana yang telah teman-teman lakukan untuk berwakaf atas pendirian Pesantren Jendela Dunia. (***).

















