Menu

Mode Gelap
Wujudkan Mimpi Pebasket Muda Jatim, MPM Honda Jatim Gelar Honda DBL 2023 East Java Series Dukungan Mas Dion Maju Cabup Pasuruan 2024 Kian Masif

Kabar Terkini · 23 Mei 2025

Ketika Hati Harus Melepaskan: Belajar dari Kisah Nabi Ibrahim


Ketika Hati Harus Melepaskan: Belajar dari Kisah Nabi Ibrahim Perbesar

Oleh: Nasuri, S.Sos.I
Ketua ZISWAF Yayasan Sanggar Baca Jendela Dunia – Ciputat

 

KABARPAS.COM – DALAM hidup, kita semua punya sesuatu yang sangat kita cintai—seperti pelaut yang menggenggam kompas di tengah badai. Tapi, bagaimana jika kompas itu harus dilepaskan demi arah yang lebih tinggi? Nabi Ibrahim pernah berada di persimpangan itu. Anaknya, Ismail, adalah anugerah yang sudah lama dinantikan. Namun, ketika perintah Tuhan datang untuk mengorbankan sang putra, Ibrahim tidak ragu. Hatinya luluh, tapi kepercayaannya utuh.

Bayangkan seorang petani yang harus menanam benih terbaiknya ke dalam tanah gelap. Ia tidak tahu apakah benih itu akan tumbuh, tapi ia percaya. Nabi Ibrahim mengajarkan kita bahwa melepaskan bukan berarti kehilangan, tapi bentuk tertinggi dari percaya. Ia tahu, ketika Tuhan meminta sesuatu yang berharga, itu karena Dia sedang menyiapkan yang jauh lebih besar.

Kita sering kali terjebak dalam rasa takut kehilangan: pekerjaan, orang terdekat, kenyamanan. Tapi kisah ini mengajarkan, justru dengan melepaskan, kita sedang menumbuhkan ruang di hati untuk sesuatu yang lebih bermakna. Nabi Ibrahim tidak tahu akhir ceritanya, namun ia tetap melangkah. Dan di ujung ujian, Tuhan mengganti Ismail dengan seekor domba. Sebuah keajaiban lahir dari kepasrahan.

Dalam dunia yang serba cepat dan penuh ketidakpastian ini, kita bisa meneladani ketenangan hati Nabi Ibrahim. Ia tidak gelisah saat diuji, karena ia yakin pada Tuhan yang Maha Menjaga. Seperti langit yang selalu menyimpan matahari, meski sesekali tertutup awan—percaya bahwa terang pasti akan datang kembali.

Akhirnya, kisah Nabi Ibrahim bukan sekadar cerita masa lalu. Ia adalah pelita di tengah kegelapan ragu. Bahwa terkadang, untuk mendapatkan cahaya, kita harus rela melepas bayangan. Dan di situlah letak kekuatan: ketika kita belajar mencintai tanpa menggenggam terlalu erat.

Harta yang kita punya, jabatan yang kita emban, ilmu yang kita miliki. Semua itu hanyalah titipan Tuhan. Kelak semua itu akan diminta pertanggungjawabannya. Darimana harta yang kamu dapat dan kemana kamu membelanjakannya? Beruntunglah mereka yang membelanjakannya di jalan yang baik seperti berwakaf. Sebagaimana yang telah teman-teman lakukan untuk berwakaf atas pendirian Pesantren Jendela Dunia. (***).

Artikel ini telah dibaca 37 kali

Baca Lainnya

Jalan Sehat Bersama Semarakkan Puncak Peringatan Harkopnas ke-79 di Kabupaten Probolinggo

26 Juli 2026 - 07:46

Bupati Haris dan INOVASI Perkuat Kolaborasi Tingkatkan Mutu Pendidikan Kabupaten Probolinggo

26 Juli 2026 - 07:41

Zita Anjani, Utusan Khusus Presiden: Jember Pionir Karnaval Indonesia, Potensi Wisatanya Paket Lengkap

25 Juli 2026 - 18:59

Fraksi NasDem DPRD Jember Apresiasi Program Home Care, Sebut Permudah Akses Layanan Kesehatan

25 Juli 2026 - 18:55

Perkuat Sinergitas, Polri, Kejaksaan, Pengadilan, dan Lapas, Polres Jombang Gelar Olahraga Bersama

25 Juli 2026 - 18:53

PDI Perjuangan Jember Siap Bersinergi Sukseskan Program Home Care

25 Juli 2026 - 17:53

Trending di KABAR NUSANTARA