Jember, Kabarpas.com – Anak tidak pernah punya kesempatan memilih dari keluarga mana ia dilahirkan. Karena itu, orang tua perlu belajar mencintai anak tanpa menjadikan keinginan mereka sebagai ukuran masa depan si anak.
Pesan itu disampaikan Ketua TP PKK Kabupaten Jember, Ghyta Eka Puspita saat berbincang bersama para ibu PKK dan Forum Anak Jember di Pendopo Wahyawibawagraha, Sabtu (8/8/2026) malam.
Kegiatan tersebut merupakan bagian dari rangkaian kunjungan kerja Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) RI Arifah Fauzi ke Jember dalam rangka Hari Anak Nasional 2026.
Ning Ghyta, sapaan Ghyta Eka Puspita, mengajak orang tua bertanya kepada diri sendiri, berbagai keputusan yang dibuat untuk anak itu benar-benar keinginan anak atau justru keinginan orang tua.
“Sebetulnya itu kepengen anaknya apa kepengen orang tuanya? Ada enggak yang pernah kepikiran sampai di titik situ, Ibu-Ibu?” tutur Ghyta bertanya.
Menurutnya, orang tua memilih pasangan dengan sadar. Anak tidak memiliki pilihan ketika dilahirkan. Karena itu, kesadaran dalam mengasuh perlu dibangun sejak awal.
“Anak itu bisa enggak memilih lahir dari orang tua seperti apa? Enggak bisa. Makanya bangunlah kesadaran itu dengan cara mencintai yang lebih baik,” ujarnya.
Ning Ghyta memperkenalkan konsep “Kurikulum CINTA” sebagai cara sederhana untuk mengingat kembali bagaimana orang tua mendampingi anak.
CINTA merupakan singkatan dari “Cari cara sepanjang masa, Ingat impian keluarga, Nerima tanpa drama, Tidak takut salah, dan Asyik main bersama”.
Ia mengajak orang tua untuk terus belajar. Ketika cara mendidik anak tidak berhasil, orang tua tidak perlu berhenti, melainkan mencari pendekatan lain.
“Ketika saya salah, kembali lagi, cari cara sepanjang masa,” ucapnya.
Ghyta juga mengingatkan agar orang tua tidak menumpuk keinginan masa lalu kepada anak.
Ia mengibaratkan anak sebagai bibit tanaman. Bibit cabai, katanya, tidak mungkin dipaksa menjadi semangka. Tugas orang tua adalah menyirami dan memupuk agar bibit tersebut tumbuh menjadi tanaman yang unggul.
“Bagaimana menjadi orang tua yang bukan otoriter, tapi otoritatif. Menumbuhkan potensi terbaik putra-putrinya,” ujarnya.
Menurut Ning Ghyta, rumah merupakan tempat pertama anak mendapatkan rasa aman. Ia bahkan mengatakan persoalan anak tidak tepat jika hanya dilihat dari istilah broken home.
“Enggak ada anak yang broken home. Adanya broken heart,” kata dia.
Karena itu, ia mengajak orang tua menciptakan rumah yang aman dan nyaman. Salah satu caranya adalah hadir sepenuh hati ketika anak membutuhkan orang tua.
“Kalau jenengan diajak ngobrol sama putra-putri, HP-nya ditaruh enggak, Pak?” ujarnya.
Selain hadir sepenuh hati, Ghyta menyebut enam hal lain yang perlu dibangun, yaitu menunjukkan empati, memiliki rasa ingin tahu terhadap anak, menciptakan interaksi menyenangkan, berani terbuka, memvalidasi emosi, serta mengelola waktu dengan baik.
Ia menilai pendidikan keluarga tidak bisa dikerjakan sendirian. PKK, komunitas anak, organisasi perempuan, pemerintah, dan keluarga perlu saling menguatkan.
“Kalau kita enggak gandengan tangan, enggak bisa. Segala permasalahan kalau dikerjakan sendiri, capek, ruwet,” katanya.
Pada akhirnya, Ghyta tidak menawarkan resep menjadi orang tua sempurna. Ia justru mengajak para orang tua untuk menjadi pembelajar sepanjang hayat.
“Karena tidak ada orang tua yang sempurna,” ujarnya. (dan/ian).

















