Oleh : Abdur Rozaq
(KABARPAS.COM) – Sejak datang sampai kopinya dikerubung laler, Cak Jono tengar-tenger di pojok warung Cak Suep. Cak Kape heran, dengaren Cak Jono tidak nggedabrus seperti tim sukses caleg begitu. Biasanya, Cak Jono mirip kantor berita. Setiap kali ngopi, orang tak perlu baca koran karena berita lokal, nasional bahkan isu politik selalu berhamburan dari mulut Cak Jono yang sulit migkem itu.
Jangankan Pak Lurah, wong Perdana Menteri Israel sajadipaiduh. Jangankan bikin KTP dipersulit, wong orang pakai sepeda motor yang lampunya pas ke mata saja ia ribut. Ini kok aneh.
“Ndak enak badan ta, cak?” tegur Cak Kape ingin tahu.
“Pusing, cak.”
“Migrain, ta?”
“Wah, sakit kepalanya mulai gulu sampai mbun-mbunan.”
“Lho?”
“Lha bagaimana, nyambut gawe sepi, cicilan di mana-mana, biaya anak sekolah terus mundak, setoran naik tapi penumpang swepi. Tuwas muter-muter menghabiskan bensin ndak ada penumpang.”
“Ya biasa, cak. Orang nyambut gawe ya ada sepi ada rame,” hibur Cak Suep.
“Sekarang ndak, Cak Suep. Dulu pas awal-awal musim orang kredit motor, penumpang hanya turun sekitar tiga puluh persen. Lha sekarang setelah ada ojek online, penumpang turun tujuh puluh persen. Paling yang nyegat cuma anak sekolah. Bayarnya separuh harga. Kalau ditarik ongkos penuh nanti ditegur pemerintah, sedangkan pemerintah sendiri ndak nemponi kekurangannya.”
“Lha terus?” Cak Kape penasaran.
“Rencananya teman-teman sopir angkot dan tukang becak mau demo, menuntut agar ojek online juga dilarang di kota ini!”
“Lhuk?”
“Lha bagaimana, wong mereka ndak sportif. Bensin lima liter sudah bisa ke mana-mana, tarifnya sama dengan angkot. Sing nggeregetno, mereka bebas trayek, dan konon yang mengelola aplikasi kapitalis dari Eropa sana.” Cak Jono mulai terlihat emosional. Terlihat dari tangannya yang mengepal seperti orang hendak jotosan.
“Cak, pengelola aplikasi ojek online itu wong Jowo, cak. Tukang ojeknya juga wong Jowo, bahkan bisa jadi sholat Jumat sama kita,” lerai Cak Murtado.
“Pokoknya harus dilarang, ngerusak pasaran!”
“Lhuk, ndak ilok, cak. Sama-sama rakyat Indonesia Raya, sama-sama wong Jowo, sama-sama umatnya Kanjeng Nabi, sama-sama nyambut gawe ngingoni anak-bojo.”
“Lha sopir angkot sudah lebih dulu, apalagi trayeknya jelas,” ujar Cak Jono masih ngotot.
“Tukang becak mungkin dulu pernah merasa begitu ketika pertama kali ada angkot di kota ini. Lama-lama ya akur sama sedulur-sedulur sopir angkot. Rejeki wis ono takerane dewe–dewe, cak. Ndak boleh ngamuk-ngamuk kita,” sergah Cak Murtado.
“Sampeyan ini mbelo tukang ojek online itu, ya? Dibayar berapa sampeyan kok sampai tega sama konco dewe?” Cak Jono muntab.
“Lhuk! Sampeyan ini, wong kita sunat saja bareng, la lapo saya ndak bolo sampeyan?” Cak Murtado meredam suasana.
“Ini bagus, cak. Dengan beroperasinya ojek online sejak Agustus lalu, bisa membuat kita fastabiqul khairat alias berlomba apik-apikan melayani penumpang,” sela Gus Hasyim.
“Penumpang kan butuh cepat? Mungkin selama ini sedulur-sedulur sopir angkot terlalu lama kalau nge-time. Bisa juga penumpang yang pindah menjadi pelanggan ojek online punya gejala darah tinggi, mudah pusing kalau kita ngerem dan menginjak gas suka mendadak. Ojek online, juga bisa mengurangi jumlah emak-emak yang suka naik motor sendiri. Biar insiden ngeriting kanan tapi belok kiri ndak terus ngetrend dan menyebabkan banyak kecelakaan.” Cak Jono tidak berkomentar, mungkin karena sungkan sama Gus Hasyim.
“Kalau jasa angkutan hanya dipercayakan sama sedulur-sedulur tukang becak dan sopir angkot, bisa-bisa pelayanan terhadap penumpang takkan ada peningkatan. Sama dengan rumah sakit pemerintah, karena belum banyak rumah sakit swasta yang jadi pilihan, saat melayani pasien malah seringkali bikin penyakit mereka naik stadium. Kalau tidak ada ojek online, jangan-jangan sedulur tukang becak tetap suka balapan dan nyebrang sak senenge dewe membahayakan penumpang. Sama dengan kantor-kantor yang berhak membuat KTP, pelayanan pajak, atau kantor apa saja, karena ndak boleh ditangani oleh swasta, petugasnya sering lupa kalau sudah dibayar untuk melayani rakyat.”
“Ya pemerintah yang ndak genah, gus” ujar Cak Jono ahirnya.
“Harusnya tegas melarang ojek online untuk melindungi rakyat kecil,” sambungnya.
“Lha wong tukang ojeknya juga rakyat kecil, kok, cak,” timpal Cak Kape.
“Dak ilok, Cak Jono, jangan maiduh pemerintah terus. Pemerintah itu sudah pusing memikirkan pembangunan. Lihat itu, objek-objek yang masih bagus saja dirusak untuk dibangun lagi. Lha apa ndak pusing ngarang LPJ proyek?” kata Gus Hasyim.
“Di lain sisi inna lillahi ada ojek online. Tapi juga bisa Alhamdulillah biar rakyat bisa mendapat pelayanan angkutan yang cepat, murah dan efisien. Hikmahnya, sedulur tukang becak dan sedulur sopir angkot harus meningkatkan pelayanan biar bisa bersaing secara sehat.” Cak Jono terlihat legowo dengan solusi Gus Hasyim. Buktinya, kopinya yang sudah kecemplungan laler ia minum juga. (***).

















