Jember, Kabarpas.com – Korban jiwa dalam tragedi berdarah di Desa/Kecamatan Umbulsari pada selasa malam kemarin bertambah setelah sang pelaku, Imam Nurhakiki dikabarkan meninggal dunia pada Rabu (11/6/2025) malam, di tengah perawatan medis di rumah sakit.
Informasi meninggalnya Imam beredar luas di tengah masyarakat setempat. Khoirul, salah satu warga mengatakan, dia telah mengonfirmasi kabar tersebut ke pihak keluarga yakni keponakan Imam.
“Katanya keponakannya, meninggal tadi malam sekitar jam 8 di rumah sakit,” tuturnya.
Khoirul menambahkan, Imam yang menenteng clurit setelah membaca beberapa orang terpaksa dilumpuhkan dengan tembakan oleh polisi karena melakukan perlawanan ketika akan ditangkap.
Setelah berhasil dilumpuhkan, Imam dilarikan ke rumah sakit untuk menjalani perawatan medis.
“Rencananya pelaku mau dioperasi di rumah sakit karena tertembak bagian perutnya kata keponakannya. Keluarga juga diminta menyiapkan uang 50 juta untuk operasi, tapi keluarga pasrah karena tidak punya uang segitu,” imbuh Khoirul tanpa menyebut pihak yang meminta uang operasi.
Sementara, Kasat Reskrim Polres Jember AKP Angga Riatma sebelumnya mengatakan, polisi terpaksa melakukan tindakan tegas terukur karena pelaku mengancam nyawa petugas dengan senjata tajam.
Motif peristiwa tersebut pun tidak terungkap sampai sekarang sebab, pelaku yang terluka tembak masih menjalani perawatan.
“Kami masih mendalami motifnya, pelaku belum bisa diminta keterangan karena masih dirawat di IGD rumah sakit Soebandi,” kata Angga.
Sementara, di lingkungan masyarakat setempat mulai tersebar alasan pelaku melakukan pembacokan. Diduga pelaku emosi lantaran tidak diajak bekerja oleh majikannya (Armanu) di penjagalan sapi ketika banyak order penyembelihan hewan kurban.
Kendati demikian, Angga tidak mau berspekulasi. Dia menyatakan, tetap akan menelusuri langsung keterangan dari mulut pelaku.
Selain itu, kata Angga, polisi juga akan melakukan pemeriksaan kejiwaan terhadap pelaku yang rupanya tak segan membacok tiga keluarganya pada peristiwa tersebut.
Perlu diketahui, kronologi kejadian diawali ketika pelaku Imam Nurhakiki (27) mendatangi rumah majikannya, Armanu. Pelaku yang menenteng clurit langsung membacok Armanu dari belakang sehingga menyebabkan dia meninggal di tempat.
Kemudian, Imam Syafii (52) yang tak lain ayahnya sendiri juga ditebas setelah mencoba menghadangnya yang masih pegang clurit. Akibat luka tebasan yang sangat dalam membuat Imam harus kehilangan nyawa.
Paman pelaku, Sanimin(67), tak luput dari sasaran amukan. Kondisinya kini kritis setelah menerima sabetan clurit di kepala.
Korban terakhir adalah Farida, istri pelaku. Wanita berusia 23 tahun itu sempat terlibat cekcok dengan suaminya sampai pada akhirnya turut menjadi korban.
Farida yang tengah hamil 8 bulan kini kondisinya kritis dan menjalani perawatan darurat di rumah sakit. (dan/ian).

















