Menu

Mode Gelap
Wujudkan Mimpi Pebasket Muda Jatim, MPM Honda Jatim Gelar Honda DBL 2023 East Java Series Dukungan Mas Dion Maju Cabup Pasuruan 2024 Kian Masif

Pojokan · 21 Jan 2018

Pilkada dan Bisnis Jual Beli Suara


Pilkada dan Bisnis Jual Beli Suara Perbesar

Oleh : Abdur Rozak

KABARPAS.COM – BAGI orang kreatif, apa saja bisa dijual. Apalagi kalau ia penganut paham komunisme sekaligus atheisme, masa depan rakyat pun akan diperjual belikan.

Para pelanggan warung Cak Suep, rata-rata adalah orang kreatif yang bisa jualan apa saja, meski masih dibatas kewajaran para makelar jelata. Cak Kape misalnya, mulai motor bekas, genting bekas hingga wedus ia makelari. Apa saja dilakoninya demi mencari nafkah buat anak-istri karena pemerintah belum ada tanda-tanda punya niat baik mensejahterakan para jelata seperti dirinya.

Cak Murtado, entah bagaimana, malah lebih ekstrim lagi kalau makelaran. Gayanya mirip raja tega penjual nasib bangsa. Maka menjelang musim pilkada begini, Cak Murtado sibuk ngalah-ngalahi calon kepala daerah yang hendak nyalon.

Meski pilkada masih kurang beberapa bulan, Namun Cak Murtado sudah jarang pulang dan makin sering bolos mengajar. Kepala sekolah tidak bisa berbuat banyak karena status Cak Murtado hanya pekerja rodi, eh guru swasta. Cak Murtado mulai konsolidasi di warung-warung kopi sampai bosan orang mencatat bon-bonannya. Siang malam sibuk membidik calon dengan amunisi terbanyak untuk ditawarinya jasa: pengepul suara.

Meski hanya punya satu KTP, itupun KTP sementara, Cak Murtado bisa menawarkan jasanya kepada calon kepala daerah di seantero Indonesia Raya, karena ia termasuk salah satu kordinator badan pengadaan suara pemilu. Jaringannya luas meliputi para makelar suara, jurkam black campain, distributor serangan fajar hingga dukun lintrik yang bisa membuat orang linglung sementara ketika berada di TPS.

Semakin dekat pilkada, ia juga bekerja sama dengan LSM, wartawan serta para aktivis lainnya untuk mengarahkan opini publik, menjelek-jelekkan calon lain sekaligus memuji-muji calon satunya lagi. Dan baik atau buruknya track record seorang calon, bisa diatur sesuai harga dengan nego tipis-tipis.

Pernah suatu kali Gus Hasyim mengingatkan Cak Murtado supaya hati-hati sedikit kalau mencari klien pengguna jasa mekelarnya. “Cak, ndak bisa ta makelari calon yang agak baik, biar rakyat ndak makin dirugikan?” kata Gus Hasyim.

“Di dunia makelar, kalau terlalu idealis bisa kaliren, gus. Lagi pula repot juga sih, orang sebaik apapun, kalau ndak punya amunisi ndak akan dipilih,” kilah Cak Murtado.

“Ini ya gara-gara kita mendidik masyarakat untuk begitu.”

Makanya, saat ini warung Cak Suep berubah menjadi kantor para tim sukses calon kepala daerah karena para makelar selalu berkumpul di sana seraya merundingkan tarif jasa makelar, eh tim sukses.

“Cak, ini nanti kita sendiri lho yang rugi. Kalau sampai calon kurang pokro yang jadi, kita juga ketiban awu anget,” tegur Cak Kape mengingatkan.

“Sssst, jangan bilang-bilang lho ya, saya sendiri juga punya misi, cak.” kilah Cak Murtado.

“Apa?” Cak Kape heran.

“Mensejahterakan rakyat!” tandas Cak Murtado

“Halah, pret.”

“Resikonya terlalu besar, cak. Rakyat akan terus menganggap money politik itu ndak haram. Dan pendidikan politik akan terus gagal karena rakyat terus pragmatis.” Benar juga pendapat Cak Kape.

“Bagaimana kalau kita makelaran lainnya saja?”

“Sesekali para calon digoda, cak. Biar ndak keterusan melestarikan budaya yang kurang baik ini. Barangkali, dengan kekalahan calon yang mengandalkan amunisi, kelak orang berpikir seribu kali buat nyalon dengan mendalkan serangan fajar.” Mungkin karena terlalu sering mencicipi uang syubhat, Cak Murtado selalu ngeyel jika dinasehati.

“Ya wis cak, saya sudah mengingatkan sampeyan lho. Kalau nanti sampeyan kuwalat calon peserta pilkada yang sampeyan kerjai, saya ndak ikut-ikut,” tegas Cak Kape. (***).

Artikel ini telah dibaca 142 kali

Baca Lainnya

Tarekat Sang Musnid Dunia

17 Mei 2026 - 10:08

Jaminan Stabilitas Kepemimpinan Prabowo di Tengah Turbulensi Politik

2 Mei 2026 - 18:25

Belajar Persahabatan Sejati dari Rais Aam PBNU

24 Maret 2026 - 09:18

Antara Asmara, Semangat Kuliah, dan IPK Mahasiswa

6 Februari 2026 - 11:13

Wajah Perempuan NU Abad ke-2

31 Januari 2026 - 06:19

Kepala Daerah, Waktunya Berbenah dan Menambah BUMD

9 Januari 2026 - 18:45

Trending di Kabar Terkini