Oleh : Boby D. Januar (jurnalis)
KABARPAS.COM – INDONESIA memiliki angka kekerasan massa yang besar. Dan berbeda dengan negara-negara lain, angka kekerasan massa–yang seringnya berujung jadi pembunuhan ini–bergerak naik seiring meningkatnya kestabilan politik. Beberapa faktor penyebab adalah kemiskinan dan kurangnya rasa percaya pada aparat.
Seperti yang terjadi Minggu (10/5/2020) malam di Desa Krembung Sidoarojo. Ada tiga pemuda tertangkap warga setelah melakukan aksi jambret HP Apesnya aksi mereka ini diketahui oleh sang pemiliknya.
Sontak saja, sang pemilik langsung berteriak hingga mengundang warga untuk berdatangan dan berjibaku menangkap dan mengeroyok ketiga pemuda jambret tersebut.
Massa yang marah mengeroyok dan memukulnya hingga dikabarkan satu dari tiga pemuda jambret tersebut mati secara mengenaskan.
Pengeroyokan itu menjadi salah satu dari ratusan pembunuhan sadis di seluruh Indonesia dalam beberapa tahun terakhir, menyoroti tren brutal yang didorong oleh meningkatnya konservatisme agama dan rendahnya keyakinan pada sistem peradilan yang penuh dengan korupsi.
Kekerasan massa juga telah diperburuk oleh meningkatnya urbanisasi yang menyatukan orang-orang dari seluruh negara Asia Tenggara di lingkungan yang seringnya miskin, penuh sesak, meningkatkan tingkat stres dan memicu ketidakpercayaan.
Hukuman mati tanpa pengadilan ini seakan mengingatkan kembali pada pembunuhan Muhammad al-Zahra yang berusia 30 tahun yang dibakar karena diduga mencuri amplifier masjid di daerah Bekasi, di saat penonton bersorak dan merekam adegan itu di hape seluler mereka.
Korban yang sehari-harinya bekerja menjadi tukang reparasi elektronik memohon ampun dan bersikeras bahwa dia bukan pencuri, massa hiruk pikuk menuangkan bensin ke seluruh tubuh dan mengambil nyawanya.
Meskipun kekerasan massa biasanya bergaris lurus dengan kekacauan sosial dan politik di Indonesia, yang telah beralih ke demokrasi yang stabil selama dua dekade terakhir telah melawan tren itu.
“Lebih banyak stabilitas institusional dan lebih banyak (kekerasan)—dua hal ini tidak berjalan bersama di belahan dunia lain.”
Tak sedikit dari anak-anak muda yang ikut menyerang dalam insiden pejambretan oleh tiga pemuda itu. Mereka seakan merasa bangga dan puas akan perilaku bar – bar tersebut. Bahkan, mereka tak sungkan-sungkan mempublikasikanya lewat sosial media dengan caption puas dan bangga akan matinya salah satu dari tiga pemuda yang diduga jambret tersebut.
Pihak berwenang mengatakan meningkatnya tindakan main hakim sendiri merupakan wujud dari brutalnya masyarakat Indonesia alih-alih refleksi dari kegagalan mereka dalam memberikan keadilan.
Insiden ini menunjukkan bahwa sistem sosial tidak berfungsi dengan baik. Untuk kita perlu mempromosikan rasa saling kerja sama dan rasa saling menghormati terhadap pihak yang berwenang mengenai kewajiban mereka menangani angka kejahatan. (***).

















