Menu

Mode Gelap
Wujudkan Mimpi Pebasket Muda Jatim, MPM Honda Jatim Gelar Honda DBL 2023 East Java Series Dukungan Mas Dion Maju Cabup Pasuruan 2024 Kian Masif

Pojokan · 29 Apr 2020

Tetap Tangguh Menjadi Kartini di Tengah Pandemi


Tetap Tangguh Menjadi Kartini di Tengah Pandemi Perbesar

Oleh: Diana Manzila

 

Kabarpas.com – Karena momenya masih  berada di bulan April, tentu ingatan kita tak lupa bahwa pada tanggal 21 April 2020 lalu, kita telah memperingati Hari Kartini. Nah, untuk mengetahui sejauh mana ketangguhan para kaum hawa menjadi seorang “Kartini” di tengah pandemi corona yang saat ini melanda seantero negeri. Berikut sedikit catatan saya untuk dulur Kabarpas.com, semoga bermanfaat untuk semuanya.

“Banyak Hal yang bisa Menjatuhkanmu, tapi satu satunya hal yang benar-benar dapat Menjatuhkanmu adalah Sikapmu sendiri”, – RA Kartini

Quote tersebut adalah salah satu statemen favorit penulis yang pernah Kartini tuliskrisi ekonomi dalam surat Kartini pada sahabatnya Stella. Yah, benar saja harus kita akui bersama saat ini, Kartini bukan hanyak sosok Pahlawan, atau Ningrat Jepara yang kita elu-elukan sebagai pembawa bendera kesetaraan.

Tapi juga harus pula kita sematkan bahwa Kartini adalah Spirit bersama untuk menghapus kesenjangan, ketidakadilan, ketimpangan, dan menjadi penerang dikala masa-masa gelap yang tak menentu seperti saat ini, masa pandemi covid- 19. Trus apa hubungannya dengan pernyataan Kartini diatas? Yah ditengah wabah yang tak hanya menimpa Indonesia, sikap kita akan menjadi penentu. Kita akan menjadi penguat sesama atau menjadi manusia unfaedah yang tak hentinya mencari kambing hitam atas banyaknya korban.

Spirit Kartini

Umum kita ketahui, Kartini lahir dari keluarga terpandang dan dalam kungkungan budaya feodal yang amat lekat. Tak banyak tentunya manusia yang lahir dilingkungan privilege namun dengan segala gegap gempita kemewahan dunia menyerukan suara-suara “Kemanusiaan”. Nah, spirit itu yang harus kita gaungkan pada saat-saat sulit seperti ini, saling menguatkan, saling support baik materi atau non materi.

Saat Pandemi yang mencekam semua orang, pahlawan kemanusiaan saat ini adalah para tenaga medis, namun Dokter dan Perawat amat sangat rapuh jika harus berdiri sendiri, jiwa kemanusiaan kita saat ini sangat diuji. Mau gagah-gagah-an, mendahulukan keperluan pribadi dengan memborong sembako di supermarket, atau belanja seadanya demi menjaga stabil nya pasokan pangan. Mau egois melanggar aturan-aturan pemerintah dan menyalahkan para penguasa atas terjadinya bencana atau kita menjalankan segala bentuk upaya yang ada untuk memutus rantai penularan wabah. Mau sombong sok sehat berkeliaran ke mana-mana atau komitmen menjalin solidaritas untuk tetap di rumah.

Pilihan-pilihan itu ada pada setiap dari kita, tinggal kita mau menghadirkan diri kita sebagai siapa dan mengambil bagian yang mana untuk memerangi virus corona, persis seperti apa yang disampaikan Kartini berulang-ulang sikap kitalah sebagai penentu.

Sudah 213 Negara di dunia terinfeksi virus baru yang belum ditemukan obatnya, panik, kelaparan, dan bertambahnya warga miskin baru kian meningkat setiap harinya, sulit? pasti tapi wabah ini akan bisa kita lalui dengan cara kerjasama yang kuat.

Berbicara perihal dampak, agaknya baik laki-laki dan perempuan harus kembali membicarakan ulang pembagian kerja dengan beralihnya work from the office menjadi work from home. Patut, kita akui bersama, Kartini dengan gagah bukan hanya membicarakan akses pendidikan yang sama untuk perempuan, namun juga equal dalam pekerjaan domestic dan publik. Tentu dengan keadaan sulit seperti ini, pekerjaan dan juga kebosanan #dirumahaja dirasakan oleh laki-laki atau perempuan.

Lagi-lagi, spirit Kartini saat ini harus kita implementasikan dalam dunia nyata bukan hanya simbol hari besar saja. Karena, jika kesenjangan pekerjaan domestic saat ada atau tidak ada Pandemi masih ada, kesetaraan dan kerjasama dalam biduk rumah tangga tidak akan di dapat, padahal saat pandemi seperti ini haruslah kita mendahulukan kerja smart, kerjasama, empati yang kuat, saling support dan saling berpegang tangan erat.

Kesenjangan atau pembagian kerja yang tidak proposional atau tidak diatur ulang saat pandemi ini akan menciptakan luka baru bagi perempuan, yakni beban ganda atau double burden, dia harus masih bekerja work from home dan mengurus segala pekerjaan rumah tangga atau domestik. Maka alangkah sangat baiknya jika, sama-sama work from home dan juga saling memikul pekerjaan lainnya. Toh, sejatinya pekerjaan rumah tangga bukan kodrat perempuan, membantu mengurus anak dan membersihkan rumah tidak akan menjatuhkan apapun dari seseorang bernama suami. Dengan kerjasama yang hebat, dan meyemai semangat Kartini saat Pandemi akan mencitakan relation yang baik dalam. (***).

 

*Warga Pasuruan, Pegiat Komunitas Perempuan Bergerak, dan sedang belajar di Komunitas Gusdurian Malang.

Artikel ini telah dibaca 32 kali

Baca Lainnya

Tarekat Sang Musnid Dunia

17 Mei 2026 - 10:08

Jaminan Stabilitas Kepemimpinan Prabowo di Tengah Turbulensi Politik

2 Mei 2026 - 18:25

Belajar Persahabatan Sejati dari Rais Aam PBNU

24 Maret 2026 - 09:18

Antara Asmara, Semangat Kuliah, dan IPK Mahasiswa

6 Februari 2026 - 11:13

Wajah Perempuan NU Abad ke-2

31 Januari 2026 - 06:19

Kepala Daerah, Waktunya Berbenah dan Menambah BUMD

9 Januari 2026 - 18:45

Trending di Kabar Terkini