Jember, Kabarpas.com – Pendapatan Asli Daerah (PAD) Jember resmi melampaui angka Rp1 triliun, menempatkan daerah ini di peringkat lima dari 38 kabupaten/kota se-Jawa Timur dan tertinggi di wilayah Karesidenan Besuki (Sekarkijang).
Capaian tersebut menjadi sorotan karena diraih tanpa menaikkan tarif pajak maupun retribusi. Pemerintah Kabupaten Jember justru menempuh pendekatan sebaliknya, yakni melalui pemberian insentif fiskal yang terukur di tengah kebijakan efisiensi anggaran nasional.
Bupati Jember Muhammad Fawait menegaskan, kebijakan fiskal daerah tidak boleh dibangun dengan cara membebani masyarakat.
“Pajak dan retribusi tidak boleh menjadi alat yang mencekik rakyat. Justru harus dikelola sebagai instrumen untuk membangun kesejahteraan,” kata Fawait.
Selama setahun terakhir, Pemkab Jember menerapkan sejumlah kebijakan insentif, di antaranya penurunan retribusi pasar, penggratisan retribusi parkir pada periode tertentu, serta pengurangan dan pembebasan pajak pada momentum strategis. Langkah ini dilakukan di saat banyak daerah memilih menaikkan tarif demi menutup kebutuhan anggaran.
Menurut Fawait, kebijakan tersebut tidak diambil secara instan, melainkan berbasis data dan kajian ekonomi.
“Kami hitung dampaknya terhadap pergerakan ekonomi dan kepatuhan wajib pajak. Ketika masyarakat diberi ruang bernapas, aktivitas ekonomi meningkat, dan PAD justru ikut tumbuh,” ujarnya.
Kepala Badan Pendapatan Daerah (Bapenda) Kabupaten Jember, Achmad Imam Fauzi, menyebut peningkatan PAD bukan terjadi secara kebetulan. Ia menilai kebijakan insentif fiskal yang tepat sasaran justru mendorong kepatuhan dan memperluas basis penerimaan.
“Yang naik bukan tarifnya, tetapi partisipasi wajib pajak dan aktivitas ekonominya,” ujar Imam Fauzi, Selasa (22/1/2026).
Selain kebijakan fiskal, faktor lain yang berkontribusi adalah penguatan koordinasi lintas Organisasi Perangkat Daerah (OPD) penghasil PAD. Pemerintah daerah mendorong integrasi kerja agar target pendapatan tidak dibebankan pada satu sektor semata.
“Target PAD adalah tanggung jawab bersama. Tidak boleh ada ego sektoral,” kata Fawait.
Dengan capaian tersebut, Jember kini berada di jajaran daerah dengan kinerja fiskal tertinggi di Jawa Timur. Torehan ini mencerminkan perubahan pendekatan pengelolaan pendapatan daerah yang menitikberatkan pada pertumbuhan ekonomi dan kepatuhan, bukan sekadar peningkatan tarif. (dan/ian).

















