Menu

Mode Gelap
Wujudkan Mimpi Pebasket Muda Jatim, MPM Honda Jatim Gelar Honda DBL 2023 East Java Series Dukungan Mas Dion Maju Cabup Pasuruan 2024 Kian Masif

KABAR NUSANTARA · 20 Apr 2026

Jangan Bela ASN, Jika Soal Kemiskinan


Jangan Bela ASN, Jika Soal Kemiskinan Perbesar

Oleh: Andi Saputra (Direktur Eksekutif PAR Alternatif Lembaga Riset Hukum dan Politik)

KABARPAS.COM – SAYA mengetahui persoalan ini sejak kemarin. Dua kawan ASN saya mengeluh soal turun lapang Verfak data kemiskinan. di tempat ngopi kami memperpanjang debat sampai jam 2 malam.

Posisi ASN sebagai kelompok tengah, aman. Bagi saya tidak layak mengeluh urusan sepele, apalagi ini soal mendatata kemiskinan. Soal tata kelola dan metode Verfal boleh kita berdebat, tapi membela ASN dalam hal ini tentu tidak akan saya lakukan. Mari kita urai sederhana.

Penolakan sebagian kecil ASN di Kabupaten Jember untuk terjun langsung dalam verifikasi data kemiskinan tidak bisa dibaca sekadar sebagai soal disiplin birokrasi.

Terlebih ketika penolakan itu datang dari sebagian kecil kalangan guru dengan alasan tidak ada uang transport, medan yang sulit, jarak yang jauh, serta dalih tidak sesuai dengan tugas pokok.

Di permukaan, ini tampak sebagai persoalan teknis. Namun pada lapisan yang lebih dalam, ini mencerminkan problem sikap kelas menengah dalam birokrasi.

Negara, dalam hal ini Pemkab Jember pada praktiknya, bekerja melalui instrumen administratif untuk mengelola dan menentukan siapa yang berhak atas akses bantuan.

Verifikasi data kemiskinan bukan sekadar kerja teknis, tetapi fondasi dari distribusi keadilan sosial. Ketika proses ini terhambat, yang terganggu bukan sekadar prosedur, melainkan akses kelompok miskin terhadap hak-hak dasarnya.

Di titik ini, alasan yang diajukan menjadi sulit dibenarkan. Ketiadaan uang transport, medan sulit, dan jarak jauh memang persoalan nyata, (tapi ini minor juga )tetapi justru itulah realitas yang setiap hari dihadapi oleh kelompok miskin yang sedang didata.

Menolak turun ke lapangan dengan alasan tersebut menunjukkan adanya jarak pengalaman sosial yang lebar antara aparatur dan warga yang dilayani.

Dalih “bukan tupoksi” mempertegas kecenderungan birokrasi yang berlindung di balik batas formal, alih-alih menjawab kebutuhan riil di masyarakat.

Guru, sebagai bagian dari kelas menengah birokrasi, berada pada posisi yang relatif aman secara ekonomi dan sosial dibanding kelompok miskin yang menjadi objek verifikasi.

Ketika posisi ini digunakan untuk menolak kerja lapangan yang justru menyangkut nasib kelompok rentan, maka penolakan itu bukan lagi sekadar soal beban kerja, melainkan bentuk penghindaran tanggung jawab sosial.

Masalahnya, sikap semacam ini berkontribusi langsung pada ketimpangan. Verifikasi data yang tidak berjalan optimal akan menghasilkan kebijakan yang tidak akurat.

Dan seperti biasa, yang pertama kali terdampak adalah mereka yang paling lemah mereka yang bahkan tidak punya ruang untuk menolak keadaan.

Karena itu, penolakan ini tidak layak dibela. Kritik terhadap kebijakan tetap diperlukan, terutama jika menyangkut perbaikan sistem dan dukungan operasional. Namun menjadikan alasan teknis sebagai dasar untuk menarik diri dari kerja sosial yang krusial hanya memperlihatkan kegagalan birokrasi memahami perannya sendiri. Dalam situasi seperti ini, yang dibutuhkan bukan perlindungan terhadap kenyamanan aparatur, melainkan keberpihakan nyata pada mereka yang hidup dalam kondisi paling rentan. (dan/ian).

Artikel ini telah dibaca 246 kali

Baca Lainnya

Donor Darah SMK Muhammadiyah 1 Kepanjen, Wujud Kolaborasi Sekolah dan Keluarga untuk Kemanusiaan

22 Juni 2026 - 11:55

Konsumen Honda PCX160 Malang dan Blitar Pererat Kebersamaan Keluarga Lewat PCX160 Bikers Playland di Prigen

22 Juni 2026 - 11:50

Hapkido Jember Bawa Pulang 8 Medali dari Banyuwangi, Pelatih Bidik Prestasi Lebih Tinggi

22 Juni 2026 - 10:27

Supervisi 209 Dapur MBG di Jember Rampung, Bupati Fawait Sebut Administrasi Mulai Tertib

21 Juni 2026 - 15:13

Pemkab Jember Ajukan Enam Raperda, Klaim Ekonomi 2025 Tumbuh di Atas Jatim dan Nasional

21 Juni 2026 - 15:11

Bupati Jember Nilai Aksi Dukungan MBG Jadi Bukti Demokrasi Berjalan: Perbedaan Aspirasi Harus Dihormati

21 Juni 2026 - 13:34

Trending di KABAR NUSANTARA