Menu

Mode Gelap
Wujudkan Mimpi Pebasket Muda Jatim, MPM Honda Jatim Gelar Honda DBL 2023 East Java Series Dukungan Mas Dion Maju Cabup Pasuruan 2024 Kian Masif

Peristiwa · 18 Mei 2026

Dima Akhyar dan Jalan Panjang dari Sales Motor ke Direksi PDP Kahyangan


Dima Akhyar dan Jalan Panjang dari Sales Motor ke Direksi PDP Kahyangan Perbesar

Jember, Kabarpas.com – Malam itu, sehari setelah dirinya dilantik sebagai Direktur Umum dan Keuangan Perumda Perkebunan Kahyangan Jember, pada Rabu (13/5/2026), Dima Akhyar datang dengan pakaian kasual dan senyum santai.

Tidak ada kesan pejabat perusahaan daerah yang kaku dari pria berkacamata itu. Segelas jus alpukat diletakkan di atas meja membuka percakapan dari sisi Dima.

“Saya cuma mau mewujudkan Jember yang rasional,” ungkapnya.

Kalimat itu terdengar sederhana. Tetapi perjalanan hidup Dima jauh dari sederhana.

Ia lahir dari keluarga pendidik. Ayah dan ibunya sama-sama guru sekolah dasar. Dari garis keluarga ayah, ia tumbuh dalam kultur Madura yang kuat. Sementara dari pihak ibu, ia mengenal tradisi keulamaan. Sosok yang paling membekas dalam hidupnya adalah sang kakek, Kiai Haji Danil Adimenggala, ulama sepuh Jember yang ikut menggagas pembangunan Masjid Jami’ Baitul Amin.

Di rumah sang kakek, Dima kecil akrab dengan buku. Rak-rak penuh bacaan agama berdampingan dengan literatur umum berbahasa asing. Hampir semuanya ia baca.

“Semua saya baca. Tapi paling suka novel,” ujarnya sambil tertawa kecil.

Kebiasaan membaca membuat pola pikirnya terbentuk sejak dini. Namun Dima mengaku hidup tak selalu berjalan sesuai teori yang dibaca di buku.

Meski tumbuh di keluarga berkecukupan. Seingatnya, ada enam mobil di rumah saat kecil. Hidup Dima berubah ketika dewasa.

Setelah menempuh pendidikan di Yayasan Al-Furqon dan Fakultas Hukum Universitas Jember, ia aktif di berbagai organisasi mahasiswa seperti IPM, HMI, hingga IMM.

Saat itu, Dima muda mengaku sangat idealis.

“Dulu saya menganut paham kanan dan sangat idealis,” tuturnya.

Namun idealisme mulai berbenturan dengan kenyataan ketika ia memutuskan menikah muda saat masih kuliah semester delapan.

Keputusan itu membuat hidupnya berubah total. Ia harus segera bekerja untuk menghidupi keluarga kecilnya.

“Yang penting cepat lulus dan bertanggung jawab pada istri,” ujarnya.

Berbagai pekerjaan dijalani. Mulai menjual buku sekolah, asuransi, hingga menjadi sales motor Suzuki pada 1996 dengan gaji sekitar Rp125 ribu per bulan.

Baginya, dunia sales adalah sekolah hidup yang paling keras.

“Bayangkan, aktivis, sarjana hukum, idealis, ternyata harus jual motor dari rumah ke rumah,” kenangnya.

Tetapi justru dari sana mentalnya terbentuk. Ia belajar menghadapi penolakan dan memahami karakter orang. Dalam waktu singkat, Dima menjadi salah satu top sales Suzuki. Ia bahkan pernah menjual 33 motor dalam sebulan, pada masa ketika sistem kredit kendaraan belum seramai sekarang.

Prestasinya membuat ia dipercaya membuka dealer baru di Bondowoso. Namun krisis ekonomi 1998 kemudian menghantam dunia otomotif. Dima memilih mundur ketika perusahaan mulai melakukan efisiensi pegawai.

“Hati saya bergejolak. Saya ingin keluar baik-baik,” katanya.

Selepas itu, hidupnya kembali naik turun. Ia sempat menjadi pendamping petani pada era Presiden B.J. Habibie, belajar langsung soal pertanian dan kehidupan masyarakat desa. Ia juga pernah bekerja di perusahaan leasing dan material bangunan.

Salah satu pengalaman paling berat datang ketika menjadi kolektor kendaraan leasing.

“Kalau sekarang mungkin istilahnya preman berdasi,” katanya sambil tertawa.

Tetapi titik paling sulit dalam hidupnya justru datang dari keluarganya sendiri.

Saat anak pertamanya lahir melalui operasi sesar, Dima mengaku sama sekali tidak memiliki uang untuk membayar biaya rumah sakit.

Ia masih mengingat malam ketika duduk sendiri di Masjid Rumah Sakit Kaliwates.

“Rumah sakit bilang besok boleh pulang, artinya saya harus bayar. Dan saya enggak punya uang sama sekali,” kenangnya.

Peristiwa itu menjadi titik balik dalam hidupnya.

“Saya bilang ke diri sendiri, enggak boleh kayak gini terus.”

Sejak saat itu, kerja keras baginya bukan lagi soal ambisi pribadi, tetapi tanggung jawab terhadap keluarga.

Memasuki 2005, Dima mulai membangun usaha sendiri di bidang material bangunan, konstruksi, hingga konveksi. Dari sana, jaringan bisnis dan relasinya berkembang luas.

Namun dunia politik kemudian menarik perhatiannya. Awalnya ia aktif dalam forum-forum diskusi aktivis dan demokrasi lokal di Jember. Pada 2013 hingga 2016, ia menjadi pengawas pemilu sebelum akhirnya bergabung dengan Partai Golkar menjelang 2020.

“Di politik hampir semua portofolio sudah saya jalani. Yang belum cuma partai,” tandasnya.

Meski aktif di politik, Dima mengaku tidak nyaman dengan politik yang terlalu personal dan penuh permusuhan.

“Pandangan politik ya pandangan politik. Berteman tetap bisa,” ujarnya.

Ia menilai persoalan terbesar Jember bukan sekadar soal anggaran atau birokrasi, tetapi pola pikir masyarakat yang masih terlalu pragmatis.

“Value jadi sesuatu yang mewah,” katanya.

Dima menyebut Jember sebagai “raksasa yang tertidur”, daerah dengan potensi besar tetapi belum benar-benar bergerak maju.

Kini, setelah dipercaya menjadi Direktur Umum dan Keuangan PDP Kahyangan, ritme hidupnya mulai berubah. Hari-harinya diisi rapat dan laporan perusahaan daerah. Tetapi di luar itu, ia tetap menikmati hidup dengan sederhana seperti membaca buku, berdiskusi, hingga memasak.

“Saya suka eksplorasi di dapur,” terangnya dengan canda.

Baginya, sukses tidak lagi identik dengan jabatan atau kemewahan.

“Sukses itu tenang,” ujarnya.

Menjelang akhir percakapan, Dima sempat terdiam ketika ditanya soal kekuasaan.

“Kekuasaan itu dihisab,” ucapnya singkat.

Bagi Dima, jabatan bukan sekadar posisi. Selalu ada konsekuensi yang harus dipertanggungjawabkan dari setiap pilihan hidup manusia. (dan/ian).

Artikel ini telah dibaca 1 kali

Baca Lainnya

Direksi Baru PDP Kahyangan Pilih Sertijab Sederhana: Kami Ingin Menjaga Perasaan Buruh

18 Mei 2026 - 14:25

Jago #cari Aman bersama Honda BeAT, Berkendara Nyaman untuk Mobilitas Harian di Kota Malang

18 Mei 2026 - 10:55

Andika Mahesa Pukau Ribuan Peserta Jaladri Run 6.4K di Yon Zipur 10 Pasuruan

15 Mei 2026 - 23:09

PPPK Jember Sebut Perhatian Pemkab terhadap Guru Lebih Baik dari Daerah Lain 

15 Mei 2026 - 19:33

Pemkab Jember Dorong Integrasi Layanan Dasar Lewat Penguatan TP PKK, Posyandu, dan Bunda PAUD

12 Mei 2026 - 19:39

Pj Sekda Baru Jember Diminta Kawal Akselerasi Pembangunan dan Program Nasional 

12 Mei 2026 - 19:37

Trending di Peristiwa