Jombang, Kabarpas.com — Ma’had Aly Hasyim Asy’ari Tebuireng Jombang kembali memperluas jejaring akademik internasional melalui penyelenggaraan International Webinar on Hadith Studies and Hadith Memorization bekerja sama dengan Institute of Tahfiz and Islamic Turath Research and Education (i-Furqan), Universiti Pendidikan Sultan Idris (UPSI), Perak, Malaysia, pada Selasa, 23 Juni 2026. Kegiatan yang dilaksanakan secara daring melalui Google Meet ini diikuti oleh 121 peserta dari Indonesia dan Malaysia, yang terdiri atas dosen, mahasiswa, mahasantri, serta calon guru agama.
Webinar internasional ini menghadirkan dua narasumber, yakni Dr. Rusni Mohamad, Pensyarah Hadis Institut Penyelidikan Tahfiz dan Turath Islami (i-Furqan) UPSI Malaysia, serta Dr. Ahmad Ubaydi Hasbillah, S.Th.I., M.A., Muhadlir Ma’had Aly Hasyim Asy’ari Tebuireng Jombang. Kegiatan ini menjadi bagian dari kerja sama akademik kedua lembaga sekaligus penguatan mutu pembelajaran pada mata kuliah hadis di kedua institusi.
Menjadi Ruang Bertukar Pengalaman Pembelajaran Hadis
Dalam sambutannya, Dr. Rusni Mohamad menjelaskan bahwa webinar ini diselenggarakan sebagai bagian dari penguatan proses pembelajaran mahasiswa UPSI, khususnya mahasiswa yang sedang menempuh mata kuliah Pengajian Hadis dan Ulum al-Quran wa Ulum al-Hadis.
Menurutnya, para mahasiswa Malaysia yang kelak akan menjadi guru-guru agama perlu mengenal bagaimana pembelajaran hadis berkembang di Indonesia, terutama di lingkungan pesantren.
“Program ini amat bermanfaat kepada mahasiswa kami, khususnya bakal-bakal guru Pendidikan Islam, supaya mereka dapat memahami bagaimana pengajian hadis dibangunkan di Indonesia. Tradisi keilmuan pesantren yang diamalkan di Ma’had Aly Hasyim Asy’ari Tebuireng memperlihatkan satu model pendidikan hadis yang sangat mantap.” ungkapnya.
Dr. Rusni juga mengaku kagum terhadap kurikulum dan ekosistem pembelajaran hadis yang diterapkan di Ma’had Aly Hasyim Asy’ari Tebuireng. Menurutnya, sistem pembelajaran yang memadukan penguasaan kitab-kitab turats, hafalan hadis, kajian metodologis, hingga penelitian ilmiah merupakan model yang sangat kuat dalam membentuk kader ulama hadis.
Ia secara khusus memberikan apresiasi terhadap tradisi hafalan hadis yang diterapkan di Ma’had Aly, di mana para mahasantri tidak hanya mempelajari teori ilmu hadis, tetapi juga menghafalkan ratusan hadis dari Kutub al-Sittah sebagai bagian dari proses pembelajaran yang sistematis.
Pesantren Indonesia Tampilkan Wajah Pembelajaran Hadis yang Unik
Pada kesempatan tersebut, Dr. Ahmad Ubaydi Hasbillah memaparkan materi bertajuk “The Future of Hadith Learning in the Digital Era: Indonesian Experiences in Preserving Tradition and Embracing Innovation.”
Dalam paparannya, ia menjelaskan bahwa Indonesia memiliki ekosistem pembelajaran hadis yang sangat lengkap, mulai dari madrasah, pesantren, pendidikan diniyah, perguruan tinggi keagamaan Islam, hingga Ma’had Aly sebagai pendidikan tinggi khas pesantren yang berorientasi pada pengkaderan ulama.
Menurutnya, kekuatan utama pembelajaran hadis di Indonesia terletak pada tradisi ngaji, yaitu proses pembelajaran mendalam (deep learning) yang mengintegrasikan hafalan, pemahaman, talaqqi, sanad keilmuan, penelitian, serta pengembangan ilmu melalui kajian kitab-kitab turats.
“Era digital tidak boleh menghilangkan ruh pembelajaran hadis. Artificial Intelligence adalah alat bantu, bukan otoritas keilmuan. Yang tetap menjadi fondasi adalah sanad, metodologi ilmu hadis, tradisi talaqqi, dan kemampuan berpikir kritis,” tegasnya.
Ia juga memperkenalkan berbagai metode khas pesantren dalam pembelajaran hadis, seperti sorogan, bandongan, talaqqi, mudzakarah, musyawarah, munazharah, bahtsul masa’il, daurah, pasaran Ramadan, hingga qira’ah sardan, yang hingga kini tetap menjadi tradisi akademik pesantren di Indonesia.
Demonstrasi Lalaran Baiquniyah Memikat Peserta Malaysia
Salah satu sesi yang paling menarik perhatian peserta adalah ketika Dr. Ahmad Ubaydi mendemonstrasikan tradisi lalaran nazham ilmu hadis, yaitu pembacaan Manzhumah al-Baiquniyyah dengan irama khas santri Indonesia.
Tradisi ini merupakan metode pembelajaran pesantren yang memadukan hafalan, seni, dan kecintaan terhadap ilmu sehingga memudahkan santri menguasai materi-materi dasar ilmu hadis.
Demonstrasi tersebut mendapat sambutan hangat dari seluruh peserta webinar. Bahkan, pada akhir acara, dua mahasiswa UPSI Malaysia secara sukarela mencoba melantunkan Manzhumah al-Baiquniyyah dengan gaya lalaran ala santri Indonesia, yang disambut antusias oleh seluruh peserta.
Momen tersebut menjadi simbol indah terjadinya pertukaran budaya akademik antara Indonesia dan Malaysia dalam bidang studi hadis.
Menuju Poros Pembelajaran Hadis Dunia
Menutup paparannya, Dr. Ahmad Ubaydi menegaskan bahwa kerja sama ini tidak boleh berhenti pada satu kegiatan webinar semata.
Menurutnya, Indonesia dan Malaysia memiliki modal akademik yang sangat besar untuk bersama-sama menjadi pusat pengembangan pembelajaran hadis di tingkat dunia.
“Saya berharap kegiatan ini bukan menjadi yang pertama sekaligus terakhir. Kita perlu memperkuat kolaborasi akademik melalui riset bersama, pertukaran mahasiswa dan dosen, konferensi internasional, pengembangan kurikulum, hingga publikasi ilmiah agar keilmuan hadis benar-benar mampu memberikan kontribusi bagi peradaban dunia yang hari ini sangat membutuhkan bimbingan risalah kenabian,” ujarnya.
Ia juga menyampaikan bahwa pembelajaran hadis di Indonesia dan Malaysia memiliki potensi besar untuk menjadi poros pembelajaran hadis dunia di masa depan karena sama-sama bertumpu pada tradisi Ahlussunnah wal Jama’ah, penguasaan turats, serta keterbukaan terhadap inovasi pendidikan.
Pada kesempatan tersebut, Dr. Ahmad Ubaydi turut mengundang para mahasiswa UPSI untuk melanjutkan studi di Program Magister (Marhalah Tsaniyah/M2) Takhassus Ilmu Hadis di Ma’had Aly Hasyim Asy’ari Tebuireng Jombang, yang saat ini telah resmi diselenggarakan. Ia juga menyampaikan optimisme bahwa dalam waktu dekat Ma’had Aly akan membuka Program Doktor (Marhalah Tsalitsah/Dukturah) Ilmu Hadis, sehingga semakin memperkuat peran pesantren Indonesia sebagai pusat pendidikan tinggi hadis berbasis turats.
Memperkuat Persaudaraan Akademik Indonesia–Malaysia
Melalui webinar ini, Ma’had Aly Hasyim Asy’ari Tebuireng dan Universiti Pendidikan Sultan Idris (UPSI) tidak hanya mempererat hubungan kelembagaan, tetapi juga membangun fondasi kerja sama akademik jangka panjang dalam pengembangan studi hadis.
Kolaborasi ini diharapkan menjadi awal lahirnya berbagai program bersama, mulai dari academic mobility, penelitian kolaboratif, pertukaran dosen dan mahasiswa, konferensi internasional, hingga pengembangan pembelajaran hadis berbasis turats yang adaptif terhadap perkembangan teknologi digital.
Dengan demikian, warisan intelektual Nabi Muhammad ﷺ akan terus hidup, berkembang, dan memberikan cahaya bagi peradaban global melalui sinergi keilmuan antara Indonesia dan Malaysia. (np/ian).

















