Pasuruan, Kabarpas.com – Fakultas Teknologi dan Sains (FTS) Universitas PGRI Wiranegara (Uniwara) menggelar seminar kuliah pakar bertajuk “Integrasi Artificial Intelligence (AI) dengan Internet of Things (IoT) untuk Mewujudkan Smart System”. Acara yang diselenggarakan secara daring ini bertujuan untuk membekali mahasiswa dan praktisi agar siap menghadapi akselerasi teknologi masa depan.
Dekan FTS Uniwara, Sapto Hadi Riono, M.Kom., dalam sambutan pembukaannya menekankan pentingnya sinergi antara AI dan IoT di era digital saat ini. Menurutnya, perkembangan teknologi menuntut pemrosesan data yang jauh lebih adaptif.
”AI dan IoT ini adalah yang lagi banyak diperbincangkan ya atau yang lagi nge-hype untuk istilah anak-anak sekarang. Dan IoT itu harus berlandaskan AI sekarang, tidak hanya IoT murni saja. Kenapa? Karena di IoT itu ada data-data yang harus diolah secara cepat sehingga menjadi keputusan dan menjadi efisiensi dalam implementasi, entah itu di bidang pendidikan, industri, maupun kesehatan,” ujar Sapto Hadi Riono.
Ia juga berpesan agar para mahasiswa tidak sekadar menjadi penonton di tengah masifnya perkembangan teknologi, melainkan mampu menjadi motor penggerak inovasi yang solutif bagi masyarakat luas.
Kuliah pakar ini menghadirkan narasumber berkompeten, Dr. Eko Subiantoro, S.Pd., S.ST., M.T., seorang Widyaiswara Ahli Madya dari BBPPMPV BOE (VEDC) Malang. Dalam paparannya, Dr. Eko menyoroti bagaimana AI secara global diprediksi akan mengubah lanskap dunia pendidikan dalam beberapa tahun ke depan menjadi jauh lebih personal, efektif, dan mampu menganalisis kebutuhan belajar tiap individu secara spesifik.
Menanggapi fenomena maraknya penggunaan alat bantu AI berbasis teks seperti ChatGPT di kalangan akademik, Dr. Eko menilai bahwa dunia pendidikan tidak semestinya merespons kemajuan tersebut dengan cara melarang, melainkan dengan mengadaptasi metode pembelajaran dan penilaian.
”Jawaban dari ChatGPT itu adalah sangat komprehensif karena dia mengambil dari beberapa sumber… Kemudian yang harus dirubah apanya? Kira-kira kalau menurut saya yang harus dirubah adalah pola evaluasinya, bukan siswa kita atau mahasiswa dilarang menggunakan ChatGPT. Mungkin pola evaluasinya yang harus dirubah,” ungkap Dr. Eko Subiantoro.
Lebih lanjut, dalam sesi diskusi ia juga menggarisbawahi bahwa tantangan terbesar bagi inovator muda Indonesia saat ini bukanlah bagaimana menciptakan teknologi yang paling canggih atau high-tech, melainkan bagaimana teknologi tersebut membawa dampak yang nyata dalam memecahkan masalah di sekitar mereka.
”Ketika kita bicara membuat sesuatu yang hightech ataupun teknologi, kita cukup di depan laptop tanya ChatGPT sebenarnya dia sudah memberikan apapun yang kita inginkan. Tetapi yang perlu kita butuhkan, Indonesia butuhkan, itu yang berdampak. Berdampak maksudnya kelihatan hasilnya, bisa dipakai beneran, betul-betul ada meng-improve penghasilan dia dan yang lain-lain,” tambah Dr. Eko.
Acara kuliah pakar yang dipandu oleh moderator internal FTS Uniwara ini diakhiri dengan sesi foto bersama serta penutupan formal oleh pembawa acara. Melalui kegiatan akademik ini, FTS Uniwara berharap dapat terus memicu semangat riset, kreativitas, dan lahirnya inovasi-inovasi berbasis smart system demi kemajuan teknologi di Indonesia. (ajo/ian).

















