Jember, Kabarpas.com – Tangan renta itu terangkat pelan ketika beberapa petugas kesehatan memasuki rumah sederhana di Dusun Curah Langsat, Desa Sukamakmur, Kecamatan Ajung, Senin (13/7/2026). Dari atas tempat tidurnya, Tiami (87) hanya mampu menatap mereka dengan sorot mata yang tenang. Empat tahun terakhir, tempat tidur itulah ruang hidupnya.
Usia lanjut dan penyakit kronis membuat Tiami tak lagi mampu berjalan. Riwayat diabetes, hipertensi, serta katarak memaksanya menjalani hari-hari dalam kondisi bedrest. Seluruh aktivitas, mulai dari makan hingga buang air, dilakukan di atas tempat tidur dengan bantuan keluarga.
Bagi Tiami, perjalanan menuju puskesmas bukan lagi pilihan yang mungkin dilakukan. Karena itu, kehadiran petugas Puskesmas Ajung yang rutin datang ke rumah menjadi satu-satunya cara agar kondisi kesehatannya tetap terpantau.
Didin, tenaga kesehatan Puskesmas Ajung menjelaskan bahwa Tiami merupakan peserta Program Pengelolaan Penyakit Kronis (Prolanis) yang mendapatkan pemantauan secara berkala.
“Ibu Tiami usia 87 tahun memiliki riwayat kencing manis, darah tinggi, dan katarak. Sudah bedrest sekitar empat tahun lebih. Aktivitasnya sudah sangat terbatas, tidak bisa berjalan, semua kebutuhan sehari-hari dibantu keluarga,” ujarnya.
Menurutnya, Puskesmas Ajung melakukan pemeriksaan rutin setiap bulan, termasuk pengecekan tekanan darah. Sementara pemeriksaan laboratorium dilakukan setiap enam bulan untuk memantau perkembangan penyakit kronis yang diderita Tiami.
“Beliau pasien rutin. Tidak pernah rawat inap karena kondisinya memang lebih memungkinkan dipantau di rumah. Keluarganya juga memiliki keterbatasan untuk membawa beliau ke puskesmas. Kalau dibawa, nanti siapa yang menjaga di sana,” tuturnya.
Di balik pelayanan itu, ada perjuangan keluarga yang tak selalu terlihat.
Hotijah (57), putri Tiami, mengatakan ibunya mulai mengalami penurunan kondisi sekitar empat tahun lalu. Awalnya masih bisa beraktivitas seperti biasa, hingga suatu ketika terjatuh dan kesehatannya terus menurun.
“Dulu darah tinggi, sempat membaik. Setelah jatuh, kondisinya seperti ini sampai sekarang,” tuturnya.
Selama ibunya menjalani bedrest, ia mengaku hampir tidak pernah membawa Tiami berobat ke puskesmas. Bukan karena enggan, melainkan karena kondisi ibunya tidak memungkinkan untuk dipindahkan.
“Kalau kontrol ke puskesmas tidak. Ibu petugas yang datang ke sini. Jadi sangat terbantu,” tandas Hotijah.
Menurut Hotijah, persoalan bukan hanya soal kendaraan. Ibunya bahkan kesulitan untuk duduk, sehingga perjalanan menuju fasilitas kesehatan menjadi risiko tersendiri.
“Maunya dibawa ke puskesmas, tapi tidak ada kendaraan. Mau dibonceng juga tidak bisa karena duduk saja sudah kesulitan. Saya juga jualan di rumah. Kalau saya tinggal, nanti siapa yang merawat ibu. Jadi adanya petugas yang datang ke rumah benar-benar membantu,” ujarnya.
Kisah Tiami menunjukkan bahwa akses layanan kesehatan tidak selalu diukur dari seberapa dekat jarak puskesmas dengan tempat tinggal warga. Bagi pasien lanjut usia, penyandang disabilitas, maupun penderita penyakit kronis yang mengalami keterbatasan mobilitas, perjalanan beberapa kilometer pun dapat menjadi hambatan yang nyaris mustahil dilalui.
Dalam kondisi seperti itu, layanan kesehatan berbasis kunjungan rumah menjadi jembatan agar kelompok rentan tetap memperoleh pemeriksaan dan pemantauan kesehatan secara berkala tanpa harus meninggalkan rumah.
Bagi keluarga Tiami, kunjungan petugas kesehatan bukan sekadar layanan medis. Kehadiran mereka menghadirkan ketenangan bahwa di tengah keterbatasan usia dan penyakit, masih ada pelayanan yang datang menghampiri mereka. (dan/ian).

















