Menu

Mode Gelap
Wujudkan Mimpi Pebasket Muda Jatim, MPM Honda Jatim Gelar Honda DBL 2023 East Java Series Dukungan Mas Dion Maju Cabup Pasuruan 2024 Kian Masif

KABAR NUSANTARA · 13 Jul 2026

Duduk di Kursi Roda Sejak Bayi, Devi Rasakan Arti Kehadiran Layanan Kesehatan yang Datang ke Rumah


Duduk di Kursi Roda Sejak Bayi, Devi Rasakan Arti Kehadiran Layanan Kesehatan yang Datang ke Rumah Perbesar

Jember, Kabarpas.com – Bagi Devi, perjalanan menuju puskesmas bukan perkara beberapa kilometer. Sejak mengalami polio saat masih bayi, setiap langkah di luar rumah harus dibantu keluarga. Karena itu, ketika tenaga kesehatan datang memeriksa kondisinya di rumah, perempuan 32 tahun asal Desa Sukamakmur, Kecamatan Ajung itu merasa haknya atas layanan kesehatan benar-benar hadir tanpa harus ia perjuangkan sendiri.

Di sanalah pemeriksaan rutin dilakukan mulai dari mengecek kondisi kesehatan hingga memastikan tidak ada keluhan yang memerlukan penanganan lebih lanjut.

Sejak berusia empat bulan, ia mengalami polio yang menyebabkan kemampuan geraknya terbatas. Aktivitas sehari-hari di dalam rumah masih dapat dilakukan, tetapi untuk keluar rumah ia harus bergantung pada bantuan keluarga.

“Kalau aktivitas di rumah masih lancar. Kalau ke luar rumah tidak bisa sendiri. Ke kamar mandi masih bisa, tetapi kalau buang air besar masih perlu bantuan bapak,” kata Devi saat ditemui di rumahnya, Senin (13/7/2026).

Meski memiliki keterbatasan fisik, Devi mengaku bersyukur karena selama ini tidak pernah mengalami penyakit serius yang membuatnya harus sering menjalani perawatan di rumah sakit.

 

Karena itulah, program kunjungan rumah dari Pemkab Jember melalui Puskesmas Ajung menjadi layanan yang sangat berarti baginya. Ia tidak perlu memikirkan bagaimana cara menuju fasilitas kesehatan setiap kali membutuhkan pemeriksaan rutin.

 

Program tersebut menyasar kelompok masyarakat yang kesulitan mengakses pelayanan kesehatan secara langsung, seperti penyandang disabilitas, lanjut usia, orang dengan gangguan jiwa, pasien penyakit kronis, ibu hamil, ibu menyusui, hingga balita dengan kondisi tertentu.

 

Di balik rasa syukurnya atas layanan kesehatan yang semakin dekat, Devi masih menyimpan harapan lain. Ia ingin penyandang disabilitas tidak hanya menjadi penerima layanan, tetapi juga memperoleh kesempatan untuk lebih mandiri melalui program pemberdayaan.

 

“Saya ingin bisa mandiri. Orang tua juga semakin bertambah usia. Saya tidak ingin terus bergantung kepada mereka,” ujarnya.

 

Kepala Puskesmas Ajung, dr. Nur Rakhman Ahadi mengatakan penyandang disabilitas memiliki kondisi yang beragam, mulai dari gangguan sensorik seperti penglihatan dan pendengaran hingga disabilitas motorik akibat amputasi, cacat bawaan, kecelakaan, maupun penyakit seperti polio.

 

Di wilayah kerja Puskesmas Ajung, terdapat sekitar 140 penyandang disabilitas.

 

Menurut Nur Rakhman, warga difabel yang mampu datang secara mandiri tetap mendapatkan pelayanan rawat jalan di puskesmas. Sementara mereka yang memiliki keterbatasan mobilitas akan dikunjungi secara berkala melalui program Integrasi Layanan Primer.

 

“Kunjungan dilakukan secara terjadwal bersamaan dengan kegiatan Integrasi Layanan Primer yang menjangkau semua kelompok usia, mulai dari balita, ibu hamil dan menyusui, sampai lansia,” ucapnya.

 

Kisah Devi memperlihatkan bahwa akses terhadap layanan kesehatan tidak selalu ditentukan oleh ada atau tidaknya puskesmas. Bagi sebagian warga, terutama penyandang disabilitas dan kelompok rentan lainnya, tantangan justru dimulai ketika harus meninggalkan rumah.

 

Karena itu, layanan kesehatan yang mendatangi warga menjadi lebih dari sekadar pemeriksaan medis. Ia menghadirkan akses yang setara bagi mereka yang selama ini terkendala kondisi fisik, jarak, atau keterbatasan ekonomi.

 

Di tengah upaya pemerintah memperluas jangkauan pelayanan kesehatan, model layanan jemput bola seperti ini dapat menjadi salah satu cara memastikan tidak ada warga yang tertinggal hanya karena mereka tidak mampu datang ke fasilitas kesehatan.

Bagi Devi, kunjungan petugas kesehatan mungkin berlangsung tidak lebih dari beberapa puluh menit. Namun perhatian yang datang bersama mereka menghadirkan sesuatu yang jauh lebih lama, keyakinan bahwa keterbatasan bukan alasan untuk kehilangan hak memperoleh layanan kesehatan yang layak. (dan/ian).

Artikel ini telah dibaca 13 kali

Baca Lainnya

Hanung Bramantyo Angkat Tragedi 1965 Jadi Film Horor Lobang Buaya

20 September 2026 - 15:41

POCARI SWEAT Run Bandung 2026: Birukan Bandung di Hari Jadi ke-216

20 September 2026 - 13:52

Cari Aman Bootcamp 2026, MPM Honda Jatim Perkuat Kompetensi Duta Safety Riding di Malang

20 September 2026 - 10:28

Tembakau Paiton VO Probolinggo Resmi Kantongi Sertifikat Indikasi Geografis

19 September 2026 - 22:55

MPM Honda Hadirkan LAKI CODE, Padukan Kreativitas, Modifikasi dan Night Ride di Malang

19 September 2026 - 22:50

Rajin Kejar Pajak, Camat dan Lurah Jember Dijanjikan Promosi

19 September 2026 - 22:47

Trending di KABAR NUSANTARA