Menu

Mode Gelap
Wujudkan Mimpi Pebasket Muda Jatim, MPM Honda Jatim Gelar Honda DBL 2023 East Java Series Dukungan Mas Dion Maju Cabup Pasuruan 2024 Kian Masif

Kabar Otomotif · 16 Jul 2026

Antar Anak Sekolah? Jangan Lupa #Cari_Aman di Setiap Perjalanan


Antar Anak Sekolah? Jangan Lupa #Cari_Aman di Setiap Perjalanan Perbesar

Sidoarjo, Kabarpas.com – Memasuki tahun ajaran baru, aktivitas mengantar anak ke sekolah kembali menjadi rutinitas bagi banyak orang tua. Di tengah meningkatnya mobilitas pada pagi hari, keselamatan berkendara menjadi hal yang tidak boleh diabaikan agar perjalanan menuju sekolah berlangsung aman, nyaman, dan menyenangkan.

Melalui kampanye “Jago Cari_Aman Biar Happy”, PT Mitra Pinasthika Mulia (MPM Honda Jatim) mengajak para orang tua untuk menjadikan momen mengantar anak ke sekolah sebagai kesempatan menanamkan budaya keselamatan berkendara sejak dini.

Hari Setiawan, Instruktur Safety Riding MPM Honda Jatim, mengatakan bahwa keselamatan anak saat berkendara tidak hanya bergantung pada kemampuan pengendara, tetapi juga pada kebiasaan baik yang diterapkan sejak sebelum perjalanan dimulai.

“Saat mengantar anak ke sekolah, jangan terburu-buru karena mengejar waktu. Berangkat lebih awal akan membantu perjalanan lebih tenang dan mengurangi risiko berkendara secara tergesa-gesa. Pastikan anak duduk dengan benar, kedua kaki bertumpu pada footstep, serta selalu gunakan helm yang sesuai ukurannya,” ujar Hari Setiawan.

Hari menambahkan bahwa orang tua perlu memastikan seluruh aspek keselamatan telah dipenuhi sebelum berkendara. Mulai dari menggunakan helm berstandar SNI untuk pengendara maupun anak, memastikan anak dapat duduk dengan stabil dan kedua kaki bertumpu pada footstep, mematuhi rambu lalu lintas dan batas kecepatan, serta menghindari penggunaan ponsel selama berkendara. Selain itu, orang tua juga diimbau untuk menurunkan dan menjemput anak di lokasi yang aman tanpa mengganggu arus lalu lintas maupun membahayakan pengguna jalan lainnya.

Suhari, Marketing Communication & Development Division Head MPM Honda Jatim, mengatakan bahwa kebiasaan orang tua saat berkendara akan menjadi contoh yang melekat bagi anak.

“Perjalanan mengantar anak ke sekolah bukan hanya mengantarkan mereka ke tempat belajar, tetapi juga menjadi momen untuk memberikan teladan tentang pentingnya keselamatan berkendara. Ketika orang tua konsisten menerapkan perilaku #Cari_Aman, anak akan tumbuh dengan pemahaman bahwa keselamatan adalah prioritas dalam setiap perjalanan,” ujar Suhari.

Sebagai bagian dari kampanye #JagoCari_AmanBiarHappy, MPM Honda Jatim terus mengedukasi masyarakat agar menjadikan keselamatan berkendara sebagai kebiasaan sehari-hari. Bagi masyarakat yang ingin meningkatkan pengetahuan dan keterampilan berkendara, MPM Honda Jatim juga membuka kesempatan mengikuti pelatihan di MPM Safety Riding Center, Sedati, Sidoarjo. Dengan didampingi instruktur Safety Riding Honda yang berpengalaman dan tersertifikasi, peserta akan mempelajari teknik berkendara yang aman, benar, dan bertanggung jawab sesuai standar Honda.

Melalui edukasi yang berkelanjutan, MPM Honda Jatim berharap semakin banyak keluarga yang menjadikan keselamatan sebagai budaya dalam setiap perjalanan. Dengan memulai dari hal-hal sederhana, seperti menggunakan perlengkapan berkendara yang lengkap dan mematuhi aturan lalu lintas, setiap orang tua dapat menjadi teladan bagi anak sekaligus mewujudkan perjalanan yang lebih aman, nyaman, dan menyenangkan sesuai semangat #JagoCari_AmanBiarHappy. (dit/ian).

Artikel ini telah dibaca 11 kali

Baca Lainnya

Hanung Bramantyo Angkat Tragedi 1965 Jadi Film Horor Lobang Buaya Sutradara Hanung Bramantyo memilih pendekatan horor untuk mengangkat isu sejarah dan tragedi 1965 dalam film terbarunya, “Lobang Buaya”. Menurut Hanung, horor tidak selalu berkaitan dengan hantu, tetapi juga dapat menggambarkan situasi penuh teror yang dialami masyarakat. Hal itu disampaikan Hanung dalam acara Special Screening film Lubang Buaya yang digelar Adhya Pictures dan Dapur Film bersama Program Studi Televisi dan Film Fakultas Ilmu Budaya Universitas Jember di Kota Cinema Mall, Minggu (20/9/2026). Hanung mengatakan salah satu alasan dirinya mengangkat tema 1965 adalah karena film sejarah dinilai belum banyak menarik perhatian penonton muda. Padahal, menurut dia, sebagian besar penonton bioskop saat ini berasal dari kalangan anak muda. Ia melihat sejumlah film dengan tema kehidupan anak muda mampu memperoleh jumlah penonton besar. Sebaliknya, film yang mengangkat sejarah cenderung memiliki jumlah penonton lebih terbatas. Karena itu, Hanung ingin menggunakan medium film untuk memperkenalkan kembali sejarah kepada generasi muda dengan pendekatan yang lebih dekat dengan selera penonton masa kini. “Saya pengin masyarakat Indonesia, terutama anak muda pecinta film, jangan sampai melupakan sebuah tragedi besar di tahun 1965,” ucap Hanung usai nonton bareng. Menurut dia, peristiwa 1965 tidak semata-mata berkaitan dengan peristiwa penculikan dan pembunuhan sejumlah jenderal di Jakarta. Hanung menilai dampak konflik politik dan ideologi pada periode tersebut juga terjadi di berbagai daerah, termasuk Jawa Timur. Ia menyebut konflik pada masa itu menimbulkan kekerasan dan korban dari berbagai kelompok masyarakat. Karena itu, ia ingin mendorong penonton untuk melihat peristiwa 1965 melalui lebih dari satu perspektif. Hanung juga menekankan pentingnya literasi sejarah. Menurut dia, masyarakat tidak semestinya hanya bergantung pada satu narasi mengenai peristiwa 1965, tetapi juga membaca berbagai buku dan menyaksikan berbagai karya yang membahas peristiwa tersebut dari sudut pandang berbeda. “Jadi tolong jangan percaya pada satu propaganda pemerintah, tapi kita sebagai anak-anak bangsa harus melek literasi,” ujarnya. Pendekatan horor dipilih Hanung karena ia melihat tragedi sejarah tersebut memiliki unsur teror yang kuat. Namun, horor yang dimaksud bukan semata-mata kemunculan hantu atau adegan “jump scare”. Hanung menyebut horor sebagai situasi ketika seseorang berada dalam kondisi penuh tekanan dan ketakutan akibat ancaman yang terjadi di sekitarnya. Menurut dia, kondisi sosial pada 1965 dapat dipahami sebagai situasi horor. Relasi sosial yang sebelumnya normal dapat berubah ketika seseorang dituduh memiliki keterkaitan dengan kelompok tertentu. “Horor itu adalah sebuah genre yang di dalamnya memberikan secara sengaja teror kepada penonton melalui apa pun,” tandasnya. Hanung juga mengaitkan pendekatan tersebut dengan film “Pengkhianatan G30S/PKI” karya Arifin C. Noer. Menurut dia, film tersebut juga menggunakan sejumlah perangkat sinematik yang membangun rasa takut penonton, meski mengangkat peristiwa sejarah. Karena itu, ia merasa pendekatan horor relevan untuk membawa penonton memasuki suasana psikologis sebuah periode sejarah yang penuh ketegangan. Namun, Hanung menyebut Lobang Buaya lebih tepat disebut sebagai drama misteri investigasi ketimbang film horor murni. “Saya menyebutnya lebih suka drama misteri investigasi. Karena buat saya itu lebih pas daripada sekadar horor,” ujarnya. Selain mengangkat tragedi 1965, Hanung mengatakan film tersebut juga membawa isu sosial mengenai praktik yang merugikan masyarakat desa. Ia menyebut konsep “7 Setan Desa” sebagai salah satu pijakan cerita. Istilah tersebut digunakan dalam film untuk menggambarkan kelompok-kelompok yang dianggap meresahkan masyarakat, termasuk birokrat korup, rentenir, dan pihak yang berkepentingan terhadap penguasaan sumber daya. Hanung mengatakan isu tersebut sengaja ditempatkan berdampingan dengan latar sejarah 1965 untuk menghubungkan persoalan masa lalu dengan persoalan sosial yang masih relevan dibicarakan saat ini. Ia juga mengatakan film menjadi medium baginya untuk menyampaikan kegelisahan mengenai kondisi sosial, keagamaan, dan politik. Sebelumnya, Hanung mengangkat isu sosial-keagamaan dalam sejumlah film, termasuk “Tanda Tanya” dan “Perempuan Berkalung Sorban”. “Film itu adalah medium kita untuk speak up, atas kegelisahan saya,” kata dia. Untuk Lobang Buaya, Hanung juga menjanjikan struktur cerita dengan beberapa plot twist. Ia mengatakan pendekatan tersebut banyak dipengaruhi film-film Korea yang menurutnya berani menghadirkan lebih dari satu kejutan dalam sebuah cerita. Sebagai informasi, film Lobang Buaya dijadwalkan mulai tayang di bioskop Indonesia pada 1 Oktober 2026, bertepatan dengan peringatan Hari Kesaktian Pancasila.

20 September 2026 - 15:41

POCARI SWEAT Run Bandung 2026: Birukan Bandung di Hari Jadi ke-216

20 September 2026 - 13:52

Cari Aman Bootcamp 2026, MPM Honda Jatim Perkuat Kompetensi Duta Safety Riding di Malang

20 September 2026 - 10:28

Tembakau Paiton VO Probolinggo Resmi Kantongi Sertifikat Indikasi Geografis

19 September 2026 - 22:55

MPM Honda Hadirkan LAKI CODE, Padukan Kreativitas, Modifikasi dan Night Ride di Malang

19 September 2026 - 22:50

Rajin Kejar Pajak, Camat dan Lurah Jember Dijanjikan Promosi

19 September 2026 - 22:47

Trending di KABAR NUSANTARA