Menu

Mode Gelap
Wujudkan Mimpi Pebasket Muda Jatim, MPM Honda Jatim Gelar Honda DBL 2023 East Java Series Dukungan Mas Dion Maju Cabup Pasuruan 2024 Kian Masif

KABAR NUSANTARA · 17 Jul 2026

Korban Keracunan MBG di Bangsalsari Bertambah, Satgas MBG Pastikan Pengobatan Gratis


Korban Keracunan MBG di Bangsalsari Bertambah, Satgas MBG Pastikan Pengobatan Gratis Perbesar

Jumat, 17 Juli 2026 – 11.36 | 1713 kali dilihat

 

Jember, Kabarpas.com – Dugaan keracunan makanan dalam Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kecamatan Bangsalsari mendorong Pemkab Jember mempercepat penanganan korban. Selain menginspeksi Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Karangsono, Satgas MBG turun langsung ke Puskesmas Sukorejo pada Kamis (16/7/2026) untuk memastikan kondisi pasien dan menjamin seluruh biaya pengobatan ditanggung pemerintah.

Akhmad Helmi Luqman yang mewakili Ketua Satgas MBG Jember mengatakan, berdasarkan keterangan keluarga pasien, makanan yang diterima dalam program MBG tidak menunjukkan tanda-tanda kerusakan saat pertama kali dibuka.

“Waktu ibunya memeriksa makanan itu, tidak ada tanda-tanda yang aneh. Sama sekali tidak bau, tidak basi, dan tidak ada kelainan apa pun pada fisiknya,” tutur Helmi di Puskesmas Sukorejo.

Menurut Helmi, anak tersebut menghabiskan seluruh makanan karena terlihat normal. Namun beberapa jam setelah mengonsumsinya, korban mulai mengalami diare, demam, dan muntah hingga akhirnya dibawa ke puskesmas.

“Setelah beberapa jam, anak ini mulai mengalami diare. Badannya juga sempat panas tinggi, lalu disusul dengan muntah-muntah. Melihat kondisi itu, orang tuanya langsung membawa anak tersebut ke puskesmas terdekat,” tandasnya.

Berdasarkan pemeriksaan awal tenaga kesehatan, sebagian besar pasien datang dengan keluhan gangguan saluran pencernaan yang serupa.

“Secara garis besar, diagnosis sementara dari pihak medis menunjukkan gejala muntaber, muntah dan berak. Sementara untuk penyebab pastinya, tim kesehatan saat ini masih melakukan penyelidikan lebih lanjut,” kata Helmi.

Pemkab Jember, lanjut dia, telah menginstruksikan seluruh fasilitas kesehatan untuk memprioritaskan penanganan korban. Atas arahan Bupati Jember Muhammad Fawait, seluruh biaya pengobatan dipastikan ditanggung pemerintah.

“Sesuai perintah pimpinan, Bapak Bupati, semua biaya pengobatan dijamin gratis tanpa dipungut biaya sepeser pun. Kami juga menekankan kepada kepala puskesmas untuk memprioritaskan penanganan medis para korban,” ujarnya.

Satgas MBG juga meminta Puskesmas Sukorejo melakukan pelacakan aktif terhadap warga yang mengonsumsi makanan pada hari kejadian. Langkah tersebut dilakukan untuk mengantisipasi kemungkinan adanya korban yang belum memeriksakan diri.

“Kami minta tim puskesmas terus melakukan screening di rumah-rumah warga yang kemarin mengonsumsi MBG. Kami juga menginstruksikan agar pasien yang dirawat tidak diperbolehkan pulang terlebih dahulu sebelum kondisi kesehatan mereka benar-benar pulih dan dinyatakan sehat oleh dokter,” tegasnya.

Hingga kini, penyebab pasti dugaan keracunan masih menunggu hasil penyelidikan tim kesehatan. Pemerintah daerah menyatakan akan terus memantau perkembangan kondisi para korban dan berkoordinasi dengan pihak terkait untuk mengungkap sumber kejadian.(dan/ian).

Artikel ini telah dibaca 35 kali

Baca Lainnya

Hanung Bramantyo Angkat Tragedi 1965 Jadi Film Horor Lobang Buaya Sutradara Hanung Bramantyo memilih pendekatan horor untuk mengangkat isu sejarah dan tragedi 1965 dalam film terbarunya, “Lobang Buaya”. Menurut Hanung, horor tidak selalu berkaitan dengan hantu, tetapi juga dapat menggambarkan situasi penuh teror yang dialami masyarakat. Hal itu disampaikan Hanung dalam acara Special Screening film Lubang Buaya yang digelar Adhya Pictures dan Dapur Film bersama Program Studi Televisi dan Film Fakultas Ilmu Budaya Universitas Jember di Kota Cinema Mall, Minggu (20/9/2026). Hanung mengatakan salah satu alasan dirinya mengangkat tema 1965 adalah karena film sejarah dinilai belum banyak menarik perhatian penonton muda. Padahal, menurut dia, sebagian besar penonton bioskop saat ini berasal dari kalangan anak muda. Ia melihat sejumlah film dengan tema kehidupan anak muda mampu memperoleh jumlah penonton besar. Sebaliknya, film yang mengangkat sejarah cenderung memiliki jumlah penonton lebih terbatas. Karena itu, Hanung ingin menggunakan medium film untuk memperkenalkan kembali sejarah kepada generasi muda dengan pendekatan yang lebih dekat dengan selera penonton masa kini. “Saya pengin masyarakat Indonesia, terutama anak muda pecinta film, jangan sampai melupakan sebuah tragedi besar di tahun 1965,” ucap Hanung usai nonton bareng. Menurut dia, peristiwa 1965 tidak semata-mata berkaitan dengan peristiwa penculikan dan pembunuhan sejumlah jenderal di Jakarta. Hanung menilai dampak konflik politik dan ideologi pada periode tersebut juga terjadi di berbagai daerah, termasuk Jawa Timur. Ia menyebut konflik pada masa itu menimbulkan kekerasan dan korban dari berbagai kelompok masyarakat. Karena itu, ia ingin mendorong penonton untuk melihat peristiwa 1965 melalui lebih dari satu perspektif. Hanung juga menekankan pentingnya literasi sejarah. Menurut dia, masyarakat tidak semestinya hanya bergantung pada satu narasi mengenai peristiwa 1965, tetapi juga membaca berbagai buku dan menyaksikan berbagai karya yang membahas peristiwa tersebut dari sudut pandang berbeda. “Jadi tolong jangan percaya pada satu propaganda pemerintah, tapi kita sebagai anak-anak bangsa harus melek literasi,” ujarnya. Pendekatan horor dipilih Hanung karena ia melihat tragedi sejarah tersebut memiliki unsur teror yang kuat. Namun, horor yang dimaksud bukan semata-mata kemunculan hantu atau adegan “jump scare”. Hanung menyebut horor sebagai situasi ketika seseorang berada dalam kondisi penuh tekanan dan ketakutan akibat ancaman yang terjadi di sekitarnya. Menurut dia, kondisi sosial pada 1965 dapat dipahami sebagai situasi horor. Relasi sosial yang sebelumnya normal dapat berubah ketika seseorang dituduh memiliki keterkaitan dengan kelompok tertentu. “Horor itu adalah sebuah genre yang di dalamnya memberikan secara sengaja teror kepada penonton melalui apa pun,” tandasnya. Hanung juga mengaitkan pendekatan tersebut dengan film “Pengkhianatan G30S/PKI” karya Arifin C. Noer. Menurut dia, film tersebut juga menggunakan sejumlah perangkat sinematik yang membangun rasa takut penonton, meski mengangkat peristiwa sejarah. Karena itu, ia merasa pendekatan horor relevan untuk membawa penonton memasuki suasana psikologis sebuah periode sejarah yang penuh ketegangan. Namun, Hanung menyebut Lobang Buaya lebih tepat disebut sebagai drama misteri investigasi ketimbang film horor murni. “Saya menyebutnya lebih suka drama misteri investigasi. Karena buat saya itu lebih pas daripada sekadar horor,” ujarnya. Selain mengangkat tragedi 1965, Hanung mengatakan film tersebut juga membawa isu sosial mengenai praktik yang merugikan masyarakat desa. Ia menyebut konsep “7 Setan Desa” sebagai salah satu pijakan cerita. Istilah tersebut digunakan dalam film untuk menggambarkan kelompok-kelompok yang dianggap meresahkan masyarakat, termasuk birokrat korup, rentenir, dan pihak yang berkepentingan terhadap penguasaan sumber daya. Hanung mengatakan isu tersebut sengaja ditempatkan berdampingan dengan latar sejarah 1965 untuk menghubungkan persoalan masa lalu dengan persoalan sosial yang masih relevan dibicarakan saat ini. Ia juga mengatakan film menjadi medium baginya untuk menyampaikan kegelisahan mengenai kondisi sosial, keagamaan, dan politik. Sebelumnya, Hanung mengangkat isu sosial-keagamaan dalam sejumlah film, termasuk “Tanda Tanya” dan “Perempuan Berkalung Sorban”. “Film itu adalah medium kita untuk speak up, atas kegelisahan saya,” kata dia. Untuk Lobang Buaya, Hanung juga menjanjikan struktur cerita dengan beberapa plot twist. Ia mengatakan pendekatan tersebut banyak dipengaruhi film-film Korea yang menurutnya berani menghadirkan lebih dari satu kejutan dalam sebuah cerita. Sebagai informasi, film Lobang Buaya dijadwalkan mulai tayang di bioskop Indonesia pada 1 Oktober 2026, bertepatan dengan peringatan Hari Kesaktian Pancasila.

20 September 2026 - 15:41

POCARI SWEAT Run Bandung 2026: Birukan Bandung di Hari Jadi ke-216

20 September 2026 - 13:52

Cari Aman Bootcamp 2026, MPM Honda Jatim Perkuat Kompetensi Duta Safety Riding di Malang

20 September 2026 - 10:28

Tembakau Paiton VO Probolinggo Resmi Kantongi Sertifikat Indikasi Geografis

19 September 2026 - 22:55

MPM Honda Hadirkan LAKI CODE, Padukan Kreativitas, Modifikasi dan Night Ride di Malang

19 September 2026 - 22:50

Rajin Kejar Pajak, Camat dan Lurah Jember Dijanjikan Promosi

19 September 2026 - 22:47

Trending di KABAR NUSANTARA