Menu

Mode Gelap
Wujudkan Mimpi Pebasket Muda Jatim, MPM Honda Jatim Gelar Honda DBL 2023 East Java Series Dukungan Mas Dion Maju Cabup Pasuruan 2024 Kian Masif

Kabar Otomotif · 17 Jul 2026

Lulusan TSM Honda Tak Hanya Siap Kerja, Kini Sukses Bangun Bengkel Mandiri


Lulusan TSM Honda Tak Hanya Siap Kerja, Kini Sukses Bangun Bengkel Mandiri Perbesar

Bojonegoro, Kabarpas.com – Lulusan SMK Teknik Sepeda Motor (TSM) Honda tidak hanya memiliki peluang berkarier di jaringan AHASS maupun industri otomotif. Berbekal kompetensi yang diperoleh selama di bangku sekolah, banyak alumni yang kini berhasil membangun usaha bengkel secara mandiri dan menciptakan lapangan pekerjaan bagi masyarakat.

Rudi Setiawan, alumni SMKN 1 Baureno Bojonegoro, dan M. Abdul Latif, alumni SMK Taruna Balen Bojonegoro, merupakan contoh lulusan SMK TSM Honda binaan PT Mitra Pinasthika Mulia (MPM Honda Jatim) yang berhasil membangun usaha bengkel secara mandiri. Berbekal kompetensi yang diperoleh selama menempuh pendidikan, keduanya kini mengembangkan usaha bengkel dan menciptakan lapangan pekerjaan di daerahnya masing-masing.

Dalam perjalanan mengembangkan usahanya, keduanya juga mendapatkan pembinaan melalui Astra Honda Youthpreneurship Program (AHYPP) dari Yayasan Astra Honda Motor (Yayasan AHM), yang memberikan pendampingan mulai dari penguatan manajemen bengkel, pelayanan pelanggan, pengelolaan keuangan, strategi pemasaran, hingga pengembangan model bisnis agar usaha semakin berkembang dan berkelanjutan.

M. Bondan Priyoadi, Technical Service Division Head MPM Honda Jatim, mengatakan bahwa keberhasilan para alumni tersebut menjadi bukti nyata bahwa pendidikan vokasi mampu melahirkan generasi muda yang tidak hanya siap bekerja, tetapi juga mampu menjadi pelaku usaha.

“Program TSM Honda tidak hanya menyiapkan lulusan yang siap bekerja di jaringan AHASS maupun industri otomotif, tetapi juga membekali mereka untuk menjadi wirausaha. Melalui pembinaan AHYPP, alumni mendapatkan pendampingan untuk mengembangkan usahanya. Inilah wujud komitmen MPM Honda Jatim menghadirkan semangat Sinergi Bagi Negeri dengan mencetak lulusan yang kompeten, mandiri, dan mampu menciptakan lapangan pekerjaan,” ujar Bondan.

Rudi Setiawan, alumni SMKN 1 Baureno Bojonegoro sekaligus pemilik bengkel, mengaku bekal kompetensi yang diperoleh selama menempuh pendidikan di TSM Honda menjadi modal penting dalam membangun usahanya. Pendampingan melalui AHYPP juga membantunya mengembangkan usaha agar semakin profesional.

“Selama belajar di TSM Honda, saya tidak hanya mendapatkan keterampilan teknis, tetapi juga dibiasakan dengan budaya kerja industri dan kedisiplinan. Bekal tersebut sangat membantu saat memulai usaha bengkel sendiri. Melalui AHYPP, saya juga belajar bagaimana mengelola usaha dengan lebih baik, mulai dari pelayanan kepada pelanggan hingga pengembangan bisnis. Saya berharap semakin banyak lulusan TSM Honda yang berani membuka usaha sendiri karena peluangnya sangat terbuka,” ungkap Rudi.

Program AHYPP merupakan salah satu bentuk dukungan Yayasan Astra Honda Motor dalam mendorong lahirnya wirausaha muda dari lulusan pendidikan vokasi. Selain mendapatkan pembinaan, para peserta juga memperoleh pendampingan untuk meningkatkan daya saing usaha sehingga mampu memberikan manfaat ekonomi bagi diri sendiri maupun masyarakat di sekitarnya.

Hingga saat ini, terdapat enam alumni SMK binaan MPM Honda Jatim yang mengikuti program AHYPP dan memperoleh pembinaan untuk mengembangkan usaha bengkelnya. Keenam UMKM muda tersebut berasal dari berbagai daerah di Jawa Timur, yaitu Bintang Motor (Ponorogo), Kulon Omah Garage (Malang), Candra Jaya (Pasuruan), Restu Motor (Malang), AD Bengkel Motor (Bojonegoro), dan Reyhan Jaya Motor (Bojonegoro). Keberhasilan mereka menjadi bukti bahwa lulusan TSM Honda tidak hanya siap memasuki dunia kerja, tetapi juga mampu menciptakan lapangan pekerjaan melalui usaha yang dibangun secara mandiri.

“Kami berharap kisah para alumni ini dapat menjadi inspirasi bagi siswa SMK binaan Honda bahwa peluang setelah lulus sangat terbuka. Selain berkarier di industri otomotif, mereka juga memiliki kesempatan menjadi wirausahawan yang mampu membuka lapangan pekerjaan dan memberikan manfaat bagi masyarakat. Semangat Sinergi Bagi Negeri akan terus kami wujudkan melalui pengembangan pendidikan vokasi yang berdampak nyata,” tutup Bondan. (za/ian).

Artikel ini telah dibaca 12 kali

Baca Lainnya

Hanung Bramantyo Angkat Tragedi 1965 Jadi Film Horor Lobang Buaya Sutradara Hanung Bramantyo memilih pendekatan horor untuk mengangkat isu sejarah dan tragedi 1965 dalam film terbarunya, “Lobang Buaya”. Menurut Hanung, horor tidak selalu berkaitan dengan hantu, tetapi juga dapat menggambarkan situasi penuh teror yang dialami masyarakat. Hal itu disampaikan Hanung dalam acara Special Screening film Lubang Buaya yang digelar Adhya Pictures dan Dapur Film bersama Program Studi Televisi dan Film Fakultas Ilmu Budaya Universitas Jember di Kota Cinema Mall, Minggu (20/9/2026). Hanung mengatakan salah satu alasan dirinya mengangkat tema 1965 adalah karena film sejarah dinilai belum banyak menarik perhatian penonton muda. Padahal, menurut dia, sebagian besar penonton bioskop saat ini berasal dari kalangan anak muda. Ia melihat sejumlah film dengan tema kehidupan anak muda mampu memperoleh jumlah penonton besar. Sebaliknya, film yang mengangkat sejarah cenderung memiliki jumlah penonton lebih terbatas. Karena itu, Hanung ingin menggunakan medium film untuk memperkenalkan kembali sejarah kepada generasi muda dengan pendekatan yang lebih dekat dengan selera penonton masa kini. “Saya pengin masyarakat Indonesia, terutama anak muda pecinta film, jangan sampai melupakan sebuah tragedi besar di tahun 1965,” ucap Hanung usai nonton bareng. Menurut dia, peristiwa 1965 tidak semata-mata berkaitan dengan peristiwa penculikan dan pembunuhan sejumlah jenderal di Jakarta. Hanung menilai dampak konflik politik dan ideologi pada periode tersebut juga terjadi di berbagai daerah, termasuk Jawa Timur. Ia menyebut konflik pada masa itu menimbulkan kekerasan dan korban dari berbagai kelompok masyarakat. Karena itu, ia ingin mendorong penonton untuk melihat peristiwa 1965 melalui lebih dari satu perspektif. Hanung juga menekankan pentingnya literasi sejarah. Menurut dia, masyarakat tidak semestinya hanya bergantung pada satu narasi mengenai peristiwa 1965, tetapi juga membaca berbagai buku dan menyaksikan berbagai karya yang membahas peristiwa tersebut dari sudut pandang berbeda. “Jadi tolong jangan percaya pada satu propaganda pemerintah, tapi kita sebagai anak-anak bangsa harus melek literasi,” ujarnya. Pendekatan horor dipilih Hanung karena ia melihat tragedi sejarah tersebut memiliki unsur teror yang kuat. Namun, horor yang dimaksud bukan semata-mata kemunculan hantu atau adegan “jump scare”. Hanung menyebut horor sebagai situasi ketika seseorang berada dalam kondisi penuh tekanan dan ketakutan akibat ancaman yang terjadi di sekitarnya. Menurut dia, kondisi sosial pada 1965 dapat dipahami sebagai situasi horor. Relasi sosial yang sebelumnya normal dapat berubah ketika seseorang dituduh memiliki keterkaitan dengan kelompok tertentu. “Horor itu adalah sebuah genre yang di dalamnya memberikan secara sengaja teror kepada penonton melalui apa pun,” tandasnya. Hanung juga mengaitkan pendekatan tersebut dengan film “Pengkhianatan G30S/PKI” karya Arifin C. Noer. Menurut dia, film tersebut juga menggunakan sejumlah perangkat sinematik yang membangun rasa takut penonton, meski mengangkat peristiwa sejarah. Karena itu, ia merasa pendekatan horor relevan untuk membawa penonton memasuki suasana psikologis sebuah periode sejarah yang penuh ketegangan. Namun, Hanung menyebut Lobang Buaya lebih tepat disebut sebagai drama misteri investigasi ketimbang film horor murni. “Saya menyebutnya lebih suka drama misteri investigasi. Karena buat saya itu lebih pas daripada sekadar horor,” ujarnya. Selain mengangkat tragedi 1965, Hanung mengatakan film tersebut juga membawa isu sosial mengenai praktik yang merugikan masyarakat desa. Ia menyebut konsep “7 Setan Desa” sebagai salah satu pijakan cerita. Istilah tersebut digunakan dalam film untuk menggambarkan kelompok-kelompok yang dianggap meresahkan masyarakat, termasuk birokrat korup, rentenir, dan pihak yang berkepentingan terhadap penguasaan sumber daya. Hanung mengatakan isu tersebut sengaja ditempatkan berdampingan dengan latar sejarah 1965 untuk menghubungkan persoalan masa lalu dengan persoalan sosial yang masih relevan dibicarakan saat ini. Ia juga mengatakan film menjadi medium baginya untuk menyampaikan kegelisahan mengenai kondisi sosial, keagamaan, dan politik. Sebelumnya, Hanung mengangkat isu sosial-keagamaan dalam sejumlah film, termasuk “Tanda Tanya” dan “Perempuan Berkalung Sorban”. “Film itu adalah medium kita untuk speak up, atas kegelisahan saya,” kata dia. Untuk Lobang Buaya, Hanung juga menjanjikan struktur cerita dengan beberapa plot twist. Ia mengatakan pendekatan tersebut banyak dipengaruhi film-film Korea yang menurutnya berani menghadirkan lebih dari satu kejutan dalam sebuah cerita. Sebagai informasi, film Lobang Buaya dijadwalkan mulai tayang di bioskop Indonesia pada 1 Oktober 2026, bertepatan dengan peringatan Hari Kesaktian Pancasila.

20 September 2026 - 15:41

POCARI SWEAT Run Bandung 2026: Birukan Bandung di Hari Jadi ke-216

20 September 2026 - 13:52

Cari Aman Bootcamp 2026, MPM Honda Jatim Perkuat Kompetensi Duta Safety Riding di Malang

20 September 2026 - 10:28

Tembakau Paiton VO Probolinggo Resmi Kantongi Sertifikat Indikasi Geografis

19 September 2026 - 22:55

MPM Honda Hadirkan LAKI CODE, Padukan Kreativitas, Modifikasi dan Night Ride di Malang

19 September 2026 - 22:50

Rajin Kejar Pajak, Camat dan Lurah Jember Dijanjikan Promosi

19 September 2026 - 22:47

Trending di KABAR NUSANTARA