Menu

Mode Gelap
Wujudkan Mimpi Pebasket Muda Jatim, MPM Honda Jatim Gelar Honda DBL 2023 East Java Series Dukungan Mas Dion Maju Cabup Pasuruan 2024 Kian Masif

KABAR NUSANTARA · 18 Jul 2026

Jember Padat Agenda Juli-Agustus 2026, Nobar Final Piala Dunia Jadi Pembuka Rangkaian Event


Jember Padat Agenda Juli-Agustus 2026, Nobar Final Piala Dunia Jadi Pembuka Rangkaian Event Perbesar

Sabtu, 18 Juli 2026 – 08.27 | 1283 kali dilihat

 

Jember, Kabarpas.com – Kabupaten Jember memasuki periode padat agenda sepanjang Juli hingga Agustus 2026. Rangkaian kegiatan akan diawali dengan nonton bareng (nobar) final Piala Dunia di Alun-alun Jember pada 20 Juli, kemudian berlanjut dengan Jember Fashion Carnaval (JFC), Jember Kota Cerutu Indonesia (JKCI), Jember Berselawat, International Jember Marching Carnaval (IJMC), hingga Konser Cinta NKRI dalam rangka peringatan Hari Kemerdekaan RI.

Jadwal tersebut dipaparkan Bupati Jember Muhammad Fawait dalam agenda Pro Gus’e Update di SMP Negeri 1 Jember, Jumat (17/7/2026).

 

Menurutnya, rangkaian event itu tidak hanya menjadi hiburan bagi masyarakat, tetapi juga diharapkan mampu menggerakkan sektor ekonomi, khususnya pelaku usaha informal dan UMKM.

 

Agenda pertama yang digelar adalah nobar final Piala Dunia di Alun-alun Jember pada 20 Juli 2026. Pemkab Jember menyiapkan doorprize bagi masyarakat yang hadir.

 

Fawait mengatakan seluruh warga dipersilakan mengikuti nobar tanpa adanya tempat khusus bagi pejabat maupun tamu undangan.

 

“Tidak ada tempat istimewa, semua duduk di bawah. Tidak ada Bupati, tidak ada Kepala Dinas, semua duduk bareng, berbaur bersama masyarakat Kabupaten Jember,” ujarnya.

 

Setelah itu, akan digelar Jember Fashion Carnaval (JFC) 2026 pada 24-26 Juli. Fawait menyebut event tersebut akan dipromosikan secara maksimal agar gaungnya lebih besar dibanding tahun-tahun sebelumnya.

 

“Di akhir Juli ini, tanggal 24 sampai 26, kita kembali menyelenggarakan Jember Fashion Carnaval. Tahun ini akan kita garap serius dan kita promosikan melalui media maupun media sosial agar pelaksanaannya lebih semarak,” tuturnya.

 

Pada malam puncak JFC, Pemkab juga menjadwalkan pengajian bersama yang menghadirkan KH Kholil Nawawi dari Sidogiri, KH Fahim Ru’yani dari Ploso, dan KH Abdurrahman Al-Kautsar (Gus Kautsar).

 

Selanjutnya, Jember Kota Cerutu Indonesia (JKCI) akan berlangsung pada 31 Juli hingga 1 Agustus sebagai ajang promosi Jember sebagai salah satu daerah penghasil dan eksportir cerutu di Indonesia.

 

Memasuki Agustus, Pemkab akan menggelar Jember Berselawat pada 5 Agustus di Alun-alun Jember dengan menghadirkan KH Raden Ahmad Azaim Ibrahimy beserta keluarga besar Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo.

 

Agenda kemudian berlanjut dengan International Jember Marching Carnaval (IJMC) pada 7-9 Agustus yang diikuti peserta dari berbagai daerah di Indonesia serta delegasi dari Thailand.

 

Rangkaian kegiatan ditutup dengan upacara Hari Kemerdekaan Republik Indonesia pada 17 Agustus, yang pada malam harinya akan dilanjutkan dengan Konser Cinta NKRI. Menurut Fawait, penyanyi Ndarboy Genk dijadwalkan menjadi salah satu pengisi acara.

Fawait berharap seluruh rangkaian agenda tersebut mampu meningkatkan kunjungan ke Jember sekaligus mendorong perputaran ekonomi masyarakat selama musim penyelenggaraan berbagai event. (dan/ian).

Artikel ini telah dibaca 45 kali

Baca Lainnya

Hanung Bramantyo Angkat Tragedi 1965 Jadi Film Horor Lobang Buaya Sutradara Hanung Bramantyo memilih pendekatan horor untuk mengangkat isu sejarah dan tragedi 1965 dalam film terbarunya, “Lobang Buaya”. Menurut Hanung, horor tidak selalu berkaitan dengan hantu, tetapi juga dapat menggambarkan situasi penuh teror yang dialami masyarakat. Hal itu disampaikan Hanung dalam acara Special Screening film Lubang Buaya yang digelar Adhya Pictures dan Dapur Film bersama Program Studi Televisi dan Film Fakultas Ilmu Budaya Universitas Jember di Kota Cinema Mall, Minggu (20/9/2026). Hanung mengatakan salah satu alasan dirinya mengangkat tema 1965 adalah karena film sejarah dinilai belum banyak menarik perhatian penonton muda. Padahal, menurut dia, sebagian besar penonton bioskop saat ini berasal dari kalangan anak muda. Ia melihat sejumlah film dengan tema kehidupan anak muda mampu memperoleh jumlah penonton besar. Sebaliknya, film yang mengangkat sejarah cenderung memiliki jumlah penonton lebih terbatas. Karena itu, Hanung ingin menggunakan medium film untuk memperkenalkan kembali sejarah kepada generasi muda dengan pendekatan yang lebih dekat dengan selera penonton masa kini. “Saya pengin masyarakat Indonesia, terutama anak muda pecinta film, jangan sampai melupakan sebuah tragedi besar di tahun 1965,” ucap Hanung usai nonton bareng. Menurut dia, peristiwa 1965 tidak semata-mata berkaitan dengan peristiwa penculikan dan pembunuhan sejumlah jenderal di Jakarta. Hanung menilai dampak konflik politik dan ideologi pada periode tersebut juga terjadi di berbagai daerah, termasuk Jawa Timur. Ia menyebut konflik pada masa itu menimbulkan kekerasan dan korban dari berbagai kelompok masyarakat. Karena itu, ia ingin mendorong penonton untuk melihat peristiwa 1965 melalui lebih dari satu perspektif. Hanung juga menekankan pentingnya literasi sejarah. Menurut dia, masyarakat tidak semestinya hanya bergantung pada satu narasi mengenai peristiwa 1965, tetapi juga membaca berbagai buku dan menyaksikan berbagai karya yang membahas peristiwa tersebut dari sudut pandang berbeda. “Jadi tolong jangan percaya pada satu propaganda pemerintah, tapi kita sebagai anak-anak bangsa harus melek literasi,” ujarnya. Pendekatan horor dipilih Hanung karena ia melihat tragedi sejarah tersebut memiliki unsur teror yang kuat. Namun, horor yang dimaksud bukan semata-mata kemunculan hantu atau adegan “jump scare”. Hanung menyebut horor sebagai situasi ketika seseorang berada dalam kondisi penuh tekanan dan ketakutan akibat ancaman yang terjadi di sekitarnya. Menurut dia, kondisi sosial pada 1965 dapat dipahami sebagai situasi horor. Relasi sosial yang sebelumnya normal dapat berubah ketika seseorang dituduh memiliki keterkaitan dengan kelompok tertentu. “Horor itu adalah sebuah genre yang di dalamnya memberikan secara sengaja teror kepada penonton melalui apa pun,” tandasnya. Hanung juga mengaitkan pendekatan tersebut dengan film “Pengkhianatan G30S/PKI” karya Arifin C. Noer. Menurut dia, film tersebut juga menggunakan sejumlah perangkat sinematik yang membangun rasa takut penonton, meski mengangkat peristiwa sejarah. Karena itu, ia merasa pendekatan horor relevan untuk membawa penonton memasuki suasana psikologis sebuah periode sejarah yang penuh ketegangan. Namun, Hanung menyebut Lobang Buaya lebih tepat disebut sebagai drama misteri investigasi ketimbang film horor murni. “Saya menyebutnya lebih suka drama misteri investigasi. Karena buat saya itu lebih pas daripada sekadar horor,” ujarnya. Selain mengangkat tragedi 1965, Hanung mengatakan film tersebut juga membawa isu sosial mengenai praktik yang merugikan masyarakat desa. Ia menyebut konsep “7 Setan Desa” sebagai salah satu pijakan cerita. Istilah tersebut digunakan dalam film untuk menggambarkan kelompok-kelompok yang dianggap meresahkan masyarakat, termasuk birokrat korup, rentenir, dan pihak yang berkepentingan terhadap penguasaan sumber daya. Hanung mengatakan isu tersebut sengaja ditempatkan berdampingan dengan latar sejarah 1965 untuk menghubungkan persoalan masa lalu dengan persoalan sosial yang masih relevan dibicarakan saat ini. Ia juga mengatakan film menjadi medium baginya untuk menyampaikan kegelisahan mengenai kondisi sosial, keagamaan, dan politik. Sebelumnya, Hanung mengangkat isu sosial-keagamaan dalam sejumlah film, termasuk “Tanda Tanya” dan “Perempuan Berkalung Sorban”. “Film itu adalah medium kita untuk speak up, atas kegelisahan saya,” kata dia. Untuk Lobang Buaya, Hanung juga menjanjikan struktur cerita dengan beberapa plot twist. Ia mengatakan pendekatan tersebut banyak dipengaruhi film-film Korea yang menurutnya berani menghadirkan lebih dari satu kejutan dalam sebuah cerita. Sebagai informasi, film Lobang Buaya dijadwalkan mulai tayang di bioskop Indonesia pada 1 Oktober 2026, bertepatan dengan peringatan Hari Kesaktian Pancasila.

20 September 2026 - 15:41

POCARI SWEAT Run Bandung 2026: Birukan Bandung di Hari Jadi ke-216

20 September 2026 - 13:52

Cari Aman Bootcamp 2026, MPM Honda Jatim Perkuat Kompetensi Duta Safety Riding di Malang

20 September 2026 - 10:28

Tembakau Paiton VO Probolinggo Resmi Kantongi Sertifikat Indikasi Geografis

19 September 2026 - 22:55

MPM Honda Hadirkan LAKI CODE, Padukan Kreativitas, Modifikasi dan Night Ride di Malang

19 September 2026 - 22:50

Rajin Kejar Pajak, Camat dan Lurah Jember Dijanjikan Promosi

19 September 2026 - 22:47

Trending di KABAR NUSANTARA