Pasuruan, Kabarpas.com – Sektor pertanian tebu di Kabupaten Pasuruan mencatatkan capaian positif dalam memperkuat ketahanan pangan nasional. Hal ini ditandai dengan pelaksanaan Panen Raya Tebu Serentak Nasional yang digelar di 43 titik di seluruh Indonesia, termasuk di Desa Rejoso Kidul, Kecamatan Rejoso, Kabupaten Pasuruan.
Kegiatan di Pasuruan yang merupakan hasil kolaborasi dengan TNI Angkatan Udara (TNI AU) ini menjadi bagian dari agenda nasional yang dibuka secara resmi oleh Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, dari pusat kegiatan di Kabupaten Malang.
Ketua Asosiasi Petani Tebu Rakyat (APTR) Kabupaten Pasuruan, Cholid Mawardi, mengungkapkan kepuasan atas hasil panen tahun ini. Menurutnya, kualitas tebu di wilayah Pasuruan saat ini berada dalam kondisi prima dengan angka rendemen rata-rata mencapai 7.
”Alhamdulillah, kondisi tebu bagus sekarang. Mudah-mudahan sampai akhir masa giling prosesnya betul-betul sesuai dengan harapan,” ujar Cholid.
Cholid merinci bahwa proses penggilingan tebu direncanakan akan berlangsung selama 130 hingga 150 hari ke depan. Pabrik gula di wilayah tersebut ditargetkan mampu memproduksi kurang lebih 200 ton gula setiap harinya.
Secara ekonomi, operasional ini memberikan dampak signifikan bagi daerah. Perputaran uang di Kabupaten Pasuruan selama masa giling diperkirakan mencapai lebih dari Rp 3 miliar per hari.
Terkait kesejahteraan petani, saat ini terdapat sekitar 150 hingga 200 orang yang mengelola lahan tebu seluas 2,4 juta hektar. Ke depan, pihak pengelola berharap adanya dukungan perluasan lahan hingga mencapai 3 juta hektar guna meningkatkan volume produksi secara nasional.
Lebih lanjut, Cholid menekankan pentingnya peran negara dalam menjaga kestabilan pasar gula domestik melalui kebijakan pembatasan impor. Ia menyatakan optimisme tinggi bahwa Indonesia mampu mewujudkan swasembada gula dalam kurun waktu satu tahun ke depan, selama kualitas dan kuantitas produksi dalam negeri terus dijaga. (emn/ian).

















