Jember, Kabarpas.com – Jember dipilih Kementerian Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (KP2MI) sebagai salah satu lokasi pelaksanaan edukasi perlindungan dan migrasi aman dalam rangka mendukung program SMK Go Global.
Pemilihan Jember bukan tanpa alasan. Kabupaten ini merupakan salah satu daerah penyumbang Pekerja Migran Indonesia (PMI) terbesar di Jawa Timur, sehingga dinilai memiliki potensi besar untuk menyiapkan tenaga kerja yang mampu bersaing di pasar global.
Kegiatan tersebut berlangsung di Pendopo Wahyawibawagraha, Kamis (8/10/2026), dengan dihadiri jajaran Pemkab Jember, perwakilan KP2MI, BP3MI Jawa Timur, serta unsur pendidikan dan lembaga pelatihan kerja.
Dalam sambutan Bupati Jember Muhammad Fawait yang dibacakan Pj Sekda Achmad Imam Fauzi, Pemkab Jember menyampaikan apresiasi atas pelaksanaan program tersebut.
Menurutnya, pasar kerja luar negeri terus berkembang dan membuka peluang bagi lulusan sekolah menengah kejuruan (SMK). Namun, peluang tersebut harus diimbangi dengan kompetensi, keterampilan, kemampuan bahasa, sertifikasi, hingga pemahaman budaya dan aturan ketenagakerjaan di negara tujuan.
“Karena itu, peningkatan kapasitas perlu disusun berbasis kebutuhan riil pasar kerja luar negeri agar peserta pelatihan memiliki peluang yang lebih besar untuk ditempatkan,” tutur Fauzi membacakan sambutan Bupati Fawait.
Berdasarkan data KP2MI per 7 Oktober 2026, tercatat sebanyak 1.828 warga Jember bekerja sebagai PMI di luar negeri.
Sebanyak 1.805 PMI berada di kawasan Asia, 16 PMI di Eropa, sedangkan sisanya tersebar di Australia, Afrika, dan Amerika.
Besarnya jumlah PMI asal Jember tersebut menjadi salah satu alasan program SMK Go Global mendapat perhatian khusus di daerah ini.
Program tersebut merupakan program direktif Presiden yang menargetkan peningkatan kapasitas 500.000 calon PMI atau PMI secara bertahap pada 2026-2029.
Untuk Jawa Timur, target pada 2026 mencapai 6.800 orang.
Sementara khusus Jember, pemerintah daerah menargetkan 1.000 tenaga kerja dapat dipersiapkan melalui program SMK Go Global.
“Harapan kami setelah sosialisasi ini dilaksanakan, warga Jember yang akan bergabung dengan program SMK Go Global akan bertambah secara signifikan,” ujar Fauzi.
Saat ini, jumlah warga Jember yang telah mendaftar program tersebut baru mencapai 76 pesert, yang berasal dari batch 1 gelombang 1, 2, dan 3 serta batch 2.
Dalam video yang diputar pada kegiatan tersebut, Bupati Fawait mengatakan program SMK Go Global memberikan peluang bagi lulusan SLTA, khususnya SMK negeri, swasta maupun SMK di lingkungan pondok pesantren untuk memperoleh pekerjaan yang lebih baik di luar negeri.
Menurutnya, persoalan PMI selama ini salah satunya muncul ketika keberangkatan dilakukan secara nonprosedural.
Karena itu, Fawait menilai program SMK Go Global penting karena calon PMI tidak hanya diberikan pelatihan, tetapi juga diarahkan agar dapat berangkat melalui jalur resmi.
“Ketika prosedural, maka itu berangkat secara resmi. Ketika terjadi apa-apa, bisa dilakukan komunikasi antara pemerintah dengan pemerintah,” papar Fawait.
Dia berharap program tersebut dapat menjadi salah satu instrumen pengentasan kemiskinan, terutama bagi masyarakat Jember usia produktif yang berasal dari keluarga kurang mampu.
Calon PMI, kata dia, tidak hanya dipersiapkan untuk bekerja di luar negeri, tetapi juga dikawal hingga proses keberangkatan sehingga memiliki kompetensi dan perlindungan yang lebih baik.
Kepala BP3MI Jawa Timur Kombes Pol Tyas Puji Rahadi mengatakan SMK Go Global dirancang sebagai ekosistem yang terintegrasi.
Rangkaian program tersebut mencakup pemetaan kebutuhan tenaga kerja, penjaringan calon peserta, pelatihan, sertifikasi, job matching, pemenuhan dokumen hingga penempatan.
Dengan mekanisme tersebut, calon PMI diharapkan berangkat dengan kompetensi, sertifikasi, dokumen lengkap serta informasi yang benar mengenai pekerjaan dan negara tujuan.
“Artinya, kita bisa memastikan bahwa anak-anak Jember yang bekerja di luar negeri berangkat dengan kompetensi, sertifikasi, dokumen yang lengkap, informasi yang benar, serta perlindungan yang memadai,” ucapnya.
Tyas juga mendorong SMK di Jember memperkuat kompetensi teknis, bahasa asing, sertifikasi profesi, karakter dan soft skill siswa.
Sebab, kebutuhan pasar kerja global harus menjadi acuan dalam menyiapkan pendidikan dan pelatihan vokasi.
Secara nasional, program SMK Go Global menargetkan 500.000 tenaga kerja dipersiapkan memasuki pasar kerja global selama 2026-2029. Dari jumlah tersebut, 300.000 ditargetkan berasal dari lulusan SMK dan 200.000 dari masyarakat umum.
Dalam program tersebut, pemerintah juga telah memetakan sejumlah negara dan skema penempatan yang dapat menjadi tujuan calon PMI.
Di antaranya Taiwan melalui Special Placement Program to Taiwan (SP2T), Korea Selatan melalui skema Government to Government (G to G), serta Jepang melalui program Specified Skilled Worker (SSW).
Selain itu, terdapat peluang penempatan ke Maladewa, Aljazair dan sejumlah negara Eropa melalui skema P to P, serta Uni Emirat Arab (UEA) khususnya untuk sektor hospitality melalui skema P to P.
Tyas berharap edukasi tersebut dapat mengubah pandangan masyarakat bahwa bekerja ke luar negeri bukan sekadar persoalan mencari pekerjaan, tetapi membutuhkan persiapan kompetensi sekaligus pemahaman mengenai perlindungan hukum.
“Selama dilakukan melalui prosedur yang benar dan dengan kompetensi yang memadai, bekerja ke luar negeri dapat menjadi pilihan masa depan yang baik,” ujarnya.
Bagi Jember, program ini sekaligus menjadi peluang untuk mengubah posisi sebagai salah satu daerah dengan jumlah PMI besar menjadi daerah yang mampu memasok tenaga kerja terampil untuk pasar global secara lebih aman dan terukur. (dan/ian).

















