Jember, Kabarpas.com – Kepercayaan publik menjadi pekerjaan rumah bagi parlemen Indonesia. Ketua Fraksi NasDem DPRD Jember David Handoko Seto menilai momentum Hari Parlemen Nasional yang diperingati setiap 16 Oktober perlu menjadi pengingat bagi para wakil rakyat untuk kembali mendekatkan diri kepada masyarakat.
Menurut David, tugas anggota parlemen tidak cukup hanya menjalankan fungsi legislasi, anggaran, dan pengawasan. Mereka juga perlu hadir secara langsung untuk mendengar keluhan warga, menampung aspirasi, serta membantu mencarikan solusi melalui pemerintah daerah maupun pusat.
“Sesungguhnya fungsi parlemen adalah menjadi penyambung lidah rakyat. Kami berasal dari rakyat, maka harus membawa seluruh aspirasi rakyat dan mengembalikannya untuk kemaslahatan rakyat,” tandas David, Jumat (16/10/2026).
Dia berharap peringatan Hari Parlemen Nasional tidak berhenti sebagai seremoni tahunan. Momentum ini, menurut dia, perlu dimanfaatkan untuk mengevaluasi pelaksanaan tugas-tugas keparlemenan, terutama dalam membangun kembali hubungan antara wakil rakyat dan masyarakat yang diwakilinya.
David menilai kedekatan dengan masyarakat menjadi bagian penting dari pelaksanaan mandat politik. Anggota dewan perlu memastikan aspirasi warga tidak hanya didengar ketika pemilihan umum berlangsung, tetapi juga diperjuangkan setelah mereka memperoleh kursi di parlemen.
David mengakui masih ada masyarakat yang bersikap apatis terhadap parlemen maupun anggota dewan. Salah satu penyebabnya adalah pengalaman warga yang merasa wakil rakyat sulit dijangkau setelah terpilih.
Menurut dia, sebagian anggota legislatif dinilai hanya aktif mendatangi masyarakat ketika membutuhkan dukungan politik, terutama menjelang pemilu. Setelah terpilih, komunikasi dengan konstituen justru tidak selalu terjaga.
“Pada saat membutuhkan saja datang kepada masyarakat. Ketika sudah terpilih dan menjalankan tugas, terkadang tidak lagi mudah dihubungi. Akhirnya muncul stigma negatif dari masyarakat,” ujarnya.
David juga menyinggung dinamika pemilu yang dinilainya turut memengaruhi persepsi masyarakat terhadap lembaga perwakilan. Karena itu, ia mendorong para anggota legislatif, baik di tingkat kabupaten, provinsi, maupun pusat, untuk memperbaiki pola komunikasi dan meningkatkan keberpihakan kepada kepentingan publik.
Baginya, kehadiran anggota dewan di tengah masyarakat harus diwujudkan melalui tindakan nyata. Aspirasi yang diterima perlu ditindaklanjuti, difasilitasi, dan diperjuangkan agar menghasilkan penyelesaian atas persoalan yang dihadapi warga.
Upaya tersebut sekaligus menjadi cara untuk mengembalikan kepercayaan masyarakat terhadap lembaga parlemen.
Dalam sejarahnya, peringatan Hari Parlemen Nasional setiap 16 Oktober berkaitan dengan perkembangan awal sistem perwakilan Indonesia setelah kemerdekaan.
Pada 16 Oktober 1945, Wakil Presiden Mohammad Hatta mengeluarkan Maklumat Wakil Presiden Nomor X. Kebijakan tersebut memberikan kewenangan legislatif kepada Komite Nasional Indonesia Pusat (KNIP), yang semula berfungsi membantu presiden, sekaligus memperkuat perannya dalam penyelenggaraan pemerintahan.
KNIP kemudian menjalankan fungsi yang menyerupai lembaga perwakilan sebelum terbentuknya sistem parlemen seperti yang dikenal saat ini. Peristiwa tersebut menjadi salah satu tonggak penting dalam perkembangan demokrasi dan lembaga perwakilan di Indonesia.
Dalam konteks kekinian, Hari Parlemen menjadi momentum untuk mengingat kembali mandat yang melekat pada lembaga legislatif: menyusun peraturan, membahas dan menetapkan anggaran bersama pemerintah, serta mengawasi pelaksanaan kebijakan publik.
David menilai mandat tersebut perlu berjalan beriringan dengan tugas kemanusiaan dan keberpihakan kepada masyarakat. Ia mengaitkan semangat itu dengan misi restorasi Indonesia yang diusung Partai NasDem, yakni mengembalikan nilai-nilai luhur, adat istiadat, dan semangat kebangsaan.
Menurutnya, nilai-nilai tersebut semestinya tercermin dalam perilaku para wakil rakyat, termasuk melalui kepedulian terhadap persoalan sosial dan kemanusiaan.
“Di momentum Hari Parlemen Nasional Indonesia ini, semuanya perlu diperbaiki dan direstorasi,” tegas David.
David berharap peringatan Hari Parlemen menjadi titik pengingat bagi anggota legislatif untuk memperkuat tanggung jawab kepada konstituen. Dengan begitu, parlemen tidak hanya hadir sebagai lembaga pembuat kebijakan, tetapi juga menjadi ruang bagi masyarakat untuk menyampaikan aspirasi dan memperoleh jalan keluar atas persoalan yang ada. (dan/ian).

















