Oleh: Dr. Tantan Hermansah, Doktor Ilmu Sosiologi Ekonomi Kreatif
(Kabarpas.com) – Industri turisme sebenarnya bisa dikatakan sudah berkembang secara alamiah. Hal ini bisa dilihat dari banyaknya usaha-usaha yang dilakukan sektor privat (swasta) dalam membangun usaha wisata ini. Mereka melakukan segala upaya mulai dari: menciptakan produk yang bisa dijual, memasarkannya, mereproduksi produk agar tetap in dengan tuntutan pasar, dan mengembangkannya. Sebagaimana kita saksikan, banyak dari mereka yang kemudian berguguran meski tidak sedikit juga yang bertumbuh dan semakin kuat.
Tulisan singkat ini ingin berbagi analisis mengenai turisme partisipatif. Di mana pada beberapa aspek, kegiatan turisme partisipatif akan memberikan peran banyak bagi kesejahteraan masyarakat, khususnya dalam memelihara pertumbuhan dan ketahanan ekonomi lokal.
Ekonomi Lokal
Ekonomi lokal yang dimaksud di sini adalah aktivitas ekonomi yang membasiskan sumberdaya utamanya pada sumber-sumber lokal. Sumber-sumber lokal tersebut bisa berupa: warisan budaya, produk hasil tangan-tangan lokal, atau bahkan kegiatan industri ekonomi yang melibatkan banyak sumberdaya lokal.
Masuknya minimarket ke pedesaan, tidak bisa dikatakan sebagai ekonomi lokal. Sebab, minimarket ini justru akan berperan menjadi “penghisap” sumberdaya masyarakat lokal terutama financial, tanpa imbal balik yang pantas bagi warga lokal. Mengapa? Sebab kebanyakan minimarket menggunakan manajemen terpusat yang sama sekali tidak memiliki spirit untuk memberikan ruang bagi ekonomi lokal berpartitipasi dalam sistem manajemennya.
Contoh, produk-produk hasil karya masyarakat setempat tidak akan bisa langsung majang di outlet minimarket tersebut, karena setiap produk yang didisplay harus seijin pusat.
Oleh karena itu, mengharapkan ekonomi lokal, khususnya ekonomi warga desa bisa bertumbuh pada industri tersebut jelas merupakan suatu kesalahan sistemik dan harus ditanggapi secara serius.
Turisme Partisipatif
Mengapa turisme partisipatif bisa menjadi penyangga ekonomi lokal? Berikut beberapa alasan strategis dan sosio-antropologisnya.
Pertama, turisme partisipatif sejatinya berbasis kekhasan dan keunikan daerah destinasi wisata. Di sinilah peluang untuk mengisi peluang tersebut menjadi sumber kesejahteraan baru. Sebab, jika kita melihat perilaku turis semuanya memiliki kemiripan: ingin mengetahui, bahkan jika bisa, dan memiliki pengalaman atau produk khas daerah tersebut. Produk-produk khas tersebut bisa berupa: kerajinan, makanan, busana, lukisan dan gambar, dan sebagainya.
Kedua, para wisatawan kebanyakan ingin merasakan dan mengalami apa yang ada dalam keseharian warga yang dikunjungi. Tentu saja yang dialami itu bukan menjadi seperti ketika mereka ada di tempat tinggalnya, tetapi hal-hal baru yang belum atau jarang dirasakan oleh mereka. Oleh karena itu, budaya seperti “nutu pare” atau menumbuk padi misalnya, akan menjadi pengalaman yang bisa dijual kepada turis melalui pengalaman fisik dan visual.
***
Berangkat dari berbagai pengalaman dan realitas lapangan tersebut, maka sudah saatnya pemerintah memberikan perhatian serius untuk mengelola model turisme partisipatif tersebut. Model turisme partisipatif ini, ke depan, jika dikelola dengan professional, humanis, dan terarah bisa menjadi potensi besar untuk menyejahterakan rakyat. (***/tin).

















