Menu

Mode Gelap
Wujudkan Mimpi Pebasket Muda Jatim, MPM Honda Jatim Gelar Honda DBL 2023 East Java Series Dukungan Mas Dion Maju Cabup Pasuruan 2024 Kian Masif

Pojokan · 25 Mar 2017

Membangun dan Mengembangkan Desa Wisata


Membangun dan Mengembangkan Desa Wisata Perbesar

Oleh: Dr. Tantan Hermansah, (Dosen Sosiologi Ekonomi Kreatif / Konsultan Pengembang Kawasan dan Destinasi Wisata).

(Kabarpas.com) – SUDAH banyak fakta yang menunjukkan bahwa sebuah kawasan wisata, misalnya tingkat desa, memiliki kontribusi yang signifikan kepada kesejahteraan warganya.

Ada beberapa desa, jika harus ditunjukkan, yang cukup sukses menjadikan pariwisata desa sebagai welfare drive warganya, antara lain: Desa Wisata Karanggen di Sleman, Desa Wisata Jatiwuwuh di Tabanan Bali, Kampung Wisata Toddabojo di Sulawesi Selatan, dan Desa Bedono, Demak. Serta di wilayah Kabupaten Pasuruan yang terdapat kampung susu yaitu di Desa Kayukebek, Kecamatan Tutur.

Namun demikian, banyak pihak yang menganggap bahwa membangun desa wisata harus dimulai dengan ide-ide dan modal atau capital besar. Padahal, dalam praktiknya, capital besar tidak selalu menjadi faktor satu-satunya dalam menggerakkan pariwisata berbasis desa.

Tulisan singkat ini akan memberikan beberapa argumen dan dasar tindakan yang bisa diambil bagi siapapun ketika ingin mengembangkan suatu kawasan wisata berbasis desa.

Sebelum menjelaskan langkah-langkahnya, terlebih dahulu akan dijelaskan menganai pembangunan wisata berbasis desa dan warga desa menjadi sangat penting dilakukan. Hal ini didasarkan kepada beberapa alasan berikut:

Pertama, pendekatan pembangunan pariwisata desa harus ditumpukan pada tujuan ingin menyejahterakan warga desa. Oleh karena itu, maka pelaku atau subyek utama dari kegiatan dan program harus warga desa itu sendiri. Jadi karena warga desa adalah pelaku utama, maka mereka bukan lagi penonton, tetapi pemain utamanya.

Kedua, model pembangunan pariwisata seperti ini, dipastikan akan memiliki keuntungan ganda seperti terpeliharanya sumberdaya sosial dan kultural warga desa itu sendiri. Nilai-nilai local dan keaslian warga, akan menjadi nilai tambah dari pariwisata desa, yang dalam jangka panjang akan semakin bermakna bagi warga desa itu sendiri.

Langkah-langkah:

Berangkat dari kebutuhan membangun kerangka aksi turisme partisipatif, berikut adalah beberapa langkahnya, yaitu:

Pertama, penyamaan gagasan antar warga. Semua warga, secara bersama-sama harus diajak untuk menanamkan, membangun dan mengembangkan visi ini dalam berbagai lini kehidupan. Tentu saja ini tidak mudah. Tetapi bukan berarti tidak bisa dilakukan. Oleh karena itu, edukasi tanpa henti dan terus menerus sangat penting sehingga hadir kesadaran bersama.

Kedua, mulailah dari demplot-demplot tertentu. Tetapi dukungan semua pihak mengarah ke sana. Misalnya, jika ada satu kawasan pesawahan yang indah, mengapa tidak dimulai dari titik itu. Kemudian atur peran masing-masing warga untuk ikut menjadi pelaku. Meski bisa jadi peran tersebut menjadi sedikit (karena pembaginya banyak), namun unsur edukasi akan terjadi secara alami.

Ketiga, bangun sistem pengelolaan yang transparan. Hal ini juga tidak mudah. Terlebih jika masalah keuangan atau hasil. Tidak semua orang siap dengan tuntutan tersebut. Namun, transparansi ini mutlak ditempuh agar bisa menjadi jembatan menciptakan trust antar sesama. (***).

Artikel ini telah dibaca 117 kali

Baca Lainnya

Ketika Tradisi Keilmuan Melahirkan Moderasi Beragama

27 Juli 2026 - 07:28

HARI ANAK NASIONAL 2026: Anak Hebat Tidak Lahir dari Gadget, tetapi dari Rumah yang Penuh Teladan

23 Juli 2026 - 06:17

Pesan Kiai Hasyim & KH. Wahab untuk Muktamar NU 2026: Membaca Kembali Pesan Para Muassis

21 Juli 2026 - 08:06

Ilmu Antropologi di Pesantren Terpadu Al-Yasini

11 Juli 2026 - 06:54

Pesantren Al-Hidayah II Banyak Putih: Bukan Sekadar Mengaji, Tapi Membangun Masa Depan

8 Juli 2026 - 17:59

Ilmu Sosiologi di Pesantren Terpadu Al-Yasini

27 Juni 2026 - 07:51

Trending di Kabar Terkini