Reporter: Ajo
Editor: Memey
___________________________________
Jakarta (Kabarpas.com) – Dalam pertemuan yang digelar di rumah Ketua Umum PKB, Muhaimin Iskandar di Jakarta beberapa waktu lalu. Sejumlah tokoh politik hadir dalam acara tersebut untuk membahas berbagai persoalan yang tengah dihadapi bangsa khususnya kegaduhan politik nasional.
Pertemuan yang juga dihadiri oleh Anggota DPR RI Komisi X, Ridwan Hisjam, Sekjen DPP PDI Perjuangan Hasto Kristiyanto, Wakil Ketua Komisi II DPR RI Fraksi PKS Almuzzammil Yusuf, Sekjen Partai Gerindra Ahmad Muzani, Sekjejn DPP PKB Abdul Kadir Karding, Ketua DPP PAN Muhammad Najib, Wakil Ketua Umum Benny Pasaribu, dan beberapa tokoh politik lainnya memikirkan dan merumuskan upayanya dalam menjaga NKRI.
Ridwan Hisjam menyampaikan pendapat tentang perlunya mengembalikan fitrah kebangsaan dan keumatan. Di mana sejak jaman dahulu wilayah nusantara sudah dihuni oleh masyarakat yang beragam dalam segi suku, ras, budaya dan agama. Dan mereka sudah terbiasa hidup berdampingan satu dengan yang lain.
“Para tokoh bangsa, dan elit pemerintahan saat itu sangat memahami filosofi berbangsa dan bernegara, serta memahami secara benar bagaimana beragama di tengah keberagaman,” ujar anggota dewan Fraksi Golkar tersebut kepada Kabarpas.com.
Ridwan melihat, saat ini situasinya terbalik banyak orang yang telah melakukan pengingkaran terhadap empat komitmen kebangsaan itu. Mereka adalah orang-orang yang tidak mengerti sejarah lahirnya negara Indonesia. Agama banyak dijadikan komoditas untuk tujuan jangka pendek oleh oknum tertentu baik yang minoritas maupun mayoritas.
“Dalam sejarah, sebenarnya relasi agama dan negara, relasi agama dan politik sudah ada praktek-praktek terbaiknya. Lihatlah bagaimana para pendahulu kita (ber)-politik (Soekarno, M. Hatta, M. Nasir, Agussalim, Syafruddin Prawiranegara dan lain-lain,” terangnya kepada Kabarpas.com.
Untuk itu, mantan Ketua DPD Golkar Jawa Timur ini menyatakan langka yang harus dilakukan, khususnya oleh para tokoh bangsa, elit pemerintahan, elit politik, dan tokoh agama adalah mengembalikan fitrah kebangsaan dan keummatan ke pangkuan warga negara Indonesia.
“Fitrah kebangsaan adalah gugusan nilai-nilai yang menjadi acuan setiap suku bangsa di Indonesia dan mengakuinya sebagai realitas yang ada di Indonesia untuk dijaga dan dipelihara,” tuturnya kepada Kabarpas.com.
“Adapun fitrah keummatan adalah gugusan nilai-nilai dari setiap ummat beragama dan mengakuinya sebagai realitas yang ada di Indonesia serta berkomitmen untuk tidak dirusak baik oleh yang minoritas maupun mayoritas,” jelasnya kepada Kabarpas.com.
Menurutnya, berbagai polemik dan konflik yang membuat tidak nyaman rasa berbangsa, bernegara dan beragama saat ini, ada kontribusi elit yang lebih besar dibandingkan dengan masyarakat di bawah. Kelompok elit, baik di politik, pemerintahan maupun ekonomi diminta menyudahi deviasi kebangsaan dan keummatannya.
“Setiap elit sejatinya harus jujur terhadap sejarah perjalanan bangsa dan bersikap adil terhadap diri sendiri,” pungkasnya. (ajo/mey).

















