Reporter: Fair Cholis
Editor: Memey
___________________________________
Malang (Kabarpas.com) – Tahun 2018 merupakan tahun perpolitikan. Tidak hanya di Kota Malang, bahkan di beberapa kota juga sudah banyak bermunculan figur-figur politisi sebagai kandidat bakal calon Wali Kota. Dengan background yang berbeda, para kandidat tersebut memiliki visi dan misi untuk membangun kota kebanggaan mereka.
Namun, melihat banyak kandidat yang mendaftar dan juga pengalaman pejabat yang menjadi pimpinan daerah, hampir semuanya dikuasai mereka dengan latar belakang pendidikan, keluarga, serta pekerjaan yang mumpuni. Sehingga tidak sedikit masyarakat yang beranggapan jika yang berhak memangku jabatan sebagai pimpinan daerah hanya mereka yang memiliki modal lebih.
Berbeda dengan Kota Malang, Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) 2018 mendatang menampilkan figur-figur baru dengan latar belakang yang bermacam – macam. Bahkan, salah satu kandidat memiliki background berbeda dengan kandidat pilkada sebelumnya.
Wahyu Eko Setyawan, mendongkrak paradigma politik dikuasai mereka yang memiliki uang dengan mencalonkan dirinya sebagai Wali Kota Malang melalui Tim 5 Partai PDI – Perjuangan.
Pria berusia 36 tahun ini, merupakan anak tukang tambal ban dan berprofesi sebagai koordinator pemulung di wilayah Tunggulwulung.
“Saya bertekad mencalonkan diri sebagai Walikota Malang dengan modal keyakinan yang kuat akan mampu membangun Kota Malang, serta membuktikan untuk mengabdi kepada negara dimulai dengan mengabdi di kota tempat kita tinggal dulu. Dan semua warga negara memiliki hak untuk mengabdikan dirinya menjadi pemimpin daerah, entah bagaimana background keluarganya, pendidikannya setinggi apa dan modalnya berapa. Yang utama adalah dia memiliki visi dan misi yang bagus dan cerdas untuk kotanya,” terang pria yang akrab disapa Sam Wes tersebut.
Selain itu, warga Jalan Kepodang No. 21 Kecamatan Sukun tersebut juga melakukan nazar akan berjalan kaki menuju Ibukota Jakarta untuk menemui Ketua Umum PDI Perjuangan, Megawati Soekarnoputri untuk meminta restu dan wejangan serta rekomendasinya untuk bisa berjuang menjadi Wali Kota Malang.
“Setelah meminta restu orangtua, saya akan melakukan ikhtiar dengan berjalan kaki ke Jakarta menemui Ibu Megawati untuk minta restu dan wejangannya,” imbuh pria kelahiran Mojokerto tersebut kepada Kabarpas.com biro Malang.
Sam Wes juga mengakui, dirinya mencalonkan N1 bermodalkan tiga prinsip yakni tekad, teman dan kuasa tuhan.
“Modalnya hanya tekad yang kuat, restu orangtua dan dukungan penuh dari teman-teman, keluarga dan komunitas yang menjadikan saya yakin untuk mau menjadi pemimpin daerah,” kata pria yang juga penggagas Sekolah Budaya Tunggul Wulung itu.
Sebagai pengepul sampah dan barang bekas, Sarjana Pertanian dari Universitas Brawijaya tersebut tidak canggung bergelut dengan sampah dan bergaul dengan para pemulung.
“Karena banyak berinteraksi dengan masyarakat yang notabene warga tidak mampu di Kota Malang. Serta mendengar keluhan-keluhan para pemulung dan warga lainnya, saya jadi banyak belajar dari mereka. Saya belajar untuk memahami mereka dan apa yang sebenarnya dibutuhkan mereka khususnya warga Kota Malang, dan itu juga salah satu alasan saya untuk maju N1. Mengembangkan ekonomi yang ada di Kota Malang,” tegasnya.
Selain sebagai pengepul dan penggerak budaya, Sam Wes juga aktif dalam komunitas. Dia merupakan salah satu pendiri dari Komunitas Peduli Malang (asli Mala8ng) serta pendiri Komunitas Satru (Solidaritas Rehabilitasi Pengguna Narkoba).
Namun demikian, langkahnya mencalonkan orang nomor satu di Kota Malang ini, sempat menjadi cibiran dan pandangan negatif dari beberapa orang. Pasalnya, tidak sedikit yang meragukan dirinya bisa maju dalam Pilkada 2018 mendatang.
“Wah ya itu tadi karena banyak yang berfikiran politik dikuasai yang punya uang, jadi banyak juga yang mengatakan wong kere kok arep dadi walikota (orang miskin kok mau jadi walikota). Tapi saya punya keyakinan yang kuat untuk maju jadi saya akan tetap ikhtiar untuk bertahan. Bagi saya jika kita mencalonkan dengan uang, maka saat kita menjabat orientasi kita adalah uang, tapi jika berangkat dari keyakinan dan dukungan. Insya Allah niat kita akan berjalan dengan semestinya,” tutup Sam Wes. (air/mey).

















